Young Husband

Young Husband
Perasaan Calvin yang Sebenarnya


__ADS_3

Calvin menjalankan motornya membelah jalanan yang dihiasi langit gelap dengan kecepatan normal. Saat ini dia perlu menenangkan pikirannya, setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.


Motornya kini telah melewati gang yang hanya cukup untuk kendaraan beroda dua saja, ketika sampai di tempat yang akan ditujunya, dia pun segera memarkirkan motornya di depan bangunan yang memiliki banyak pintu.


"Mau ngapain sih, Vin. Malam-malam gini ke sini, ini udah waktunya istirahat kali!"


Calvin tidak menanggapi omelan dari pemuda yang seumuran dengannya itu, pemuda itu berdiri di pintu kontrakannya dengan berkacak pinggang.


Tatapan pemuda yang yang menyambutnya itu, tidak terlalu enak di pandang, tapi tidak Calvin hiraukan dengan santainya dia turun dari motornya dan melepaskan helmnya.


"Tenang aja, aku ke sini gak dengan tangan kosong kok," ujarnya santai, menyimpan helm di stang motor matic berwarna hitam miliknya itu.


Calvin berjalan memasuki pintu, meskipun orang yang dikunjunginya belum mempersilakan dia untuk masuk. Tidak lupa juga membawa serta kantong plastik, bertuliskan nama mini market yang tadi didatanginya saat perjalanan menuju ke sana.


"Lagian apa kamu lupa, kalau kita masih ada tugas yang belum kita selesaikan," lanjut Calvin mendudukkan dirinya di karpet yang berada di ruang tengah kontakan milik temannya itu.


Pemuda yang bernama Mirza itu hanya memutar matanya, dia kemudian menutup pintu dan menguncinya sambil mendengkus dan berjalan menyusul Calvin.


"Padahal aku baru saja mau tidur, seharian harus kuliah, lanjut kerja. Aku niatnya mau ngerjainnya besok aja," keluhannya sambil merebahkan tubuhnya di samping Calvin dengan berbantalkan kedua tangannya.


Mata pemuda itu terpejam, keluhannya soal lelah bukanlah kebohongan, dia memang baru saja pulang dan selesai bersih-bersih, bermaksud akan tidur jika Calvin tidak menghubunginya dan mengatakan akan datang ke sana.


"Aku merasa suntuk kalau ngerjain tugas sendiri, jadi aku mutusin buat ngerjainnya di sini," ucap Calvin seolah tidak peduli dengan keluhan temannya itu.


Calvin mulai mengeluarkan beberapa buku yang dia bawa, juga laptop dari dalam tasnya. Sebenarnya dia berniat mengerjakan tugas itu di apartement, tapi dia tidak bisa fokus.


Pikirannya terus tertuju pada kejadian beberapa waktu lalu, kejadian yang membuat dia nyaris lepas kendali ketika berada di dekat Addara dengan jarak sedekat itu.


Ya, ternyata bukan cuma perasaan Addara saja yang beranggapan jika Calvin akan menciumnya, tapi itu benar-benar akan terjadi jika Calvin tidak segera sadar dengan apa yang nyaris dilakukannya.

__ADS_1


Mata sayu Addara yang menatapnya dengan dalam, wajahnya yang tiba-tiba saja merona, juga bibir pink alami miliknya yang dia gigit bagian bawahnya, membuat dia tanpa sadar terus mendekat.


Nalurinya menuntun dia untuk menyergap, bibir yang saat itu tengah si empunya gigit. Debaran di jantungnya yang kian berpacu, membuat dia nyaris gila saat itu.


Untunglah, ketika jaraknya dengan Addara hanya tersisa sekitar lima senti lagi, dia sadar dengan apa yang baru saja akan dilakukannya, hingga kejadian yang belum saatnya terjadi pun, tidak terjadi.


"Oh iya, tadi Nisha nanyain kamu pas aku berpapasan dengannya di parkiran."


Calvin menoleh sekilas pada Mirza yang kini sudah berubah posisi menjadi duduk kembali, kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya, mengambil laptop dari dalam tasnya.


Dia tidak berniat untuk merespon apa yang Mirza ceritakan itu, hanya memfokuskan dirinya pada apa yang akan dikerjakannya.


