
Calvin dan Addara saat ini tengah merebahkan tubuh mereka di ranjang dengan posisi Addara yang membelakangi Calvin, sedangkan suaminya itu memeluk tubuhnya dari belakang.
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, di mana mereka berkunjung ke rumah orang-tua Calvin dan pemuda itu yang menceritakan tentang kematian ibu kandungnya, kini suaminya itu sudah bersikap kembali seperti biasanya.
Hanya saja satu hal yang berubah dengan pemuda itu, dimana Calvin saat ini lebih sering meminta jatah untuk menyalurkan hasratnya pada istrinya itu, seolah tidak pernah bosan setiap malam mereka melakukan hal itu, bahkan kadang sampai beberapa kali.
Contohnya seperti saat ini, saat Addara baru saja menginjakkan kakinya di apartement sehabis pulang bekerja, ternyata pemuda itu sudah ada di apartement dan tanpa membiarkan Addara istirahat sejenak, dia langsung merengek untuk melakukannya, hingga akhirnya wanita itu pun tidak bisa menolaknya.
"Malam ini kita delivery aja ya makan malamnya," ucap Calvin yang semakin mengeratkan belitan tangannya, di perut ramping Addara.
Pemuda itu masih menikmati kehangatan yang dirasakannya, hingga membuat dia enggan untuk beranjak dan ingin kembali mengulang ronde selanjutnya, jika saja dia tidak memikirkan istrinya yang pasti kelelahan.
"Ya terserah saja, karena malam ini aku gak bisa masak. Aku benar-benar lelah," sahut Addara dengan mata terpejam.
"Kamu bisa istirahat dulu kalau lelah," tawar Calvin yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Addara.
Bagaimana dia bisa istirahat, jika saat ini tubuhnya terasa lengket dipenuhi oleh keringat yang dihasilkan dari seharian bekerja, juga kegiatan dengan suami mudanya itu.
"Kamu kenapa sih, suka banget mainin atau cium-cium bekas luka itu," imbuh Addara yang merasa heran dengan suaminya itu.
Sudah beberapa hari ini, pemuda itu selalu memainkan dan mencium bekas luka yang ada di punggungnya itu, meskipun dia selalu merasa minder dengan bekas luka yang cukup besar itu, tapi pemuda itu selalu melarangnya untuk menyembunyikan bekas luka itu.
"Apa kamu ingat, bagaimana bekas luka ini bisa ada?"
Calvin berbicara dengan sesekali mencium bagian permukaan leher hingga punggungnya yang terekspos itu, hanya selimut yang menutupi tubuh polos mereka itu.
"Aku ingat-ingat lupa, bagaimana aku bisa mendapatkan luka itu, kalau gak salah waktu itu aku lagi nolongin anak kecil deh," cerita Addara sambil berusaha mengingat.
__ADS_1
Flashback
Saat matahari sedang dalam keadaan terik, karena saat ini adalah waktunya untuk anak sekolah pulang sekolah. Seorang gadis yang tidak lain adalah Addara sedang berjalan sendirian, menyusuri jalanan yang sepi tidak ada kendaraan yang hilir mudik di kawasan itu.
Dia saat ini baru saja pulang dari sekolahannya, gadis dengan tubuh ramping dan tidak terlalu tinggi itu sengaja meminta sopirnya untuk tidak menjemputnya, karena dia ingin pergi jalan-jalan sekaligus mampir ke toko buku untuk membeli novel keluaran terbaru.
Gadis itu memang bukan gadis yang memiliki hobi belajar, jadi setiap kali pergi ke toko buku, dia lebih sering membeli novel atau komik untuk mengisi waktu luangnya ketika berada di rumah, ketimbang membeli buku yang berhubungan dengan sekolahnya.
Langkahnya yang semula santai, kini dia semakin memelankan langkah kakinya itu, manakala dia melihat kerusuhan dari jarak yang tidak terlalu jauh darinya, terlihat segerombolan remaja yang seumuran dengannya tengah ribut dengan benda tajam yang berada di tangan mereka.
Addara segera bersembunyi di balik pohon yang cukup besar yang ada di dekatnya, karena takut dia jadi korban salah sasaran dari orang-orang yang tengah saling baku hantam itu, sambil mengintip aksi segerombolan remaja itu, dia sesekali meringis ketika melihat beberapa remaja terluka, bahkan ada yang sampai berdarah karena terkena sabetan senjata tajam yang mereka bawa.
