
"Apakah kamu tidak ingat wajah anak kecil itu?" tanya Calvin membuat lamunan Addara tentang masa lalunya itu terpecah.
"Ingat sih," sahut Addara.
Tiba-tiba saja Addara terpekik karena suaminya itu, membalikkan tubuhnya secara tiba-tiba hingga dia kini menghadap ke arah pemuda itu.
Addara mencebikan bibirnya, karena perbuatan suaminya itu, secara otomatis membuat tubuh polosnya tidak tertutupi oleh selimut yang tersingkap, tangannya bergerak membenarkan selimut itu hingga tubuhnya kembali tertutupi.
"Kenapa harus ditutupi seperti itu, toh aku udah tau semuanya," goda Calvin, membuat Addara menatapnya dengan kesal.
"Ngapain sih, main balikin tubuh orang sembarangan aja!" seru Addara dengan berdecih.
"Aku mau ngomong serius, coba kamu lihat aku dengan benar," ucap Calvin yang sudah kembali ke mode serius.
Addara pun kembali menatapnya, dia mengerutkan keningnya melihat Calvin yang memasang wajah serius seperti itu.
"Apa yang mau kamu omongin?" tanya Addara dengan bingung.
"Kamu benar-benar tidak merasa ada yang aneh dengan diriku ini?" tanya Calvin lagi dan hanya dijawab gelengan kepala oleng Addara.
"Emangnya apa yang aneh?" tanya Addara dengan kening yang semakin mengerut.
"Sejak pertemuan kita pas pernikahan kita itu, apa kamu gak ngerasa kalau kita pernah bertemu gitu sebelumnya?" desak Calvin.
Addara menggeleng, lalu mulai bangkit dan mendudukkan dirinya di ranjang dengan selimut yang dia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku ngerasa kalau kita tidak pernah ketemu sebelumnya, sebenarnya kenapa kamu menanyakan hal-hal itu," sahut Addara menatap suaminya dengan gemas karena pemuda menanyakan hal yang berbelit-belit.
Sebelum kembali bersuara, pemuda itu pun ikut mendudukkan dirinya dan menghadap pada Addara.
"Aku adalah anak kecil yang waktu itu," ucap Calvin dengan menatapnya dengan serius.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Addara dengan heran.
"Iya, aku anak kecil yang waktu itu ada di saat terjadinya tawuran itu." Angguk Calvin.
"Masa sih," ucap Addara tidak percaya karena anak kecil yang bersamanya ketika insiden itu terjadi, sangat jauh berbeda dengan pemuda di depannya itu.
Dia samar-samar mengingat jika anak yang waktu itu, bertubuh gemuk, memiliki kulit yang cukup hitam berbanding terbalik dengan Calvin saat ini yang memiliki bentuk tubuh ideal, juga kulit yang putih bersih.
"Kamu ingat gak kapan kejadian itu terjadi, lebih tepatnya tahun berapa, bulan apa dan tanggal berapa?" tanya Calvin membuat Addara berpikir.
"Aku gak terlalu ingat, tapi yang jelas waktu itu aku masih sekolah SMA, itu berarti sekitar 10 atau 9 tahunan yang lalu," terang Addara.
"Kejadian itu terjadi, tanggal 12 bulan tiga tahun 2012, tepat di hari senin."
Addara menatapnya tak percaya, dia masih belum sepenuhnya percaya jika Calvin adalah anak kecil yang saat itu bermaksud dia tolong dari insiden tawuran itu.
"Kamu masih belum percaya juga, tunggu sebentar, aku ada foto saat aku masih kecil."
Pemuda itu menuruni ranjang dan memakai celana pendeknya terlebih dahulu, setelah itu mengambil sesuatu yang ada di laci nakas paling bawah di samping ranjang.
Addara menatap foto di tangannya dengan Calvin yang kini sudah duduk di pinggir ranjang dengan bergantian, jujur dia masih belum mempercayai semua itu.
"Kamu tau, semenjak kejadian itu aku sama sekali tidak bisa melupakanmu, aku terus menghawatirkan keadaanmu, karena setelah kejadian itu aku tidak pernah tau lagi tentangmu."
