
"Boleh aku duduk di sini?"
Calvin yang semula sedang fokus pada ponselnya, mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis berambut panjang dengan poni yang menutupi seluruh keningnya hingga alis, tengah berdiri di depan meja yang didudukinya itu.
Gadis itu tersenyum manis seperti biasa, di tangannya ada nampan yang berisi mangkuk dan gelas yang berisi minuman berwarna merah. Saat ini dia sedang berada di kantin untuk makan siang, sambil menunggu kelas selanjutnya kembali dimulai.
"Duduklah," sahut Calvin dengan singkat dan kembali menatap ponselnya.
Mendengar persetujuan darinya, gadis yang berada di depannya, semakin melebarkan senyumnya. Lantas gadis itu pun mendudukkan dirinya, di kursi yang berada di depan Calvin.
"Di mana Mirza?" tanyanya berusaha membuka topik pembicaraan.
"Dia lagi ke perpus," sahut Calvin tanpa melihat ke arah gadis yang satu fakultas dengannya itu.
"Oh pantesan gak bareng kamu di sini," ucap Nisha manggut-manggut.
Calvin tidak berniat menyahuti, dia mulai memasukkan ponselnya ke saku celana, lalu mulai menyuapkan makanan yang sedari tadi dia abaikan.
Calvin yang fokus pada makanannya, tidak memedulikan sekitar, berbanding terbalik dengan gadis di depannya yang tidak dapat mengalihkan tatapannya dari wajah Calvin.
Gadis itu menatapnya dengan penuh kagum, meskipun tidak pernah mendapat respon dari Calvin. Setiap dia berusaha secara terang-terangan mendekatinya, tapi dia tidak pernah menyerah, selalu berusaha untuk mencari perhatian dari laki-laki pujaannya itu.
"Nanti pas pulang, kamu mau langsung pulang?" Nisha berusaha memulai topik lagi.
Sumpah demi apa pun, dia selalu ingin mendengar suara Calvin yang menurutnya lebih merdu dari alunan musik romantis, juga tatapan pemuda itu yang terkesan dingin, namun dapat meluluhlantakkan hatinya. Agak berlebihan memang, tapi itulah yang selalu gadis itu rasakan ketika berada di dekat Calvin.
Calvin menatapnya sekilas, lalu kembali menyantap makanan di depannya dan menggeleng singkat.
"Tidak, aku ada urusan lain."
"Oh, aku kira kamu punya waktu luang," sahut Nisha yang merupakan pancingan.
Namun, bukan Calvin namanya kalau dia menggubrisnya. Lagi dan lagi gadis itu harus kecewa karena pemuda itu tetap tidak memberikannya celah.
Sudah setahun lebih dia berusaha menunjukkan ketertarikannya pada pemuda itu, tapi dia tidak pernah mendapatkan respon yang baik sama sekali.
Pemuda itu tidak pernah mau melirik ke arahnya, dia selalu bersikap dingin dan hanya menimpali setiap ucapannya seperlunya saja.
Mendapatkan respon yang seperti itu dari Calvin, pada kenyataannya tidak membuat gadis itu mundur. Apalagi dia tahu, pemuda itu bersikap seperti itu tidak hanya padanya, tapi pada setiap orang yang mencoba mendekatinya.
__ADS_1
Jadi dia merasa semkin tertantang untuk menaklukkan pemuda itu, dia yakin jika dia pasti akan menjadi wanita yang paling beruntung, jika seandainya, dia bisa sampai membuat pemuda itu melihat ke arahnya, bahkan menjadi pasangannya.
Membayangkan dia berhasil mendapatkan pemuda itu, membuat dia senang bukan main, meskipun baru membayangkannya saja. Apalagi jika itu sampai menjadi kenyataan, pasti akan banyak orang iri padanya, apalagi di kampus itu, cukup banyak yang menyukai Calvin.
Nisha mengakhiri lamunannya, ketika menyadari jika Calvin kini sudah berdiri dari tempat duduknya dan mengambil tas punggung yang sebelumnya berada di atas meja.
"Kamu sudah selesai," ucap Nisha sambil ikut berdiri.
Calvin hanya menjawabnya dengan anggukan kepala dan berlalu dari sana tanpa mengucapkan apa pun, meninggalkan Nisha yang hanya bisa menghela napasnya, melihat sikapnya itu.
"Sebenarnya gimana caranya sih, biar kamu bisa melihat ke arahku." Nisha bermonolog dengan tatapan lurus pada punggung Calvin yang sudah mulai menghilang dari kantin.
*****
Ketika mata kuliah Calvin selesai dan dosen sudah pergi dari kelas, dia mulai membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
Setiap orang sudah mulai berhamburan keluar dari ruangan, hingga tinggal menyisakan beberapa orang saja yang berada di ruangan itu.
