
Addara termenung di sebuah meja yang berada di kantin kantor tempatnya bekerja, sedari makanan yang dipesannya datang hanya dia mainkan, seolah tidak berminat untuk menyantapnya. Wanita yang sudah cukup dewasa dari segi usia itu, terus memikirkan tentang suaminya dan setiap yang suaminya katakan tadi malam.
Dia masih belum benar-benar percaya, jika ternyata dia dan pemuda itu sudah sering bertemu, bahkan pemuda itu ternyata sudah lama terus memperhatikan dirinya tanpa dia sadari sama sekali.
Jika ditanya bagaimana perasaannya sekarang, setelah mengetahui tentang semua itu. Tentang suaminya yang ternyata sudah memiliki perasaan terhadapnya, tentang pemuda itu yang ternyata sudah menanti waktu untuk mereka bersama dengan jarak waktu yang cukup lama.
Maka jawabannya adalah, tidak tahu ... ya, wanita itu memang benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini terhadap suaminya, setelah mengetahui semua itu. Namun yang jelas ada perasaan yang belum dapat dia simpulkan dalam hatinya itu.
"Dar!" panggilan dari rekan kerjanya yang sedari tadi berada di meja yang sama dengannya, membuat lamunan wanita itu buyar.
"Eh, iya ada apa?" Addara beralih menatap Olivia yang tengah menatapnya dengan heran.
"Kamu kenapa sih, dari tadi aku ngomong kamu malah diam aja. Makanan kamu pun kenapa cuma kamu mainkan aja?" Rentetan pertanyaan itu, Olivia layangkan padanya.
"Emang kamu ngomong apa?" tanya Addara menatap wanita itu sekilas, lalu mulai menyuapkan makanan yang sedari tadi dia mainkan saja.
"Udah lewat, aku gak mood buat ngulang lagi," sahut Olivia memutar matanya malas.
"Oh ya udah, kalau gitu lanjut lagi aja makannya, bentar lagi waktu istirahat habis," ucap Addara santai.
Sementara itu, Olivia mencebikkan bibirnya singkat, karena Addara yang cuek seperti itu. Wanita itu meniup poni yang menutupi keningnya, lalu kembali memakan makanannya.
Selang beberapa menit, mereka saling diam, hingga akhirnya Olivia kembali membuka suara, mengajak Addara untuk mengobrol lagi.
"Oh iya, aku bolehlah main ke tempat tinggalmu, kita makan malam bareng gitu, bosen juga tau, tiap pulang kerja langsung pulang terus."
Addara menatap Olivia dengan bingung, dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak bisa membiarkan orang lain keluar masuk ke tempat tinggalnya begitu saja, tanpa persetujuan suaminya.
"Kenapa kita gak coba main ke tempat lain aja?" tawar Addara yang langsung dijawab gelengan keras oleh si lawan bicaranya.
"Aku juga mau tau tempat tinggalmu sekarang, setelah menikah. Jadi apa salahnya, kalau kamu ngundang aku untuk makan malam sebagai sesama rekan kerja gitu," ujar Olivia.
__ADS_1
"Mau tau tempat tinggalku, atau kamu penasaran sama suami aku?" selidik Addara yang seolah udah tahu isi kepala rekannya itu.
Olivia hanya terkekeh lebar, hingga menampilkan sederet giginya yang gingsul itu. Melihat hal itu, Addara hanya memutar matanya malas.
"Jangan-jangan kamu bibit-bibit pelakor lagi."
"Astaghfirullah, Dar. Ngomongnya jahat banget, masa iya wanita secantik dan seimut aku ini ada tampang bibit-bibit pelakor," sahut Olivia mendramatisir, sambil mengusap dadanya.
"Ya habisnya, semenjak aku nikah kamu sering banget pengen tau tentang kehidupan aku sama suami aku, itu adalah salah satu ciri kalau kamu punya maksud lain pada hubunganku."
"Dar, kamu tau apa yang kamu katakan padaku itu ... benar-benar jahat!"
Melihat tingkah Olivia yang semakin menjadi, membuat Addara bergidik ngeri.
"Aku bukannya memiliki maksud lain, aku hanya ingin tau aja tentang hubunganmu itu. Apalagi beberapa kali aku sering lihat interaksi, antara kamu dan suami kamu, aku dapat melihat tatapan suamimu padamu."
Celoteh Olivia sambil membayangkan setiap kali dia melihat interaksi Calvin pada Addara, meskipun dari jarak yang tidak terlalu dekat, tapi dia dapat melihat tatapan memuja, penuh cinta dari pemuda itu untuk rekan kerjanya.