Karena tidak ingin kenapa-napa, Addara pun memutuskan untuk pergi dari tempat persembunyiannya, dia akan memutar balik, tapi baru saja kakinya melangkah. Netranya menangkap sosok anak kecil yang bertubuh gemuk tengah berjongkok di tengah-tengah kerumunan itu.
"Ngapain anak kecil itu, berada di sana, bukannya itu bahaya," gumam Addara menatap lurus anak kecil yang duduk di pinggir jalan tempat terjadinya tawuran itu.
Akhirnya tanpa pikir panjang Addara pun berjalan dengan langkah cepat ke arah anak itu, dia menatap anak laki-laki itu dengan perasaan cemas, takut menjadi salah sasaran dari aksi tawuran itu.
"Ayo pergilah!" Addara berusaha menarik tangan anak laki-laki yang hanya menatapnya dengan sendu itu.
Anak laki-laki itu, tidak bersuara sama sekali dan hanya menatap Addara dengan lamat. Addara pun tidak punya pilihan lain karena tidak mendapat respon dari anak itu, akhirnya dia pun menarik tangan anak itu untuk berdiri dan menyeretnya untuk pergi dari sana.
Anak laki-laki itu hanya menatap punggung Addara yang berjalan di depannya, dengan tangan menrik tangannya untuk menjauh dari kerumunan, Namun, beberapa detik kemudian suasana di sana semakin panas membuat Addara kian dilanda rasa cemas.
Para remaja yang Addara yakini seumur dengannya, karena baju yang mereka kenakan adalah seragam SMA, kini semakin menyerang orang yang ada di sana dengan semakin membabi buta.
Nahasnya, anak laki-laki yang berusaha dia bawa keluar dari kerumunan itu, malah tersandung hingga kedua lututnya menyentuh aspal, membuat pergerakan mereka terhenti, di antara para remaja yang masih saling serang itu.
__ADS_1
"Apa kamu kuat jalan?" tanya Addara semakin panik sambil membungkuk dan berusaha membantu anak itu untuk berdiri.
Belum sempat anak itu menjawab dan berdiri dengan tegak, tiba-tiba saja tubuh Addara terdorong dari arah belakang, hingga hampir terjerembab ke aspal, jika dia tidak menjaga keseimbangan dirinya dengan baik.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja, sebentar lagi pasti akan ada yang menghentikan mereka," ucap Addara secara refleks memeluk anak itu.
Dia menatap anak yang terlihat sedih itu dengan tersenyum, berharap hal itu bisa menenangkan perasaan anak itu, meskipun sebenarnya dia sendiri pun dilanda ketakutan.
Jleb ... sreettt
Mata Addara tiba-tiba saja melotot, ketika merasa ada benda tajam yang menembus punggungnya yang terbalut oleh seragam berwarna putih itu, rasa perih dia rasakan ketika benda itu kembali ditarik menjauh dari punggungnya.
Dia menoleh ke belakangnya, melihat remaja laki-laki tengah menatapnya dengan napas memburu, juga sebuah pisau yang terdapat di tangannya dengan tetesan darah di ujungnya.
Tak lama kemudian, seorang remaja lain mendekat ke arah remaja yang sempat menusuk Addara itu, dia melayangkan pukulan pada remaja itu, hingga akhirnya pertarungan mereka kembali berlanjut.
Karena suasana di sana yang ricuh dan saling emosi, mereka tidak ada yang memedulikan keadaan Addara dan anak kecil itu, karena yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana caranya agar geng mereka menang, tidak memedulikan sekitar.
"Kak," panggil anak kecil yang saat ini masih berada dalam dekapannya itu, menatapnya dengan khawatir.
"Ayo kita pergi dari sini," ucap Addara berusaha menegakkan tubuhnya.
Wanita itu mengabaikan rasa sakit di punggungnya, karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah pergi menjauh dari kerumunan itu, hingga beberapa langkah berjalan, dia dapat mendengar suara sirine polisi yang mendekat, membuat para remaja itu seketika pontang panting, pergi dari sana menghindari polisi, meskipun ada sebagian dari mereka tidak sempat pergi.
"Dek, kamu gak pa-pa?" tanya salah seorang polisi pada Addara yang berjalan dengan langkah perlahan.
"Tidak Pak, saya ha—"
__ADS_1
Perkataan Addara terpotong, karena belum sempat dia menyelesaikan ucapannya itu tiba-tiba saja kegelapan menghampirinya.
Flashback End