"Bagaimana bisa kamu masih mengingatku, sampai waktu pernikahan itu?" tanya Addara dengan serius.
"Apa hari itu kedua kalinya kita bertemu?" sambung Addara semakin menatap pemuda itu dengan intens.
Terlihat gelengan kepala dari pemuda itu, membuat kerutan di kening Addara kian menajam. Kepala wanita itu semakin dipenuhi dengan beragam pertanyaan, menghadirkan rasa penasaran yang semakin menjadi.
"Bukan. Aku sudah sering memperhatikanmu sejak lama, itulah kenapa aku bisa tau siapa nama kamu, di mana kamu tinggal, di mana tempat kerjamu, ke mana saja kamu pergi, dan dengan siapa saja biasanya kamu pergi," terang Calvin enteng.
__ADS_1
Addara menatapnya dengan ekspresi tak percaya, tampangnya yang melongo seperti itu, membuat Calvin gemas, hingga tanpa aba-aba dia meraup bibirnya dan memberikan gigitan kecil di benda kenyal nan basah yang membuatnya candu itu, saking gemasnya.
Addara berdecak kecil atas serangan mendadak dari suaminya itu, masih dengan tatapan menuntut akan penjelasan pemuda itu lebih lanjut.
"Aku bahkan sering kepoin media sosial kamu." Kekeh Calvin.
"Dasar stalker," cibir Addara dengan memutar matanya.
Calvin tergelak mendengar hal itu, entah apa yang lucu, hingga pemuda itu bisa tertawa seperti itu.
"Semenjak melihatmu lagi, aku benar-benar tidak bisa lagi melupakanmu."
"Kapan kamu melihatku lagi?"
"Setelah beberapa tahun berlalu, setelah pertemuan pertama. Lebih tepatnya saat aku kelas dua SMP."
"Serius! Di mana kamu melihatku?" Antara penasaran dan tak percaya, itulah yang saat ini Addara rasakan.
"Di sebuah restoran, waktu itu kebetulan aku sama Ayah dan Ibu lagi makan malam, kebetulan kamu juga ada di sana. Bahkan tempat duduk kita bersebelahan, karena itulah aku jadi tau siapa nama kamu, karena teman kamu nyebut nama kamu waktu itu," terang Calvin sambil menerawang, mengingat kembali pertemuan dia dan Addara dengan seutas senyum yang hadir di bibirnya.
"Itu artinya, udah cukup lama juga dong," ucap Addara.
"Iya, cuma waktu itu aku belum bisa apa-apa, jadi hanya bisa memperhatikanmu dari jauh aja."
Dulu, mungkin Calvin hanya sekedar mengagumi sosok Addara karena perlakuan Addara yang peduli padanya, di saat dia sedang dalam posisi kurang baik.
Saat pertemuan pertama dia dan Addara, dia sedang diliputi rasa sedih dan kecewa, hingga waktu itu dia tidak memedulikan bagaimana dirinya saat itu, berada di tengah-tengah segerombolan orang-orang yang jauh lebih tua darinya.
Tidak merasa takut sama sekali, meskipun saat itu dia mungkin akan dalam bahaya, menjadi sasaran emosi dari para pelaku tawuran itu, tapi Calvin kecil tidak memedulikan hal itu.
Waktu itu memang dia sedang merasa sedih, akibat dari meninggalnya ibu kandungnya, juga ayahnya yang tiba-tiba saja membawa wanita lain ke rumah dan mengatakan padanya, jika mulai saat itu, dia adalah ibunya.
__ADS_1
Calvin kecil benar-benar merasa kecewa pada ayahnya, karena di saat ibunya baru saja 40 hari meninggal, ayahnya sudah menikahi wanita lain. Setelah kejadian itu pula, ingatan-ingatan tentang ibunya yang sebelumnya sering diam-diam menangis, hingga akhirnya ditemukan tidak bernyawa, membuat dia beranggapan jika semua itu terjadi karena ulah ayahnya yang ternyata telah berkhianat.
Rasa kesal, kecewa dan sedih itu, membuat dia memutuskan untuk pergi dari rumah, tapi karena kejadian itu, niatnya gagal. Karena setelah insiden itu, dia dipulangkan kembali oleh polisi pada orang-tuanya.