Young Husband

Young Husband
Canggung


__ADS_3

Setelah perdebatan halus antara Addara dan Airin yang memaksa untuk mengajak Addara pulang bersama, akhirnya wanita hamil itu pun menang.


Kini Addara tengah berada di dalam mobil milik Jeffrey, duduk di kursi belakang mobil itu, di antara pasangan yang tengah berbincang, lebih tepatnya dari tadi hanya Airin yang lebih mendominasi obrolan di sana.


Canggung, tentu saja kini Addara rasakan, dia hanya melihat ke samping dan sesekali melihat ke arah depan kalau Airin bertanya padanya atau mengajaknya bicara dan hanya menimpali seperlunya.


"Oh iya, Dar. Kapan-kapan kita makan bareng yuk, kayaknya seru deh kalau kita masak bareng," ucap Airin menoleh ke kursi belakang tempat Addara duduk.


Addara yang sebelumnya tengah menikmati perjalanan pun, kini mulai mengalihkan kembali pandangan pada wanita hamil itu, dia kemudian tersenyum samar.


"Nanti kalau kita lagi senggang, mungkin kita bisa masak bareng," sahut Addara sekedar berbasa-basi.


Karena sebenarnya, dia tidak mengharapkan seringnya ada pertemuan antara dirinya dan pasangan itu, tidak mudah hatinya untuk berdamai dengan keadaan yang terjadi saat ini.


Apalagi mengingat, jika Jeffrey meninggalkan dirinya begitu saja di hari pernikahan mereka, demi untuk menikahi Airin, wanita yang Jeffrey sebutkan di surat yang dia berikan di hari pernikahan itu.


Dia bukanlah malaikat yang tidak memiliki rasa benci pada pasangan itu, juga bisa dengan mudahnya memaafkan perlakuan Jeffrey padanya dengan lapang dada, karena pada kenyataannya goresan di hatinya masih terasa, hingga saat ini.


Namun, dia berusaha sekuat tenaga menekan perasaan itu, berpura-pura jika dia baik-baik saja, di depan pasangan itu, apalagi melihat sikap Airin yang sepertinya tidak mengetahui tentang hubungan dirinya dan Jeffrey.


Dia beranggapan, mungkin saja wanita itu juga sama-sama korban, di mana Airin tidak tahu jika pria di sampingnya itu, sudah memiliki kekasih sebelumnya. Dan mungkin saja, jika seandainya keadaan Airin tidak hamil, mungkin dia saat ini sudah menjadi istri Jeffrey.


Namun, di balik kekecewaan yang Addara rasakan, ada rasa syukur atas apa yang telah terjadi dalam hidupnya itu.


Dia bersyukur karena dengan kehamilan Airin, dia tidak jadi menikah dengan Jeffrey. Entah apa yang akan terjadi jika seandainya Airin tidak hamil, mungkin saat ini dia sudah menjadi istri Jeffrey tanpa tahu jika pria itu menjalin hubungan dengan wanita lain di belakangnya.


Ternyata benar, Tuhan selalu menyimpan hikmah dari setiap kesedihan atau cobaan yang terjadi dalam hidup kita, dia memang merasa sedih dan kecewa dengan kejadian itu, tapi dia juga bersyukur karena Tuhan menunjukkan wajah asli Jeffrey, sebelum dia benar-benar jatuh terlalu jauh ke dalam permainan pria itu.


"Kalau aku sih, kapan aja bisa karena saat ini kegiatan aku cuma bantuin Mama aku aja, tapi kamu pasti harus kerja, begitu pun dengan suami aku. Suami kamu juga pasti sibuk sama kuliahnya ya," ucap Airin terdengar menyayangkan keadaan itu.


Dari ekor matanya, Addara dapat melihat jika Jeffrey sempat melirik ke arahnya, melalui kaca spion di depannya, ketika Airin membahas tentang suaminya, tapi Addara tidak menghiraukan hal itu.

__ADS_1


"Ya, begitulah. Apalagi saat ini suami aku lagi cukup sibuk, jadi waktu luangnya terbatas," sahut Addara dengan tenang.


Sementara hatinya bernapas lega, karena secara tidak langsung dia bisa menolak ajakan dari wanita hamil itu.


