
Pemuda tampan dengan tubuh tinggi dan atletis, saat ini tengah sibuk dengan peralatan dapur di depan kompor. Tangan terampil pemuda itu bergerak lincah dengan spatula dan kuali di hadapannya.
Tidak hanya itu saja di meja makan juga sudah tersedia, beberapa menu makanan lainnya yang sudah dia tata dengan sedemikian rupa. Setelah masakannya selesai, dia pun segera menyimpan makanan itu ke meja, menatanya dengan makanan lainnya yang sudah tersedia di sana.
Tidak hanya makanan saja yang dia tata sedemikian rupa, tapi pemuda itu sudah menyediakan dua buah lilin berbentuk hati, juga bunga di tengah-tengah meja itu, hingga meja berukuran sedang itu tampak terlihat cantik.
"Selasai," ucapnya menatap hasil karyanya dengan puas dan penuh rasa bangga.
Dia berharap, semoga istrinya nanti suka dengan apa yang telah dia sediakan itu, dia juga berharap dengan melihat apa yang dilakukannya saat ini, mampu membuat rasa lelah istrinya setelah seharian bekerja menjadi hilang.
Pemuda itu kemudian mencium aroma tubuhnya yang menghadirkan bau tak sedap, meskipun samar tapi tentu saja itu sangat mengganggunya.
Calvin pun memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, karena tidak lucu bukan, ketika makan malam spesial itu terjadi, dalam keadaan dirinya yang kucel dan bau seperti itu.
Wajar saja jika dia sampai seperti itu, sehabis dari kampus dia langsung ke restoran untuk memeriksa perkembangan renovasi tempat itu. Setelah itu dilanjut belanja beberapa bahan makanan dan langsung mengolahnya setelah sampai di apartement, jadi dia belum sempat membersihkan dirinya.
"Udah rapi 'kan ya?" tanyanya pada pantulan dirinya dari balik cermin, setelah selesai mandi dan berpakaian.
Calvin hanya memakai baju santai ala rumahan, karena dia tidak ingin terlihat terlalu mencolok di hadapan istrinya itu. Meskipun begitu, dia tetap berpenampilan dengan rapi, tidak lupa menyemprotkan sedikit parfum pada tubuhnya.
"Udah siap, tinggal nunggu dia pulang," gumamnya lagi sambil tersenyum, lalu berjalan kembali keluar dari kamar.
Ketika sampai di dekat sofa, dia mendengar suara seseorang tengah memasukkan sandi pintu unitnya. Pemuda itu sudah dapat menebak, jika itu pasti adalah istrinya.
Benar saja, beberapa detik kemudian wanita pujaannya itu muncul dari balik pintu yang sudah mulai terbuka, dia pun lantas segera menyambut istrinya dengan senyuman khas miliknya yang hanya dia tunjukkan pada si pemilik hatinya.
"Aku kira kamu belum pulang," ucap Addara sambil bergerak menutup kembali pintu itu.
"Aku udah pulang dari tadi, karena di restorannya tidak lama."
"Oh pantesan kalau gitu."
"Kamu pasti capek ya, sebaiknya kamu makan dulu, setelah itu baru mandi dan istirahat."
__ADS_1
Calvin bergerak mendekatinya, lalu menggandeng tangan Addara dengan lembut dan menuntunnya ke arah dapur.
"Aku emang udah lapar banget sih," sahut Addara mengikuti langkahnya dengan pasrah.
"Maka dari itu, kamu makanlah dulu."
"Kamu masak apa ...," ucapan Addara terhenti ketika melihat ke arah meja makan yang sudah dihias sedemikian rupa, juga makanan yang sudah tersaji dengan berbagai menu yang pastinya sama dengan menu restoran-restoran mewah.
Dia memelankan langkahnya, lalu berdiri di samping meja, menatap meja yang telah disulap layaknya meja untuk makan malam romantis itu dengan takjub.
"Bagaimana suka gak?" tanya Calvin tepat di belakang Addara.
Addara membalikkan badannya, tanpa sadar jika posisi Calvin sangat dekat dengannya, hingga secara refleks wajahnya dan dan wajah suaminya itu saling berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa senti saja.