Calvin sudah selesai membereskan barang-barangnya pun, mulai melangkah untuk keluar dari ruangan itu, tapi sebuah suara membuat langkahnya terhenti ketika hampir menggapai pintu.
"Vin!"
Pemuda itu tidak mengeluarkan suara, hanya bertanya melalui sorot mata pada gadis yang barusan memanggilnya.
"Kamu bawa kendaraan pribadi 'kan?"
Calvin mengangguk tanpa minat, dia sepertinya sudah bisa menebak apa maksud, dari gadis itu memanggilnya.
"Emmm, aku boleh nebeng gak? Kebetulan mobil aku lagi di bengkel."
Tepat, sesuai dengan apa yang Calvin perkiraan sebelumnya, maksud dari gadis itu menghentikannya, adalah untuk meminta tumpangan, sekaligus mencari celah untuk bisa dekat dengannya.
Nisha menatapnya dengan penuh harap, dia sangat berharap pemuda itu mau memberikannya tumpangan, biar dia bisa lebih lama dekat dengannya.
"Mir, kamu pulang sendiri 'kan?"
Calvin bukannya menjawab ucapan Nisha, dia malah bertanya pada Mirza yang sudah berdiri di belakang Nisha. Apa yang dilakukannya itu, membuat Nisha mengerutkan keningnya heran.
"Iya, kenapa?" tanya Mirza dengan heran.
__ADS_1
"Kamu mau langsung ke tempat kerja?"
Mirza mengangguk sebagai jawaban dan masih menatapnya dengan heran. Begitu pun dengan Nisha yang semakin, menatapnya dengan heran dan perasaan tidak enak.
"Kebetulan banget, sekalian anterin Nisha pulang. Rumahnya sama tempat kerja kamu 'kan searah, aku masih ada urusan lain," sahut Calvin dan langsung melenggang pergi dari sana dengan santai.
Mirza memutar mata malas, itu sudah pasti alasannya saja yang tidak mau mengantar Nisha. Padahal tempat kerja dia dan Calvin sama, tentu saja dia juga searah dengan gadis itu.
Nisha lagi-lagi harus menelan rasa kecewa dengan penolakan yang secara terang-terangan dari pemuda itu, wajah gadis itu menjadi ditekuk atas penolakan Calvin.
"Ayo aku antarin aja," ajak Mirza yang sedikit tidak tega, melihat ekspresi sedih dari Nisha.
Nisha mau tak mau hanya mengangguk patuh, sudah terlanjur ini jadi ya sudah, dia akhirnya menerima ajakan Mirza itu. Meskipun sebenarnya, dia bisa saja memesan taksi online untuk mengantarnya pulang.
"Mir, sebenarnya Calvin udah punya pacar belum sih?" tanya Nisha di tengah perjalanan menuju ke parkiran, dimana motor Mirza berada.
"Setau aku sih, belum," sahut Mirza.
"Terus, kenapa dia susah banget didekatin?" Nisha mendesah pelan dengan tatapan lurus.
"Mungkin dia belum mau menjalin hubungan," sahut Mirza sekenanya sambil mengangkat bahunya.
"Padahal 'kan aku gak buru-buru, aku cuma mau dekat dulu aja sama dia, gak perlu sekuat tenaga ngehindar gitu," keluh Nisha.
"Mending kamu jangan terlalu berharap deh sama dia," saran Mirza.
Bukan tanpa alasan dia mengatakan hal itu pada Nisha, dia hanya tidak mau gadis itu terus berharap pada Calvin, sementara Calvin sering bilang jika dia sudah menyukai orang lain.
"Kenapa? Apa dia lagi deket sama cewek saat ini?" tanya Nisha penasaran.
"Aku juga gak tau, tapi bisa saja itu alasannya, kenapa dia selalu cuek sama kamu. Itu cuma saranku aja sih."
Nisha semakin penasaran akan hal itu, dia berpendapat jika sebenarnya Calvin saat ini mungkin sedang menyukai orang lain.
"Tapi apa salahnya kalau aku mencoba, lagian siapa tau aja pada akhirnya, dia jadi balik menyukai aku," jawab Nisha yang masih tidak ingin menyerah dan tetap optimistis.
"Ya udah terserah." Mirza memutar matanya jengah mendengar jawabannya itu.
"Ini pakai," sambungnya, memberikan helm ketika mereka sudah sampai di parkiran.
__ADS_1
Akhirnya pembahasan tentang Calvin itu pun selesai sampai di situ, mereka berdua mulai meninggalkan area kampus dengan kendaraan milik Mirza itu.