
Kedua sejoli itu, kini telah selesai makan malam, mereka saat ini sedang bekerja sama, membereskan meja makan juga mencuci piring agar besok pagi mereka tidak kerepotan.
"Sebaiknya kamu segeralah mandi, ini sudah malam, gak baik mandi terlalu malam," ucap Calvin pada Addara yang tengah membantunya menata peralatan yang sudah dicuci ke rak.
"Nanti aja tanggung, ini 'kan belum selesai."
"Ini tinggal sedikit, biar aku sendiri aja yang beresin."
"Tapi—"
"Ini sudah malam, sudah waktunya kamu istirahat. Emangnya kamu mau besok kesiangan karena telat bangun," potong Calvin sambil menatapnya dengan serius.
Addara akhirnya hanya bisa menghela napas pasrah, lalu mengelap tangannya dengan lap tangan yang tergantung di dinding atas wastafel.
"Ya udah deh, kalau gitu aku mandi sekarang dan langsung istirahat," sahut Addara pada akhirnya.
"Iya pergilah," ucap Calvin yang sudah kembali menyibukkan dirinya dengan peralatan yang masih kotor itu.
Addara berjalan dari dapur itu, tapi ketika baru saja selangkah keluar dari dapur, wanita itu menghentikan langkahnya kembali dan menengok pada suaminya yang masih sibuk.
"Kamu juga langsung istirahat aja setelah menyelesaikan itu, tidurlah lagi di kamar, jangan di sofa," ucap Addara, lalu kembali melangkah tanpa menunggu sahutan dari Calvin terlebih dahulu.
Sementara Calvin yang mendengar ucapan istrinya itu hanya bengong, bahkan sampai menghentikan kegiatannya dan menengok ke arah ruang tengah di mana Addara sudah menghilang.
Tak lama kemudian seutas senyum hadir di bibirnya, dia senang karena istrinya memberinya lampu hijau untuk tidur di kamar, atau bisa dikatakan secara garis besarnya tidur bersama lagi.
Tidak ingin mengulur waktu terlalu lama lagi, akhirnya pemuda itu pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika pekerjaannya sudah selesai, Calvin segera menuju ke depan kamarnya, dia tidak langsung masuk, tapi mengetuk pintu itu terlebih dahulu.
"Kamu udah selesai belum?" tanyanya dari balik pintu.
Tidak ada sahutan dari dalam, akhirnya dia pun memberanikan diri untuk langsung masuk secara perlahan, ketika sampai di dalam kamarnya, pemuda itu tidak mendapati keberadaan istrinya.
Tahu istrinya itu masih di kamar mandi, Calvin memutuskan untuk menaiki ranjang, dia duduk dengan menyandar pada dashboard ranjang, lalu memainkan ponsel sembari menunggu Addara.
Tak lama kemudian, terdengar suara handel pintu yang diputar, lalu disusul oleh pintu yang terbuka hingga menampilkan Addara yang sudah memakai baju tidur pendek.
__ADS_1
Addara hanya melihatnya sekilas, setelah itu berjalan ke arah meja rias melakukan perawatan malam pada wajahnya, sedangkan Calvin sudah mengabaikan ponselnya dan hanya menatap lurus pada punggung Addara dan bayangan Addara dari cermin.
"Kenapa?" tanya Addara menatap pemuda itu dari pantulan cermin, sambil mengoleskan cream ke wajahnya.
"Kenapa apanya?" tanya balik Calvin dengan bingung.
"Kamu terus ngeliatin aku, apa ada yang mau kamu bicarakan?" tanya Addara dengan heran.
"Tidak ada, aku hanya sedang mengagumimu saja, meskipun hanya melihatmu dari belakang, tapi tidak mengurangi pesonamu," ucap Calvin yang keluar begitu saja dari mulutnya.
Tanpa direncanakan, tanpa dia persiapkan sebelumnya, setiap kata pujian yang keluar dati mulutnya untuk Addara, semua terucap secara spontan.
Addara berusaha bersikap biasa saja mendengar hal itu, meskipun hatinya merasa ketar ketir. Dia berusaha menyibukkan dirinya dengan kegiatannya itu.
Sementara Calvin masih tetap dengan kegiatannya, yaitu melihat setiap pergerakan Addara, dia merasa tidak ada kata puasnya melihat sosok di depannya itu, dalam posisi apa pun.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Addara pun langsung menuju ke ranjang, dia mengabaikan tatapan Calvin yang terus mengikuti pergerakannya itu.
Addara merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Calvin, dia juga menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya, bohong jika saat ini perasaannya datar-datar aja dengan situasi seperti itu.
