Young Husband

Young Husband
Kabar Bahagia


__ADS_3

Addara masih setia menatap apa yang tengah digenggamnya, menatap sebuah kertas yang merupakan hasil dari laporan medis dan sebuah foto USG yang beberapa saat lalu dia terima dari rumah sakit.


"Apa dia siap dengan kabar ini? Bagaimana jika dia tidak mengharapkan hal ini?" pertanyaan itu terus dia gumamkan dari semenjak dia pulang.


Dia memang senang dengan kabar itu, tapi dia juga merasa bimbang dengan reaksi suaminya tentang kabar ini.


Bukan tanpa alasan dia merasa bimbang, tapi situasi yang terjadi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Dia belum membicarakan masalah anak dengan Calvin, bagaimana rencana mereka ke depannya.


Umur Calvin yang belum sepenuhnya matang menurutnya, membuat wanita itu merasa bimbang, dia takut jika pemuda itu belum siap untuk memiliki anak dan bagaimana jika seandainya dia tidak menerima kabar kehamilannya ini.


Mendengar panggilan dari luar kamar, Addara segera menyimpan apa yang sejak tadi dipegangnya itu ke dalam laci.


"Aku kira kamu lagi mandi, karena aku panggil dari tadi gak nyahut," ucap Calvin ketika memasuki kamar.


Pemuda itu langsung menghampiri Addara dan memposisikan dirinya untuk tiduran di paha Addara dan menarik tangannya agar mengusap kepalanya.


"Mandi dulu sana, baru leha-leha lagi," ucap Addara sambil mengusap rambut Calvin yang sedikit lepek dan bau matahari.


"Bentar lagi, Yang. Masih cape banget," sahutnya dengan mata yang terpejam.


"Gimana kuliah kamu?" tanya Addara memulai percakapan.


Dia merasakan degupan di dadanya agak meningkat, mengingat bagaimana dia harus memulai mengatakan kabar bahagia menurutnya itu.


"Tidak ada yang menarik, hanya mengerjakan banyak soal."


"Semangat dong, masak kayak yang males gitu sih."


"Kalau seandainya ada kamu di sampingku, pasti aku akan lebih semangat."


Calvin kembali menarik tangan Addara yang menganggur dan menciumnya beberapa kali, matanya masih senantiasa terpejam menikmati usapan lembut dari jemari lentik yang terasa menenangkan itu.


"Kalau ada aku di sampingmu, bukannya semangat, kamu pasti malah gak bisa fokus sama tugas kamu," decak Addara menghadirkan segaris senyum di bibir suaminya.


Memang apa yang diucapkannya itu ada benarnya, jika Addara benar-benar ada di sampingnya, mungkin titik fokusnya hanya istrinya saja.

__ADS_1


"Kamu sendiri, gimana sama kerjaan kamu?"


Pemuda itu mulai membuka matanya, menatap dalam netra Addara yang jernih yang selalu bisa mengalirkan kehangatan pada setiap rongga hatinya.


"Tidak ada yang spesial, semua seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja...."


Addara menggantung ucapannya, memberikan tatapan yang serius pada Calvin, hingga menghadirkan sebuah kerutan di kening pemuda itu.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Calvin yang sudah bergerak menegakkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Addara.


Addara tidak langsung menyahut, tapi dia masih menimbang apakah dia harus mengatakan hal itu, atau menundanya terlebih dahulu.


Namun, apakah baik nantinya jika dia menunda mengatakan hal itu, karena bagaimanapun Calvin adalah suaminya, ayah dari calon anaknya.


"Ada masalah apa? Katakanlah biar aku bisa mencoba mencari solusi, siapa tau aku bisa," ucap Calvin yang dapat melihat kegundahan dari sorot mata Addara.


Dia juga mengambil kedua tangan Addara dan menggenggamnya dengan lembut, mencoba memberikan ketenangan pada Addara.


"Bagaimana pendapatmu soal anak?" tanya Addara berusaha mencari tahu reaksi suaminya.


