
Mata indah itu kini secara perlahan mulai terbuka, bergerak dengan perlahan melihat ke sekelilingnya mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya.
Addara melihat ke arah sampingnya dan ternyata di sampingnya itu kosong, ingatannya kemudian berputar pada apa yang terjadi semalam, ketika sadar sepenuhnya Addara mendudukkan dirinya, sekali lagi melihat ke seluruh penjuru kamar.
Lalu kemudian melihat ke arah tubuhnya, dia meraba tubuhnya sudah menggunakan pakaian lengkap, tapi pakaian yang berbeda dari yang terakhir kali dipakainya. Dia meyakini, jika Calvin lah memakaikan pakaian padanya itu.
"Semalam itu beneran? Aku sama Calvin...."
Addara menggangtungkan ucapannya, lalu menutup mulutnya tak percaya, matanya berkali-kali mengerjap dan menelan ludahnya dengan kasar, ketika bayangan kejadian semalam benar-benar tergambar jelas dalam kepalanya.
Disingkapnya selimut yang membungkus sebagian tubuhnya itu, terlihat beberapa bercak darah mengering, juga bagian bawahnya yang terasa ngilu, menjadi bukti jika apa yang dipikirkan olehnya itu benar-benar nyata.
Semalam dia dan Calvin melakukan hal itu, bahkan yang lebih parahnya, dia meminta hal itu pada Calvin, bagaikan seorang wanita yang haus akan belaian.
"Ya ampun, apa yang aku lakukan semalam," gumamnya sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
Addara merasa sudah cukup dirinya merutuki apa yang telah terjadi itu, dia kemudian menghela napas sedalam-dalamnya, lalu mulai menurunkan kakinya bermaksud untuk ke kamar mandi.
"Kenapa harus sesakit ini coba," rutuknya ketika mencoba melangkahkan kakinya, ternyata bagian privasinya terasa mengganjal disertai rasa perih.
Mengabaikan apa yang dirasakannya itu, Addara secara perlahan memaksa kakinya yang terasa lemas seperti tak bertulang itu, untuk bergerak ke arah kamar mandi agar dia bisa membersihkan dirinya.
Antara percaya dan tidak, kini dia sudah menjadi istri yang seutuhnya untuk pemuda yang usianya jauh lebih muda darinya itu. Meskipun hatinya belum ditempati pemuda itu.
Ketika selesai membersihkan diri, juga selesai berpakaian, Addara merapikan tempat tidurnya terlebih dahulu, dia mengganti selimut dan seprai yang kotor karena kejadian semalam, setelah itu barulah dia keluar dari kamar.
Dia langsung menuju ke dapur, melihat pemuda itu tengah sibuk menata makanan yang pastinya baru selesai dia masak, di meja makan.
Addara sedikit berdeham, berusaha bersikap biasa saja meskipun perasaannya sedikit tidak nyaman, akibat dari kejadian semalam yang ternyata memberikan dampak untuknya, hingga merasa sedikit canggung plus malu ketika harus berhadapan dengan suaminya itu.
__ADS_1
"Kirain belum bangun, tadinya aku mau membangunkanmu," ucap Calvin menatap ke arahnya, ketika menyadari kehadirannya di sana.
Pemuda itu tampak tersenyum seperti biasa, senyuman yang lebih merekah menurut penglihatan Addara, juga wajahnya yang tampak lebih bercahaya hingga dia terlihat lebih tampan.
"Duduk dan sarapanlah, kamu pasti lapar karena semalam tidak sempat makan," ucap Calvin menggeser kursi untuknya.
"Makasih," ucap Addara dengan tersenyum dan mulai mendudukkan dirinya di kursi yang telah Calvin geser.
Wanita itu berusaha untuk tidak terlalu melakukan kontak mata dengan Calvin, karena dia masih terbayang-bayang pergulatan panas mereka di atas ranjang, ketika menatap wajah pemuda itu terlalu lama.
Karena perutnya yang memang terasa lapar, wanita itu pun langsung mengambil makanan ke dalam piringnya dan langsung menyuapkan ke dalam mulutnya dengan sedikit rakus.
"Kamu mau kerja?" tanya Calvin di sela-sela makannya, sambil menatapnya dengan intens.