Dia tentu saja merasakan kecanggungan yang berusaha dia tutupi, apalagi dia dapat merasakan jika pemuda di belakangnya ikut merebahkan tubuhnya.
Karena merasa tidak enak hati dengan Calvin, setelah mendengar pertanyaan dengan nada seperti itu, Addara pun terpaksa berbalik badan hingga menghadap ke arahnya.
"Bu–bukan gitu, aku—"
"Kalau kamu emang merasa tidak nyaman, sebaiknya aku tidur di sofa lagi aja," potong Calvin yang bergerak seolah akan bangun.
"Gak perlu, aku bukannya gak nyaman. Hanya saja aku merasa canggung, karena walau bagaimana pun aku belum terbiasa dengan keadaan seperti ini," terang Addara apa adanya.
"Kalau hanya itu, berarti kamu harus mulai membiasakan diri kalau gitu," sahut Calvin sambil tersenyum.
"Iya, akan aku coba." Angguk Addara.
"Mau tau caranya, biar kamu cepat beradaptasi dengan situasi seperti ini?" tanya Calvin tersenyum misterius.
"Gimana caranya?" tanya Addara dengan polos.
__ADS_1
"Kita melakukan apa yang kita lakukan kemarin malam lagi, karena semakin sering kita melakukannya, maka kita akan cepat beradaptasi," ucap Calvin dengan ekspresi serius.
Sementara Addara melotot tak percaya dengan ucapannya itu, tubuhnya tiba-tiba saja terasa panas, ketika Calvin membahas hal itu.
"Gimana, mau nyoba lagi?" tanya Calvin intens.
Addara menelan ludahnya dengan kasar, tatapannya masih lurus pada pemuda itu.
Entah setan dari mana, hingga Calvin langsung nyosor begitu saja karena merasa gemas dengan istrinya itu, dia merapatkan tubuh mereka hingga dia dapat merasakan detak jantung Addara.
Addara tidak memberontak atau pun mengikuti permainan bibir dari suaminya itu, dia masih terlalu shock dengan serangan mendadak itu, hingga ketika dia merasakan gigitan kecil di bibirnya, barulah dia membuka akses agar Calvin bisa memperdalam permainannya.
Addara pada awalnya memang tidak melakukan apa pun, tapi seiring dengan berjalannya waktu, dia pun ikut terhanyut dalam permainan Calvin, berujung mengikuti setiap permainan yang pemuda itu berikan.
"Bolehkan?" izin Calvin ketika dia mengakhiri permainan bibir mereka.
Napas pemuda itu, mulai memburu, matanya yang selalu menatapnya dengan penuh kelembutan, kini telah dihiasi kabut yang sedari tadi berusaha dia tahan.
Addara hanya mengangguk sebagai jawaban dan membiarkan Calvin melanjutkan permainan mereka, dia pun tidak tinggal diam tapi ikut berpartisipasi dalam permainan itu, meskipun sama seperti sebelumnya, Calvin lah yang lebih mendominasi permainan itu.
Kini mereka kembali mengulang kegiatan di malam sebelumnya, saling melebur jadi satu, berbagi peluh tanpa ada kata keterpaksaan di dalamnya, hingga permainan itu pun selesai dengan diakhiri oleh sebuah kepuasan dari keduanya.
"Makasih," ucap Calvin setelah mengakhiri permainannya itu.
Dia mengecup kening Addara dengan lembut, lalu menjatuhkan dirinya di samping Addara dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Sama-sama, itu sudah seharusnya," sahut Addara dengan mata kantuknya.
Calvin tersenyum, lalu manarik Addara ke dalam pelukannya, hingga wajah Addara terbenam di dada bidang miliknya yang putih dan dihiasi bulu halus.
Pemuda itu memejamkan mata dan mengusap punggung Addara dengan lembut, tapi ketika tangannya merasakan sesuatu di punggung sebelah kanan Addara, dia pun membuka matanya dan melihat ke arah yang disentuhnya.
Itu adalah sebuah bekas luka yang cukup panjang, dapat dipastikan luka yang Addara dapatkan itu cukup dalam hingga meninggalkan bekas yang sangat jelas seperti itu.
"Jelek ya," ucap Addara dengan mata terpejam, saat merasakan tangan Calvin berada di bekas lukanya.
"Tidak sama sekali, tidurlah," sahut Calvin dengan menggeleng, lalu kembali mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Addara.
__ADS_1
Addara tidak menyahutinya lagi, karena dia sudah mulai berselancar ke alam mimpinya. Sementara Calvin masih mengusap bekas luka itu dengan lembut, entah ada apa dengan bekas luka yang dimiliki oleh Addara itu.