"Apa kamu mau segera memilikinya? Kalau emang iya maka itu artinya aku harus bekerja lebih keras lagi," sahut Calvin dengan diiringi godaan.


"Bukan aku yang aku pertanyakan, tapi kamu!" decak Addara yang tiba-tiba saja merasa sedikit kesal karena Calvin malah menggodanya.


"Aku?"


"Iya, Kamu!" Angguk Addara harap-harap cemas.


"Ak—"


"Tunggu!" potong Addara yang malah tidak sabar. Dia kemudian mengambil apa yang tadi disimpannya di laci.


"Sebaiknya kamu lihat aja ini," sambungnya yang langsung menyerahkan foto USG pada tangan Calvin.


Calvin menerima kertas segi empat itu dengan alis yang hampir bertautan, tanda jika dia bingung dengan benda di tangannya itu.

__ADS_1


Namun, wajah bingungnya tidak bertahan lama ketika dia dapat melihat apa yang ada dibalik kertas putih itu, sebuah gambar hitam putih yang membuat jantungnya berdegup dengan kencang.


Mungkinkah itu ... Calvin menatap Addara dengan perasaan yang tidak jauh berbeda dengan Addara, yaitu harap-harap cemas.


Addara harap-harap cemas menunggu reaksi Calvin, sedangkan Calvin harap-harap cemas karena takut kemungkinan yabg ada dalam benaknya tidaklah nyata.


"Maksudnya ini...." Calvin tidak dapat melanjutkan ucapannya semakin menatap dalam mata Addara. Dann Addara mengangguk.


"Iya, barusan aku habis dari dokter karena aku ternyata telat datang bulan dan dokter bilang kalau ak—"


Addara tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Calvin secara tiba-tiba menubruk tubuhnya dan mendekapnya dengan erat.


"Makasih Tuhan, makasih karena engkau mau mempercayai aku untuk ini," racau Calvin sambil mendekapa Addara.


Addara secara refleks mengusap punggung Calvin, entah kenapa tiba-tiba air mata hadir di pipinya melihat reaksi Calvin itu.


Untuk beberapa saat pasangan itu saling berpelukan dalam diam memberikan ketenangan satu sama lainnya, hingga bsberapa menit berlalu barulah mereka melepaskan pelukan itu.


"Kamu gak keberatan dengan ini?" tanya Addara.


"Apa yang kamu katakan, bagaimana bisa aku keberatan dengan anugrah ini, hal ini adalah imipianku sejak lama. Sebelumnya aku tidak berani membahas masalah anak denganmu karena aku takut kamu belum siap untuk itu."


"Aku kira kamu yang belum siap untuk memeiliki anak dalam waktu dekat ini."


"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Calvin dengan heran.


"Karena kamu masih muda, kamu seharusnya masih menikmati masa-masa saat ini dengan bebas," cicit Addara menundukkan kepalanya.


Calvin memegang kedua sisi wajah Addara dengan kedua tangannya, hingga wajah istrinya itu kembali terangkat.


"Aku tidak pernah memikirkan bagaimana kehidupan dunia di luar sana, karena sejak pertama bertemu denganmu duniaku hampir sepenuhnya dipenuhi olehmu, jadi dari dulu sampai sekarang dan seterusnya bagiku dengan adanya dirimu di duniaku, itu semua sudah cukup."


Sejenak keadaan hening memenuhi suasana kamar itu, mereka saling menatap, saling mnyelami perasaan masing-masing.


"Apalagi dengan adanya dia, duniaku pasti terasa semakin sempurna, jadi untuk apa aku mencari dunia lain lagi," sambung Calvin sambil menyimpan tangannya di perut Addara dan mengusapnya perlahan.

__ADS_1


Senang dan terharu, itulah yang saat ini Addara rasakan. Dia senang karena ternyata Calvin begitu bahagia dengan kabar kehamilannya itu, dia berharap kebahagiaan senantiasa menyertai keluarga kecil mereka.


__ADS_2