
Pagi harinya Addara terbangun dari lelapnya, seperti biasa, dia langsung masuk ke kamar mandi membersihkan dirinya dan keluar dari kamar dengan wajah yang segar.
Ketika berada di luar kamarnya, dia melihat ke arah sofa dan melihat suaminya masih terlelap di balik selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada.
Semalam Addara memang sengaja, menyimpan bantal dan selimut untuk pemuda itu pakai ketika pulang, sebelum dia tertidur di kamar.
Wanita itu berjalan dengan perlahan mendekati sofa, dia menatap wajah Calvin dengan seksama. Dalam tidurnya, suami mudanya itu terlihat kelelahan hingga membuat dia tidak tega untuk membangunkannya.
"Dia pulang jam berapa semalam," gumamnya dengan tatapan masih lurus pada wajah tenang Calvin.
Biasanya pemuda itu, selalu terbangun ketika dia keluar dari kamar, tapi kali ini pria itu tampak tidak terusik sama sekali dengan pergekannya itu.
Kening wanita itu kemudian mengerut, ketika melihat baju yang pemuda itu pakai. Ternyata Calvin masih baju yang pagi kemarin dipakainya, hanya jaketnya saja yang sudah tergeletak di meja.
"Dia semalam gak mandi apa?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Addara kemudian mengangkat bahunya dan berpikir jika Calvin mungkin kecapean sampai bisa langsung tidur tanpa mandi atau berganti pakaian terlebih dahulu.
Melihat tidur nyenyak Calvin, Addara merasa ragu untuk membangunkannya, akhirnya dia pun mmemutuskan untuk langsung pergi ke dapur menyiapkan makanan untuk sarapan mereka.
Dia berniat akan membangunkan pemuda itu ketika dia selesai menyiapkan sarapan dan membiarkannya tetap tenang dengan mimpinya.
Wanita yang memiliki wajah baby face itu pun akhirnya menyibukkan dirinya dengan peralatan masak dan bahan-bahan yang diolahnya menjadi menu untuk sarapan dia dan suami.
Setelah selesai dengan kegiatan memasaknya itu dan sarapan untuknya dengan Calvin, Addara pun mulai melangkahkan kakinya menuju sofa, membangunkan suami mudanya yang masih belum bangun.
"Vin," panggilnya dengan nada lembut, sambil menepuk-nepuk lengan pemuda itu dengan pelan.
Calvin mulai terusik dengan apa yang Addara lakukan itu, hingga mata yang terlihat berat itu pun mulai terbuka secara perlahan.
"Udah siang ya?" tanyanya dengan suara parau.
"Iya bangunlah, kamu 'kan harus ke kampus," sahut Addara.
Calvin hanya berdeham sebagai jawaban pada Addara, dia pun mulai bergerak mendudukkan dirinya, berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum terkumpul sepenuhnya.
"Aku mau ganti baju sama siap-siap dulu, setelah itu baru kamu yang mandi sama siap-siap."
__ADS_1
Calvin hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Addara itu, semetara Addara segera memasuki kamar dan mulai bersiap.
Setelah Addara selesai, barulah Calvin masuk ke dalam kamar membawa bantal dan selimut yang sudah dia lipat sebelumnya.
Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, Calvin pun sudah keluar lagi dari kamar dengan penampilan rapi, juga wajahnya yang tampak segar.
Rambutnya yang setengah basah telah tersisir rapi, hingga pemuda itu terlihat tampan seperti biasa, di mata Addara.
"Ayo kita sarapan," ucap Addara yang sudah duduk manis di meja makan, menunggunya sejak tadi.
Calvin mengangguk dan mengulum senyum seperti biasanya, lalu mulai bergerak mengambil makanan untuk disantap.
"Kamu semalam pulang jam berapa?" tanya Addara membuka percakapan di sela-sela suapannya.
Calvin menatapnya tanpa menghentikan suapan pada mulutnya dan menjawab, "Aku nyampe ke sini hampir jam dua."
Kening Addara mengerut menatapnya tak percaya, jika pemuda itu pulang sampai selerut itu.
"Kenapa malam banget, apa tugasnya banyak?"
"Tugas kuliahnya udah selesai sekitar jam delapanan," sahut Calvin disertai gelengan kepala.