"Emang ada apa dengan tatapannya padaku?" tanya Addara heran.
"Entahlah." Addara mengangkat bahunya, bukannya dia tidak menyadari hal itu.
Hanya saja dia tidak menyangka jika orang lain, seperti rekannya itu dapat menyadari hal itu juga.
"Sudahlah, lupakan itu. Jadi gimana? Aku bolehkan hari ini pulang kerja mampir ke tempat tinggalmu dan kita makan malam bersama?" tanya Olivia dengan menatapnya penuh harap.
"Aku gak bisa main asal ngiyain aja, aku harus minta pendapat Calvin dulu soal ini, karena aku takutnya nanti dia merasa tidak nyaman jika aku bawa orang lain ke sana," ucap Addara apa adanya.
"Kalau gitu, kamu coba tanyain dulu aja, dia bolehin gak," desak Olivia.
Addara tidak punya alasan untuk menolaknya lagi, dia pun hanya bisa mengangguk, sontak membuat Olivia kembali tersenyum lebar.
__ADS_1
*****
Sementara itu, di sebuah taman yang berada di kampus tempat Calvin menuntut ilmu, sepasang pemuda dan pemudi tengah duduk di bangku yang tersedia di sana. Setelah beberapa menit telah terlewati, mereka berdua sama-sama diam, hahya memperhatikan orang-orang yang berlalulalang di taman itu.
Si pemuda yang sedari tadi menunggu suara dari gadis yang memintanya untuk ikut ke sana dengan mengatakan jika ada yang ingin dia sampaikan, kini mulai jengah karena sudah beberapa menit berlalu, tapi gadis itu tak kunjung bicara.
Sudah dikatakan bukan, jika dia bukan tipe orang yang sabar, jika disuruh menunggu. Lain halnya jika yang ditunggunya adalah istri tercintanya, maka beberapa lama pun, dia tidak akan merasa keberatan untuk menunggu.
"Kalau kamu tidak jadi bicara, sebaiknya aku pergi saja," ucap Calvin sambil berdiri dari tempat duduknya.
Melihat hal itu, gadis yang sejak tadi duduk bersama dengannya pun refleks ikut berdiri, berusaha untuk menghentikan pergerakannya.
"Tunggu, Vin. A—aku mau ngomong sama kamu," ucap Nisha gelagapan.
"Cepatlah," sahut Calvin menatapnya dengan kening mengerut.
"A–aku aku."
Calvin menghela napas sepenuh dada karena Nisha hanya membuang waktunya, sedari tadi perempuan itu tidak juga bicara dan sekarang dia semakin mengulur waktunya, dengan berbicara seperti itu.
"Sebentar lagi waktunya untuk jam pelajaran selanjutnya, aku pergi duluan saja ke kelas."
Karena tidak sabar, Calvin pun memutuskan untuk berbalik dan melangkah, menjauh dari sana, dia tidak ingin membuang-buang waktu lagi hanya untuk berhadapan dengan perempuan itu.
"Calvin, aku suka sama kamu!" ucapan yang cukup lantang dari perempuan itu, membuat langkah pemuda itu secara otomatis terhenti.
Dia sebelumnya memang sudah bisa menebak, hari itu akan tiba, hari dimana perempuan itu akan mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan. Namun, dia sungguh tidak menyangka jika perempuan itu akan mengungkapkan hal itu di depan banyak orang seperti itu.
Dia mematung di tempatnya, dengan posisi yang membelakangi Nisha, entah apa yang ada dalam benak perempuan itu saat ini. Bukankah akan sangat memalukan untuk perempuan itu, jika seandainya dia menolaknya saat ini, terlebih saat ini mereka sudah jadi bahan tontonan.
Calvin tak habis pikir dengan jalan pikiran perempuan itu. Secara perlahan Nisha mulai berjalan mendekati Calvin, dia kemudian berdiri di hadapan pemuda itu, menatapnya dengan tatapan memohon.
__ADS_1
"Iya, aku menyukaimu, Vin. Aku sudah menyukaimu sejak lama, kamu mau kan jadi pacar aku," ucapnya dengan tatapan memohon, agar dirinya bisa menerimanya.
Bisa dibayangkan bagaimana malunya dia, jika Calvin tidak menerimanya saat ini, padahal dia sudah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal itu, meskipun harus di saksikan puluhan pasang mata yang kini tengah menatap mereka dengan penasaran.