"Dia udah mulai terang-terangan nunjukin rasa sukanya sama kamu, apa kamu tidak memiliki sedikit pun rasa padanya?" tanya Mirza bersila, menatap Calvin dengan serius.


"Aku sudah berkali-kali bilang, kalau aku sudah menyukai orang lain," ucap Calvin tanpa menoleh.


"Sebenarnya siapa sih orang itu, setau aku, kamu gak pernah keliatan deketin atau memperhatikan orang lain."


Lebih tepatnya, semenjak mereka masuk kuliah, dia belum pernah melihat temannya itu mendekati perempuan atau memperhatikan seseorang.


Padahal di depannya ada wanita yang semenjak mereka masuk kuliah, hingga sekarang selalu berusaha mendekatinya, tapi dia selalu bersikap seolah tak melihat hal itu.


"Katanya kamu mau cepat-cepat istirahat, kalau kamu malah bergosip seperti itu, aku yakin sampai pagi pun tugasnya tidak akan selesai," sindir Calvin yang memang malas dengan pembahasan itu.


Mirza kembali mendengkus, karena Calvin tidak menanggapi ucapannya itu. Dia pun akhirnya bangkit dan berjalan menuju ke kamar untuk mengambil laptopnya.


Akhirnya, kedua pemuda itu pun sama-sama larut dalam mengerjakan tugas mereka, sambil sesekali berhenti untuk memakan cemilan yang Calvin bawa, hingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lebih dan tugas mereka pun akhirnya selesai dikerjakan.


"Akhirnya selesai juga," ujar Mirza meregangkan tangannya yang terasa kaku.

__ADS_1


"Kamu nginep di sini?" tanya Mirza karena biasanya jika mereka baru selesai mengerjakan tugas hingga larut, maka Calvin akan memilih menginap di sana.


"Tidak, aku mau pulang aja," sahut Calvin sambil membereskan barang-barangnya.


"Tapi ini udah larut, mending kamu nginep aja di sini, besok pagi baru pulang," tawar Mirza yang langsung Calvin tolak mentah-mentah.


Dia tidak mungkin menginap di sana, karena sebelum berangkat dia tidak mengatakan jika dia akan pergi pada Addara.


Ketika selesai makan malam, Addara memang langsung masuk ke kamarnya dan tidak keluar lagi, dia pun tidak mengatakan jika dia akan pergi, karena takut Addara sudah istirahat dan malah terganggu.


"Ya elah, kayak udah punya istri aja, mau pulang sekarang juga. Lagian di sana juga pasti sendiri-sendiri juga," celetuk Mirza yang memang belum mengetahui jika Calvin sudah menikah.


Calvin tidak menanggapi omongannya itu, dia langsung bangkit ketika sudah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas punggungnya.


"Aku pulang dulu," pamitnya.


"Ya udah, hati-hati di jalan, padahal ini udah malam, bahaya keluar malam-malam gini," sahut Mirza pengertian.


"Santai aja kali, jarak dari sini ke apartement, tidak terlalu jauh juga," ucap Calvin dengan santai, karena memang jarak kontrakan itu ke apartemennya tidak terlalu jauh.


"Aku tuh perhatian sama kamu, sebagai seorang teman," protes Mirza karena Calvin menganggap enteng ucapannya.


"Ya, ya." Calvin keluar dari kontrakan yang berukuran sedang itu.


Dia menjalankan motornya meninggalkan tempat temannya. Udara dingin menembus kulitnya, karena saat ini dia hanya mengenakan celana trening panjang dan kaos pendek.


Dia memang tidak memakai jaket, karena jaketnya berada di dalam kamar dan tidak mungkin dia menerobos masuk, ke kamarnya di saat Addara ada di dalam kamar itu.


Karena rasa dingin itu semakin terasa menusuk, Calvin pun menambah kecepatan laju kenderaan beroda dua itu, dia tidak ingin kedinginan lebih lama di jalanan.

__ADS_1


Akhirnya dia telah sampai di basement apartementnya, pemuda itu pun segera turun dari motor memasuki gedung apartementnya agar bisa segera sampai ke unitnya dan menghangatkan dirinya yang mulai menggigil akibat angin malam.


Ketika memasuki apartement yang masih sama seperti terakhir kali dia tinggalkan, yaitu gelap. Calvin langsung membungkus dirinya dengan selimut yang sudah berada di sofa, agar tubuhnya tidak kedinginan lagi.


__ADS_2