
Addara yang baru saja selesai membuatkan sarapan segera mendatangi suaminya yang saat ini tengah sibuk dengan laptopnya, entah apa yang pemuda itu kerjakan di laptopnya, hingga dia terlihat sangat serius, dari setelah selesai bersiap sampai sekarang.
"Vin, sarapannya sudah siap," ucap Addara berdiri di samping sofa yang Calvin duduki.
Pemuda itu secara perlahan mulai mengalihkan perhatiannya dari laptop dan mendongak untuk melihatnya, tidak ada sahutan yang keluar dari mulutnya, hanya senyuman tipis serta anggukan kepala yang dia berikan sebagai jawaban.
Melihat Calvin mulai mematikan laptopnya Addara pun berbalik pergi, bukan kembali menuju dapur, tapi tujuannya adalah ke kamar.
"Kamu gak sarapan?" tanya Calvin heran karena melihatnya malah menuju ke kamar.
"Aku mau bersiap dulu, kamu duluan aja sarapannya ya," sahut Addara menoleh ke arahnya sekilas, tanpa menghentikan langkahnya.
Saat ini dia masih belum siap-siap, dia masih memakai setelan ala rumahan, belum memakai setelan kerjanya.
"Baiklah."
Calvin pun menuju ke dapur lebih dulu, tapi tidak langsung menyantap makanan yang sudah tertata rapu di atas meja makan, dia malah memainkan ponselnya, berbalas pesan dengan Mirza.
Sementara itu Addara yang tengah bersiap, dia baru saja selesai berpakaian dan tengah memoles wajahnya dengan make-up tipis. Ditatapnya pantulan dirinya dalam cermin itu dengan seksama.
Bayangan punggung dari pasangan yang kemarin dilihatnya, hingga saat ini masih mengganggu pikirannya, hatinya kini masih merasa tidak tenang, padahal beberapa waktu sebelumnya, dia sudah merasa sedikit lebih baik.
Namun, kini perasaannya kembali kacau, hanya karena melihat pria itu dari jauh, apalagi jika sampai dia melihatnya dari dekat, Addara sungguh berharap dia tidak akan pernah melihat pria itu lagi, meskipun hanya sekelebat saja.
Setelah selesai, wanita itu kemudian menghela napas sedalam-dalamnya, lalu mengambil tas kerjanya dan mulai melangkah ke dapur, menyusul Calvin untuk sarapan bersama.
"Kamu belum makan," ucapnya ketika melihat suami mudanya itu, belum menyentuh makanan sama sekali dan sibuk dengan ponselnya.
"Belum, aku nungguin kamu, Yang." Calvin segera menghentikan kegiatannya dan menyimpan ponselnya di atas meja, ketika istrinya mulai mendudukkan dirinya di kursi yang ada di depannya.
Pemuda itu menata Addara dengan lamat, seutas senyum hadir di bibirnya yang tidak tipis, juga tidak terlalu tebal itu.
"Kenapa?" tanya Addara yang sedang mengambil makanan ke piringnya, dia sedikit merasa canggung karena ditatap seperti itu oleh suami mudanya.
"Kamu cantik," ucap Calvin masih belum mengalihkan pandangan darinya.
Mendengar hal itu, Addara sedikit berdecak sambil memutar matanya. Menganggap ucapan pemuda itu, hanya gombalan semata.
__ADS_1
"Belajar dari siapa gombal seperti itu, hmmmm?"
"Ini bukan gombal, Sayang. Aku mengatakan sesuai dengan yang aku lihat," sahut Calvin terlihat bersungguh-sungguh.
Addara mengangguk sambil terkekeh tanpa berniat menimpali Calvin, dia mulai memasukkan makanan yang sudah berada dalam piringnya sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya.
"Baiklah, baiklah. Terserah kamu aja berondongku, sekarang kamu sebaiknya segera makan karena kita bisa saja telat, jika kamu hanya melihatku saja seperti itu."
"Aku serius, rasanya aku tidak pernah bosan melihatmu seperti ini dan ingin terus seperti ini," ucap Calvin dengan penuh keseriusan.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, Vin? Kenapa kamu tiba-tiba mengatakan hal-hal ini?" tanya Addara yang mulai menimpalinya dengan ogah-ogahan.
"Kalau aku memang menginginkan sesuatu darimu, apa kamu akan memberikannya?" tanya Calvin menatapnya dengan serius.
"Apa yang kamu inginkan?" Addara tidak melihat ke arah suami mudanya itu, tanpa menghentikan kegiatan memakan makanannya, karena dia tidak ingin telat berangkat ke kantor.
"Aku ingin hak-ku, sebagai suami."
