
Calvin masih dengan sabar mendekap tubuh rapuh istrinya yang sudah lebih tenang, hanya isakkan samar saja yang kini terdengar dari wanita itu.
"Kamu istirahat dulu di kamar ya," tawar Calvin sambil berjalan ke arah kamar, tanpa melepaskan pelukan di antara mereka.
Dia tidak bertanya apa pun tentang penyebab kesedihan Addara, dia lebih memilih diam dan memenangkan istrinya itu karena meskipun wanita dalam dekapannya tidak menceritakan semuanya, pemuda itu sudah bisa menebak apa yang telah terjadi.
Ketika sampai di kamar, Calvin dengan hati-hati mulai menjauhkan tubuh mereka, melepaskan pelukan di antara mereka dan menuntun Addara untuk duduk di ranjang.
Addara hanya menurut dengan apa yang Calvin lakukan itu, dia menatap kosong, pikirannya tertuju pada apa yang tadi dilihatnya.
Kenapa pria itu terlihat bahagia dan seolah lupa tentang dirinya, sedangkan dirinya di sini masih memikirkan tentangnya, memikirkan tentang apa kekurangan yang dimilikinya hingga dia melakukan hal itu.
Isi kepalanya sibuk mencari tahu tentang pria itu, pria yang bahkan sudah tidak mengingat dirinya lagi, pria yang tidak pernah menganggap serius hubungan di antara mereka.
Melihat kondisi Airin yang saat ini sudah hamil seperti itu, menjadi tanda jika pria itu sudah mengkhianatinya sejak lama.
Sakit, perih, sesak. Itulah saat ini dia rasakan dalam hatinya, bahkan rasanya untuk bernapas pun terasa sulit, hanya air mata yang terus mengalir di pipi yang sudah basah itu.
"Kamu tunggu di sini ya, aku akan membuatkan dulu makan malam," ucap Calvin dengan lembut mengusap pipinya.
Addara menatap wajah pemuda itu dalam diamnya, di antara ribuan pikiran tenang pria yang sudah menorehkan lukanya, sebersit pemikiran hadir dalam benaknya.
Ketika Calvin akan melangkah pergi dari kamar itu, dia segera menahannya dengan menggenggam tangannya, hingga pemuda itu kembali menatapnya.
"Ayo kita melakukan hubungan suami istri, Vin," ucapnya dengan suara serak.
__ADS_1
Calvin mengerutkan kening menatapnya dengan heran atas apa yang Addara katakan itu.
"Bukankah seharusnya kita melakukan hal itu sejak lama ... kenapa? Apa kamu tidak menginginkan hal itu, apa aku memang tidak menarik di matamu juga, atau kamu memang hanya menganggap pernikahan ini sebuah permainan saja?"
Genggaman di tangan Calvin semakin mengerat, seolah Addara sedang mencari kekuatan untuk menopang dirinya yang tengah rapuh itu.
"Apa kamu sama seperti dia, menganggap aku hanya sebagai sebuah mainan yang bisa kalian mainkan perasaannya begitu saja," lirih Addara dengan tatapan sayu.
Terpancar sebuah keputusasaan dalam sorot mata yang sudah memerah itu, secara perlahan dia mulai melepaskan genggaman tangannya pada tangan Calvin, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu kembali menangis.
"Apa dengan kita melakukan hal itu, kamu akan merasa lebih baik? Apa kamu tidak akan menyesalinya jika kita melakukan itu sekarang?"
Addara tidak menyahuti apa yang Calvin tanyakan itu, dia hanya diam dengan posisi mendongak, mata sayunya menatap wajah Calvin dengan lamat.
Sementara Calvin juga sama, setelah melayangkan pertanyaan itu, dia pun ikut bungkam menunggu jawaban Addara atas pertanyaannya.
Calvin beranggapan jika wanita yang berstatus istrinya itu, telah menyesali apa yang baru saja diutarakannya, hingga akhirnya dia pun tersenyum dan berniat akan melanjutkan niatnya keluar dari kamar itu.
