
Dalam perjalanan pulang dari rumah Wirga, Addara dan Calvin memutuskan untuk mampir ke pusat perbelanjaan terlebih dahulu, Addara berencana membeli persediaan makanan yang sudah mulai habis di apartmentnya.
"Kamu ada yang mau dibeli gak?" tanya Addara menoleh pada Calvin yang tengah mendorong troli yang masih kosong.
"Eummmm, kayaknya gak ada deh," sahut Calvin setelah beberapa saat berpikir.
"Ya udah kalau gitu, kita tempat daging dulu aja," ucap Addara berjalan lebih dulu, sambil melihat-lihat.
Ketika sampai di tempat persediaan bahan mentah perdagingan dan seafood, Addara mulai memilah daging sapi, ayam beserta, beberapa seafood dengan seksama.
Tidak hanya dirinya yang memilih, tapi suami mudanya pun melakukan hal yang sama. Pemuda itu dengan serius ikut memilih, karena ingin bahan yang berkualitas untuk mereka masak nantinya.
"Yang ini, masih bagus, masih fresh," komentar Calvin sambil menunjuk daging sapi yang terbungkus dengan rapi.
"Kamu juga tau hal begituan?" tanya Addara dengan heran.
"Tentu saja." Angguk Calvin tersenyum.
"Kalau gitu kamu aja yang milih bahan-bahannya gimana? Aku gak terlalu bisa milih bahan-bahan yang bagus soalnya, jadi suka bingung sendiri," tawar Addara dengan tersenyum lebar menampilkan sederet giginya yang rapi.
"Baiklah." Angguk Calvin, mengusap puncak kepala Addara terlebih dahulu sebelum akhirnya memulai melihat-lihat.
Mendapat perlakuan sederhana dari Calvin seperti itu, membuat Addara tanpa sadar menunduk malu.
Calvin fokus memilih daging dan seafood, setelah dirasa cukup, dia pun bertanya pada Addara apalagi yang akan mereka beli.
"Sayuran, buah sama bumbu juga kayaknya udah tinggal dikit deh," sahut Addara.
"Baiklah, ayo kita mencari keperluan lainnya." Ajak Calvin dijawab anggukan oleh Addara.
Mereka pun kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat-tempat yang bahan masakan yang mereka butuhkan, niat awalnya adalah Addara yang berbelanja, tapi Calvin jauh lebih terampil dibanding dirinya ketika mencari apa yang mereka butuhkan.
Pemuda itu tidak terlihat kaku sama sekali, ketika memilih apa yang mereka butuhkan untuk mengisi kulkas yang sudah mulai kosong. Addara kembali dibuat kagum dengan hal itu, pemuda itu jauh dari ekspetasinya.
__ADS_1
Suami mudanya itu, jauh lebih sempurna dari ekspetasinya, padahal Calvin bukanlah dari kalangan rendah, orang-tuanya memiliki materi yang lebih dari cukup untuk menjadikan dia pemuda yang manja, seperti kebanyakan pemuda seusianya.
Mungkin pemuda lain akan menjadikan status keluarganya, untuk menjadi orang yang manja yang hanya mengandalkan apa yang orang-tuanya miliki, tapi tidak dengan pemuda itu.
Bahkan pemuda itu hampir bisa mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari beres-beres, mencuci baju dan piring, juga memasak. Padahal dia sebenarnya bisa memperkerjakan Art untuk melakukan semua itu.
Namun, beberapa kali Addara memberikan usul untuk memperkerjakan Art, pemuda itu selalu menjawab, kalau dia bisa mengerjakan semua itu, jadi untuk apa menyewa Art. Toh dia bisa melakukan pekerjaan rumah seperti itu, kapan pun dia mau.
Mendengar hal itu Addara pun, tidak membahas masalah Art lagi. Dan kini di tempat tinggal mereka, biasanya mereka membagi tugas untuk masalah pekerjaan rumah tangga itu.
Kini Addara tahu, kenapa pas pertama kali masuk ke apartement. Tempat tinggalnya itu terlihat rapi dan bersih, dia kira pemuda itu menggunakan jasa Art, tapi ternyata tidak. Dia mengerjakan semuanya sendiri, Calvin juga tidak pernah membuat apartement berantakan.
"Sudah, kamu mau beli apa lagi, Yang?" tanya Calvin sambil menengok ke arahnya.