Lagi dan lagi Calvin menggelengkan kepalanya, membuat kerutan di kening Addara semakin tajam.
"Semalam aku harus mengurus sesuatu dulu."
"Apa?"
Pemuda itu tidak langsung menjawab, tapi dia menghela napas sepenuh dada terlebih dahulu.
"Sebenarnya aku punya usaha kecil-kecilan dan semalam ada masalah dengan tempat usahaku itu," terang Calvin dengan air muka serius.
"Usaha apa?" tanya Addara yang semakin penasaran.
"Restoran. Semalam pas mau pulang aku mendapat kabar dari orang kepercayaanku kalau restoran itu kebakaran," ucap Calvin dengan wajah yang berubah menjadi sendu.
"Benarkah?" Addara menatapnya dengan tatapan tak percaya juga tatapan iba.
__ADS_1
Dia merasa tidak percaya jika pemuda itu ternyata memiliki usaha sendiri, juga merasa iba atas kabar kurang menyenangkan yang menimpa usaha Calvin.
"Iya karena aku harus mengurus beberapa hal di restoran, juga menengok korban di rumah sakit jadi aku pulang sangat larut," terang Calvin disertai hembusan napas sedikit kasar.
Addara menatap wajahnya yang terlihat lelah itu dengan perihatin, meskipun pemuda itu berusaha tersenyum tapi raut kesedihan tergambar di wajah tampannya.
"Apa korbannya serius?"
"Tidak terlalu, setidaknya tidak sampai merenggut nyawa. Juga beruntungnya hanya satu orang saja yang menjadi korbannya," terang Calvin yang merasa sedikit lega.
"Terus sekarang apa yang akan kamu lakukan, aku tau pasti kerugian yang kamu alami akibat insiden itu tidaklah sedikit."
"Memang banyak, padahal aku belum genap setahun membangun usaha itu," ucap Calvin lagi.
"Aku yakin kamu pasti bisa melewati ini dengan baik."
Addara menggenggam tangan Calvin yang ada di depan meja, dia menatap pemuda dengan diiringi senyuman di bibirnya. Mencoba memberikan dukungan padanya, atas apa yang tengah menimpanya itu.
Mendapatkan hal seperti itu dari Addara, Calvin pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, perasaannya kini jauh lebih baik lagi setelah mendengar ucapan sederhana tapi mampu memberikan energi baru untuknya.
"Makasih, aku akan berusaha membangun kembali usahaku itu, karena bukan cuma sebuah usaha yang mengharapkan keuntungan saja yang ada dalam restoran itu. Tapi juga mimpiku ada di sana, jadi tidak akan membiarkan semuanya sia-sia," sahut Calvin dengan mata penuh keyakinan.
Addara mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyuman yang masih terpatri di bibirnya, tapi sesaat kemudian, dia melihat ke arah tangannya dan baru sadar, jika dia masih menggenggam sebelah tangan Calvin dengan erat.
"Emmmmm— sebaiknya kita lanjutkan sarapannya, takut nanti malah kesiangan," ucap Addara sambil menarik tangannya dengan gugup.
Dia menundukkan wajannya lalu menyuapkan makanannya kembali, sementara itu Calvin yang melihat reaksi Addara itu hanya mengulum senyum dan melanjutkan sarapannya.
Addara melupakan dulu niatnya untuk membicarakan masalah pernikahan mereka itu, setelah mendengar cerita Calvin, dia memilih menunggu waktu yang pas lagi karena menurutnya saat ini bukanlah saat yang tepat.
"Oh, iya maaf ya semalam aku gak sempat ngabarin karena terlalu sibuk mengurus ini itu, sampai lupa ngabarin lagi," ucap Calvin dengan menyesal.
"Tidak apa-apa, aku paham kondisi kamu semalam," sahut Addara maklum.
"Terus masalah yang kemarin mau kamu bicarakan, gimana?" tanya Calvin.
"Bahas lain waktu saja, kalau kita sudah benar-benar santai," sahut Addara.
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu." Angguk Calvin patuh.
Membicarakan hal yang serius seperti itu memang ada baiknya dalam keadaan, baik dia maupun Addara sendiri tenang, meskipun tidak dapat dipungkiri jika sebenarnya dia sudah benar-benar penasaran.