Bukannya menjawab pertanyaan dari suaminya itu, Addara malah mematung di tempatnya dengan tatapan lurus pada Calvin, dia memasang wajah bengong, hingga membuat suaminya gemas ingin menerkamnya.
Calvin berdeham untuk menekan perasaannya, sekaligus menyadarkan Addara yang hanya menatapnya dengan mata indahnya yang selalu mampu membuat dia merasa gila hanya dengan tatapannya itu.
"I–iya, aku suka. Tapi dalam rangka apa kamu menyiapkan semua ini?"
"Baguslah kalau kamu suka, sekarang duduklah dan mulai makan." Calvin menggeser kursi untuknya agar dia segera duduk.
Addara hanya mengangguk dan dengan patuh duduk, di kursi yang telah Calvin geser itu. Tak lama kemudian, pemuda itu pun menyusulnya, dia duduk di depan Addara.
"Ayo makanlah, katanya udah lapar," ucap Calvin lagi, karena dia hanya melihat Addara masih bengong.
"Sebenarnya dalam rangka apa, kamu melakukan ini, Vin?" tanya Addara lagi yang mulai penasaran.
"Tidak dalam rangka apa-apa, aku hanya ingin menciptakan suasana makan malam yang berbeda saja," sahut Calvin dengan tenang, sambil mulai mengambil makanannya.
"Ini lebih mirip ke makan malam romantis jatuhnya," gumam Addara dengan nada pelan sambil mengambil makanan.
Calvin hanya tersenyum mendengar gumaman dari istrinya itu.
__ADS_1
"Ya, anggap saja ini juga makan malam romantis kita, sebagai tanda kemajuan dalam hubungan kita ini," ujar Calvin.
Addara berhenti sejenak menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, lalu menatap pemuda itu dengan lamat.
Calvin yang melihat raut tidak paham dari istrinya itu pun, mengambil sebelah tangan Addara yang berada di atas meja, lalu meremasnya dengan lembut.
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kita jalani saja hubungan ini sesuai alurnya. Tapi aku ingin membuat kamu nyaman dengan hubungan ini."
Addara hanya membisu dengan tatapan lurus pada kedua bola mata Calvin yang menatapnya dengan lembut dan serat akan makna itu.
"Sebenarnya untuk apa kamu berusaha membuat aku nyaman dengan hubungan kita ini, apa semuanya hanya karena sebuah kewajiban?"
Calvin menggeleng dengan tegas, menyanggah ucapan dari Addara itu, karena bukan hanya itu saja alasan di balik itu.
"Bukan hanya itu saja, tapi ada alasan lainnya dari aku yang ingin membuatmu nyamam, alasan yang tidak bisa aku ungkapkan sekarang, tapi akan kamu rasakan dengan seiring berjalannya waktu. Sampai tiba saatnya, kamu tau makna dari semua ini, tanpa harus aku menjelaskan panjang lebar nantinya."
Addara hanya diam dengan pikiran yang mulai bertanya, maksud dari ucapan Calvin barusan.
"Sudah jangan dipikirkan, sekarang sebaiknya kita lanjut makan, katanya kamu lapar," ucap Calvin melepaskan genggaman tangannya, lalu melanjutkan kegiatan makannya.
Addara menghela napas sedalam-dalamnya, menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja bergemuruh ketika mendengar setiap ucapan dari Calvin yang seolah menyimpan arti lain itu.
Setelah dirasa cukup tenang, dia pun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, matanya sesekali melihat ke arah suami mudanya itu.
Pemuda itu tidak mengalihkan pandangan darinya barang sedikit pun, juga senyuman yang terus hadir di bibir berwarna alami miliknya itu.
Menyadari dia selalu ditatap seperti itu oleh Calvin, tentu saja membuat Addara merasa semakin gugup, tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkan hal itu dan memfokuskan dirinya pada makanan di depannya.
"Bagaimana makanannya?" tanya Calvin kembali membuka percakapan setelah terjadi keheningan untuk beberapa saat.
"Seperti biasa, makananmu selalu enak," Puji Addara apa adanya.
Makanan yang Calvin masak memang selalu enak, tidak heran pemuda itu sampai membuka usaha di bidang kuliner, karena makanan yang pemuda olah itu patut diacungi jempol.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu suka," sahut Calvin dengan ekspresi senang karena mendapat pujian dari wanita tersayangnya.