Uhuk ... uhuk
Dia tidaklah polos, hingga tidak dapat mengerti apa maksud ucapan pemuda itu, hak Calvin yang belum bisa dia penuhi saat ini adalah bersanggama.
Calvin segera menyerahkan gelas yang berisi air putih pada Addara yang langsung wanita itu terima dan langsung menegaknya hingga tersisa setengah.
Addara tidak berbicara lagi, dia hanya menatap Calvin dengan serius, mencari tahu apakah ucapan pria itu serius atau hanya main-main.
Beberapa detik kemudian, pemuda itu tertawa, hingga membuat Addara menyipitkan mata dan menatapnya dengan bingung.
"Aku hanya bercanda, kamu sampai segitunya," ucap Calvin di sela-sela tawanya.
Addara mendengkus kesal karena hal itu, padahal dia merasa barusan jantungnya terasa mau copot, ketika Calvin tiba-tiba saja mengatakan hal itu.
"Gak lucu, Calvin!" kesal Addara.
"Maaf, maaf. Habisnya aku perhatikan muka kamu tegang banget," ucap Calvin sambil mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Addara tidak meresponnya lagi, dia hanya menghela napas sepenuh dada. Ternyata pemuda itu masih menyadari, ada yang berbeda darinya, meskipun dia sudah sekuat tenaga menormalkan ekspresi wajahnya itu.
__ADS_1
Sementara Calvin memakan makanan sambil menerawang, memikirkan permintaan dirinya pada Addara barusan. Sebenarnya apa yang dia ucapkan pada istrinya itu, bukanlah sebuah candaan.
Dia sengaja memancing Addara dengan mengatakan hal itu, untuk melihat reaksi wanita itu, tapi ketika reaksi Addara yang seperti itu, terbesit kesedihan di hatinya.
Rupanya, hingga saat ini wanita itu masih belum bisa membuka hati untuknya. Masih memasang tembok yang sepertinya sulit untuk dia runtuhkan, meskipun dia sudah berusaha membuat kemajuan pada hubungan itu.
Semua butuh waktu Vin, ingat kalian bersama baru beberapa minggu, jadi tidak mungkin Addara akan menerima kamu secepat itu, bersabarlah beberapa saat lagi.
Calvin berusaha meyakinkan dirinya, dia tahu jika istrinya itu pasti membutuhkan waktu lama untuk menerima dirinya di dalam hatinya, tapi dia juga merasa selalu dihantui rasa takut dalam jiwanya.
Takut jika wanita itu tidak bisa menerimanya dan malah menemukan pria yang dia cintai lagi, lalu memutuskan untuk pergi meninggalkannya.
Dia tidak ingin kehilangan Addara, dia tidak ingin Addara lepas lagi darinya, setelah dia mendapatkannya sekarang ini.
"Vin, kayaknya kita harus berbicara serius deh tentang status kita ini, dari setelah menikah kita memang belum pernah membahas masalah ini dengan serius."
Calvin yang sebelumnya tengah bergelung dengan pikirannya, mengangkat wajahnya dan menatap Addara dengan intens.
Terlihat makanan yang ada di piring Addara sudah habis, wanita itu kini juga tengah menatapnya dengan ekspresi serius.
"Baiklah, bicara saja," sahut Calvin berusaha bersikap tenang, meskipun hatinya tidak tenang mendengar ucapan Addara itu.
"Tidak sekarang," sahut Addara menggeleng, membuat kening Calvin mengerut.
"Ini udah siang, aku tidak ingin dapat SP karena telat sampai ke kantor, kamu cepatlah makannya kalau mau anterin aku," sahut Addara mengusap bibirnya dengan tisu.
Dia kemudian mengeluarkan cermin kecil juga lipstik dari tasnya untuk memperbaiki riasannya yang pudar karena aktivitas makannya.
Sementara Calvin hanya mengangguk, lalu melanjutkan sarapannya, meskipun hatinya masih tidak tenang dengan apa yang akan Addara katakan tentang status mereka itu.
Dia berharap, Addara memiliki pemikiran yang sama dengannya, yaitu ingin pernikahan mereka terus berjalan dan saling menerima satu sama lain, bukan malah sebaliknya.
Namun, jika memang Addara malah memliki keinginan yang berlawanan dengannya, maka dia tidak punya pilihan lain, selain menggunakan cara yang sedikit memaksa agar wanita itu tetap di sisinya.
...----------------...
Yuhuuuu.... Apakah di sini ada pembacanya, kalau ada boleh dong disapa-sapa Neng Author remahan ini, biar gak kesepian ðŸ¤ðŸ¤
__ADS_1