Namun sebuah tarikan di pergelangan tangannya, membuat tubuhnya yang tidak memiliki keseimbangan itu limbung, bahkan hampir menimpa Addara jika tangannya tidak dengan sigap menahan bobot tubuhnya.
Kini jarak di antara wajahnya dan Addara benar-benar tipis, hingga hembusan napas dari rongga hidung kedua sejoli itu, saling menerpa permukaan kulit wajah mereka.
"Apa yang—"
Calvin yang hendak berbicara terputus begitu saja, karena bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir lembut nan basah, tapi hangat milik Addara.
__ADS_1
Gerakan tangannya yang berada di kedua sisi tubuh Addara yang berada di pinggir ranjang itu pun secara otomatis terhenti, ketika kedua tangan Addara sudah melingkar di lehernya, mengunci pergerakannya.
Awalnya hanya sebuah kecupan tanpa pergerakan yang Addara lakukan, tapi ketika tidak mendapatkan perlawanan dari Calvin, secara perlahan dia pun mulai menggerakkan bibirnya memangut bibir pemuda itu dengan gerakan lembut.
Calvin menatap mata Addara dengan intens, tidak berniat membalas ci*man itu, hingga ketika Addara masih bermain dengan bibirnya dan mulai memejamkan mata, barulah dia mulai mengambil tindakan dengan membalas apa yang Addara lakukan padanya.
C*uman yang awalnya kaku, semakin lama semakin intens dan saling menuntut, seolah kedua insan itu tengah saling mencari kepuasan dari pertarungan antar bibir itu.
Merasa sudah sama-sama kehabisan napas, Calvin mulai melepaskan tautan itu. Keduanya berlomba-lomba memburu pasokan udara dengan mata kembali saling mengunci.
"Apa kamu tidak menyesal dengan apa yang baru saja terjadi itu?" tanya Calvin dengan lembut.
Dia kemudian merubah posisinya, menjadi duduk di samping Addara, menatap istrinya dengan lembut juga sayu, akibat aktivitas yang mereka lakukan barusan, telah membangkitkan sisi lain dari dalam dirinya.
Ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal itu, hingga akibat dari apa yang baru saja mereka lakukan itu mematik api gairah dalam dirinya.
Sebagai lelaki normal yang sudah cukup dewasa, dia tentu saja ingin menerkam Addara saat ini juga, bahkan mungkin sebelum dari ini dia selalu ingin melakukan hal intens seperti itu, Namun, akal sehatnya menyadarkan dirinya untuk tidak menuruti keinginannya.
Dia juga sengaja menanyakan hal itu, karena takut wanita yang berstatus istrinya menyesali apa yang baru saja terjadi itu.
"Aku tidak menyesalinya, bahkan kita bisa melakukan hal yang lebih jauh dari itu," sahut Addara menatapnya dengan penuh keyakinan.
Akibat dari dorongan rasa sakit di dalam hatinya, hingga hal seperti itu terbesit di benaknya, dia ingin melupakan tentang rasa sakit itu, dia juga ingin membuktikan pada pria yang mungkin akan sering bertemu dengannya, jika dia juga sudah bahagia.
Anggap saja saat ini dia memang sengaja mau memanfaatkan Calvin, melampiaskan rasa sakit hatinya pada pemuda yang berstatus sebagai suaminya, tapi bukankah di sini pemuda itu juga mendapat keuntungan dengan apa yang terjadi itu.
__ADS_1
"Lakukan itu, Vin. Bukankah sudah seharusnya kita melakukan hal itu," ucap Addara lagi dengan suara yang mendayu, seolah sengaja menggoda pemuda itu agar menuruti keinginannya itu.
Seperti bisikan setan yang terus menggoda Calvin agar menuruti nafsunya yang sebelumnya sudah berusaha dia redam, tapi kini telah muncul kepermukaan.