Panggilan pemuda itu padanya memang telah berubah, suami mudanya itu benar-benar memanggilnya dengan sebutan sayang di mana pun mereka berada.
Wanita itu, kini sudah mulai terbiasa dengan panggilan itu, meskipun pada awalnya dia merasa canggung setiap Calvin memanggilnya.
"Ya udah, kalau gitu mending kita bayar biar bisa langsung pulang," sahut Calvin.
"Iya."
Mereka pun berjalan menuju kasir, ketika hampir sampai ke kasir, Addara menghentikan sejenak langkahnya, ketika melihat pasangan yang sedang berdiri di depan meja kasir.
Hatinya terasa berdesir kala melihat punggung yang sangat dikenalnya itu, meskipun hanya punggungnya, tapi dia yakin jika pria itu adalah pria yang memberikan cinta juga luka yang teramat besar untuknya.
Tubuh Addara masih tidak bergerak di belakang Calvin, tapi matanya terus bergerak mengikuti pergerakan pria yang tengah brrgandengan tangan dengan wanita di sampingnya itu.
"Hey, kamu ngeliatin apa?" tanya Calvin membuat atensinya langsung teralihkan pada pemuda itu.
Pemuda itu menatap ke arah yang ditatap Addara tapi tidak menemukan keanehan apa pun, dia kemudian kembali menatap Addara dengan heran.
Sementara Addara menatap pemuda itu lekat tanpa suara, kemudian menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan suaminya itu.
__ADS_1
Calvin menatapnya dengan heran, dia merasa ada yang tidak beres dengannya, tapi tidak berniat untuk bertanya lebih jauh lagi.
Suara kasir yang telah selesai menghitung belanjaan mereka, membuat pasangan itu sama-sama menatap ke arah kasir. Calvin pun dengan segera membayar belanjaan mereka dan membawanya ke luar.
Selama diperjalanan pulang, tidak ada lagi yang membuka suara, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, ditambah Calvin yang memilih diam karena melihat Addara yang sepertinya tengah sibuk dengan pikirannya.
Apa yang terjadi padaku, kenapa aku merasa tidak nyaman seperti ini melihat dia terlihat bahagia dengan wanita lain?
Aku kira, setelah beberapa waktu yang telah aku lewati ini, aku sudah bisa melupakan semua tentangnya, tapi ternyata tidak.
Terdengar tarikan napas panjang dari wanita yang tengah bergelung dengan pikirannya itu, hingga hal itu membuat Calvin kembali melihat ke arahnya, melalui kaca spion motornya.
"Kenapa?" tanya pemuda itu yang sepertinya tidak dapat lagi menahan mulutnya untuk bertanya.
Addara menggeleng samar, dia enggan untuk mengatakan apa yang ada dalam pikirannya itu, lebih tepatnya dia bingung harus mengatakan dengan cara seperti apa.
"Kalau ada masalah, kamu sebaiknya ceritain, jangan memendam masalah sendirian, itu hanya akan membebani dirimu," ucap Calvin.
"Aku baik-baik saja, aku hanya memiliki sedikit masalah. Nanti kalau sudah waktunya aku pasti cerita," sahur Addara berusaha bersikap biasa saja.
Dia mengeratkan genggaman tangannya pada kantong plastik belanjaan yang kini berada di depannya, menjadi pembatas antara dirinya dan Calvin.
"Apa kamu melihat seseorang atau sesuatu tadi?" tanya Calvin karena dia merasa aneh dengan Addara yang tiba-tiba saja seperti itu, sejak dari supermarket tadi.
Padahal sebelumnya, wanita itu biasa-biasa saja, tidak terlihat seperti orang yang tengah memiliki masalah.
Dalam benak Calvin bertanya, apa yang telah dia lewatkan tadi, hingga dia tidak menyadari alasan perubahan wanita itu yang cukup tiba-tiba.
"Tidak ada apa pun yang terjadi tadi, sudahlah jangan membahas hal yang tak penting itu," sahut Addara tersenyum, agar pemuda itu tidak menanyakan hal lainnya lagi.
Dia sendiri masih tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan itu, jadi bagaimana bisa dia menceritakan hal yang tidak pasti itu pada Calvin.
"Ya sudah kalau gitu," pasrah Calvin menyerah dan berhenti mendesak istrinya itu.
__ADS_1