"Iya," sahut Addara tanpa menatapnya.
Akhirnya Calvin pun memilih untuk tidak berbicara lagi dan membiarkan Addara makan dengan tenang, meskipun dia sebenarnya ingin menanyakan tentang perasaan wanita itu atas apa yang telah terjadi semalam.
Dia penasaran, apakah wanita itu menyesal dengan kejadian semalam, meskipun dia tidak dapat melakukan apa pun, jika seandainya Addara benar-benar menyesalinya.
Makanan mereka pun kini telah habis, Addara dengan sigap membersihkan meja makan serta mencuci piringnya, sementara Calvin masih memperhatikan pergerakannya dan semakin yakin jika wanita itu kini telah menghindar darinya, terbukti dengan dia yang enggam untuk menatapnya.
Tidak ingin terlalu lama dalam situasi canggung seperti itu, juga diliputi rasa penasaran akan perasaan Addara, akhirnya Calvin pun memilih untuk langsung menanyakannya.
Dia sengaja mencegat langkah Addara yang akan langsung menuju ke kamar, ditatapnya wajah yang kini masih berusaha menghindar untuk tidak saling bertatapan dengannya itu.
"Apa kamu menyesal dengan kejadian semalam?" tanyanya langsung ke intinya.
Addara secara perlahan mulai memberanikan dirinya, menatap wajah Calvin dari jarak yang cukup dekat itu. Dia kemudian menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban atas pertanyaan dari pemuda itu.
__ADS_1
"Tidak, aku sama sekali tidak menyesalinya."
Addara memang tidak menyesali apa yang terjadi di antara mereka semalam, apa yang mereka lakukan itu adalah hal yang sangat wajar untuk dilakukan.
Terlepas dari niat awal dia ingin melakukan hal itu dengan Calvin. Dimana dirinya telah diliputi rasa sakit hati juga kecewa pada Jeffrey, hingga dia melampiaskan semuanya pada Calvin, tapi dia sama sekali tidak menyesali semua itu.
"Terus kenapa kamu seperti menghindar dariku, aku minta maaf kalau kamu memang menyesali kejadian semalam, seharusnya semalam aku juga tidak terbawa suasana," ucap Calvin yang memancarkan raut penyesalan dalam matanya.
Meskipun dia bahagia dengan apa yang terjadi semalam, tapi jika Addara merasa menyesalinya, maka dia pun merasa sedih akan hal itu.
"Kamu tidak perlu minta maaf, kamu tidak salah apa pun, bukankah hal seperti itu memang sudah sewajarnya terjadi, lagian semalam 'kan bukan kamu yang memulainya," sahut Addara yang memelankan kata terakhirnya, dengan kepala kembali menunduk.
"Terus kenapa kamu seperti menghindar seperti itu, jika memang kamu tidak merasa menyesalinya?" tanya Calvin dengan heran, tapi juga ada kelegaan dalam hatinya.
"Aku hanya malu, berhadapan denganmu, karena semalam aku benar-benar seperti wanita yang haus akan belaian," jawab Addara tidak berani mengangkat wajahnya lagi.
Sementara Calvin yang mendengar hal itu langsung menghela napas lega, dia kembali mengulum senyum ketika melihat sikap Addara itu, apalagi melihat semburat merah di pipi istrinya itu.
"Aku senang karena ternyata kamu tidak menyesali apa yang telah kita lakukan itu."
Tanpa aba-aba, Calvin pun menarik Addara ke dalam dekapannya, memeluk istrinya itu dengan erat saking gemesnya.
Sementara itu Addara yang mendapat tarikan dari Calvin hanya mematung, dia tidak bergerak sama sekali dengan jantungnya yang terasa berdetak lebih cepat.
"Makasih karena kamu sudah mempercayai aku untuk menjadi bagian dari dirimu, menjadi orang pertama yang mengambil hal paling berharga dan paling kamu jaga itu," ucap Calvin mendaratkan beberapa kali kecupan di pucuk kepala Addara.
Sementara itu Addara masih diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa, juga harus menjawab bagaimana saat ini pikirannya mendadak terasa kosong.
Hanya sibuk, menenangkan jantungnya yang terasa semakin menggila, seolah ingin keluar dari tempatnya.
__ADS_1