Young Husband

Young Husband
Bab 43


__ADS_3

Addara mengetuk-ngetukan jari-jari lentiknya di meja kerja, sedari tadi dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya, pikirannya terus berkeliaran memikirkan kemungkinan yang mungkin terjadi padanya.


"Apa nanti aku ke rumah sakit aja ya? Biar bisa diperiksa secara jelas," gumamnya dengan perasaan gusar.


Kegusaran yang dirasakannya, berawal dari tadi pagi, dimana dia baru menyadari jika dia sudah beberapa minggu telat mendapatkan siklus bulanannya. Dari obrolannya dan Olivia yang mendengar curhatan temannya itu, karena wanita itu mengeluh sakit karena siklus bulanannya membuat dia kepikiran tentang hal itu.


Dia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal itu, tapi itu benar-benar mengganggu pikirannya sejak tadi.


Lagi dan lagi matanya melihat pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya, entah kenapa saat ini waktu berlalu terasa begitu lambat, hingga membuatnya menghela napas panjang untuk kesekian kalinya.


Mungkin karena pikirannya yang memang dalam kondisi tidak baik-baik saja, jadi dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya dan terus melihat pergerakan jam.


"Kenapa, Dar?"


Addara menoleh ke sumber suara yang bertanya padanya itu, dia kemudian memasang senyum lalu menggeleng sebagai respon dari pertanyaan pria berkacamata yang tengah berdiri di samping meja kubikel tempatnya bekerja.


"Gak pa-pa," sahut Addara dengan masih memasang senyuman di wajahnya.


"Kamu kayaknya lagi banyak pikiran, kalau kamu lagi gak baik-baik saja mending izin pulang lebih awal dulu aja," saran rekan kerjanya itu, seolah tahu jika Addara memang tidak fokus sedari tadi.


"Kamu lagi gak enak badan ya Dar? Wajah kamu juga keliatan agak pucat," timpal Olivia yang sudah menggeser kursinya hingga berdekatan dengan Addara.


"Gak apa-apa, aku baik-baik aja, kok." Geleng Addara.


"Jangan maksain kalau kamu emang ngerasa kurang vit, Dar." Pria berkacamata itu kembali bersuara.

__ADS_1


"Aku benar-benar baik-baik aja, aku emang agak pusing buat desain aja," sahut Addara berusaha meyakinkan para rekan kerjanya itu.


"Ya udah kalau gitu, ini berkas yang kamu minta," ucap pria berkacamata itu memberikan sebuah berkas padanya.


"Makasih, Mas." Addara mengambil berkas yang rekannya itu berikan padanya.


"Iya, kalau gitu aku kembali ke meja aku lagi," pamit pria berkacamata itu, sambil berjalan ke arah mejanya kembali.


Sementara itu Olivia masih berada di samping Addara, belum kembali lagi ke meja kerjanya.


"Kamu gak balik lagi ke meja kamu, emang gak ada kerjaan apa?"


"Kamu beneran gak pa-pa, Dar?" Bukannya menjawab ucapan Addara, Olivia malah kembali bertanya.


"Tapi aku serius loh, Dar. Kamu benar-benar pucat, perasaan tadi masih baik-baik aja deh." Olivia menatapnya dengan intens dari jarak dekat.


"Aku hanya lagi pusing karena masalah kerjaan aja, ditambah belum sempat memperbaiki make-up makanya agak pucat," dalih Addara.


"Ya udah deh kalau gitu, mudah-mudahan kamu emang baik-baik aja," sahut Olivia akhirnya kembali menggeser kursinya hingga sampai ke mejanya.


Melihat kelakuan dari Olivia itu, Addara hanya bisa menggelengkan kepalanya, padahal mejanya dan meja Olivia berdekatan, wanita itu sebenarnya bisa berbicara dengannya dari mejanya tanpa harus ke meja kerja Addara.


Addara akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, berusaha mengesampingkan apa yang sebelumnya mengganggu pikirannya itu.


"Apa pun hasilnya nanti, aku harus siap," gumamnya dengan mata yang fokus pada layar di depannya.

__ADS_1


...*****...


Akhirnya apa yang Addara tunggu pun kini telah tiba, waktu pulang telah tiba dan wanita itu pun segera membereskan barang-barang pribadinya bersiap untuk pulang.


Namun sebelum pulang, dia berencana untuk mampir ke rumah sakit terlebih dahulu. Mencoba memeriksa kondisinya agar tidak terus kepikiran hal yang sedari tadi mengganggunya.


"Tumben kamu buru-buru gitu, Dar?" tanya Olivia yang menyadari gerak-geriknya.


"Aku ada urusan, jadi agak buru-buru," sahut Addara tanpa menoleh.


Olivia hanya manggut-manggut dan kembali fokus pada kegiatannya lagi.


"Aku duluan ya, Liv, Mas," pamit Addara pada rekan kerjanya.


"Iya, Dar. Hati-hati ya, sampai ketemu besok," sahut pria berkacamata sambil mengangguk, sedangkan Olivia hanya menjawabnya dengan anggukan dan acungan jempol saja.


Hari ini Olivia memang sedang dalam mode kalem, karena efek siklus bulanannya, jadi dia tidak terlalu banyak bicara seperti hari-hari sebelumnya.


"Iya, Mas."


Addara mulai meninggalkan tempat kerjanya, selama diperjalanan menuju ke rumah sakit dengan mobilnya itu, jantungnya terasa dag-dig-dug tak menentu.


"Tenang Dara, apa yang kamu takutkan semua pasti baik-baik saja."


"Tapi, gimana kalau aku...?" Wanita itu tidak melanjutkan ucapannya, sebelah tangannya refleks mengusap perutnya yang rata dengan pandangan lurus ke arah jalan di depannya.

__ADS_1


__ADS_2