"Tapi, siapa tau aja nanti kita kebetulan punya waktu yang sama-sama luang, iya 'kan Yang?" ucap Airin dengan wajah yang kembali ceria dan menatap suaminya.


Jeffrey hanya bergumam sebagai jawaban dari istrinya, dia hanya fokus pada setirnya.


"Aku pengennya kita itu kumpul bareng terus makan bareng sebelum rumah kami selesai di renovasi, menurut kamu gimana, Dar?" Airin kembali menoleh lagi ke kursi belakang.


"Hemmm, kita lihat nanti aja ya, aku gak bisa janjiin hal itu," sahut Addara masih berusaha memasang senyumannya.


Seandainya kamu tau, siapa aku dan apa hubungan aku dengan suami kamu itu sebelumnya, apa kamu bakal tetap seramah ini padaku. Atau justru kamu akan menjauhiku, dan apakah kamu sendiri tau bagaimana kelakuan suami kamu itu yang sesungguhnya.


Addara berbicara dalam hatinya dengan pandangan sudah kembali ke arah jalanan yang mereka lewati, entah kenapa kali ini perjalanan itu terasa begitu lama, entah karena tempatnya tadi yang memang jauh dari apartement, atau karena dia memang sudah tidak nyaman saja, hingga dia merasa perjalanan itu terasa sangat lama.


"Oh iya, Dar. Ngomong-ngomong aku penasaran lho, sama kisah kamu dan suami itu?" tanya Airin setelah beberapa saat terdiam.


"Maaf ya, bukan maksudnya aku nyinggung kamu atau mau tau urusan kamu dan hubungan kamu itu. Hanya saja aku merasa penasaran, karena hubungan kalian sepertinya agak unik," sambung Airin sambil terkekeh.


"Ya, begitulah," sahut Airin apa adanya.


Addara tidak langsung menyahuti pertanyaan wanita hamil itu, dia menegakkan tubuhnya terlebih dahulu dengan tatapan yang tiba-tiba berubah menjadi penuh kekecewaan yang tidak Airin sadari, tapi dapat disadari oleh satu-satunya pria yang ada di sana.


"Aku sama dia tidak pernah menjalin hubungan sebelumnya," sahut Addara dengan tatapan lurus ke arah depan.


"Oh, kalian dijodohkan gitu," tebak Airin sambil manggut-manggut.


"Tidak juga," sahut Addara singkat.


"Terus?" tanya Airin yang semakin penasaran dengan kisah Addara, sedangkan Addara sendiri sebenarnya enggan untuk bercerita.

__ADS_1


Dia merasa jika mereka tidaklah sedekat itu, hingga dia harus bercerita secara terang-terangan tentang kehidupannya pada orang yang belum lama dia kenal, apalagi ada pria yang menempati tempat di masa lalunya.


"Sayang," panggil Jeffrey dengan nada yang sedikit ditekankan, seolah peringatan agar istrinya berhenti bertanya.


Pria itu dapat melihat raut kurang suka dari mantan kekasihnya dengan pertanyaan-pertanyan seputar hubungannya dengan suaminya yang dilayangkan oleh Airin.


Airin yang paham dengan maksud suaminya itu, kemudian kembali menatap Addara dengan memasang wajah tak enaknya.


"Maaf ya, kalau aku terlalu banyak tanya dan ingin tau tentang kehidupanmu itu, padahal kita belum lama kenal," ucap Airin dengan menyesal.


"Iya gak pa-pa," sahut Addara berusaha kembali tersenyum, agar bisa keluar dari suasana canggung yang menyeruak di sana.


"Sebenarnya aku kalau udah kenal, jadi pengen lebih kenal lagi, jadi kadang tidak bisa di rem dalam bertanya," cerita Airin.


Addara tidak menyahutinya lagi, karena kebetulan mobil itu telah berhenti di basement apartement mereka.


"Ayo turunlah duluan, aku mau parkir dulu," ucap Jeffrey, pada Airin.


"Iya ayo, Dar."


Addara hanya mengangguk sebagai jawaban dari ajakan Airin itu, setelah Jeffrey keluar dari mobil, dia mengucapkan terima kasih atas tumpangannya dan berpamitan lebih dulu pada pasangan itu untuk pergi lebih dulu.


Dia tidak ingin lebih lama lagi berada di sekitar pasangan itu, wanita itu berjalan dengan cepat meninggalkan pasangan itu, meskipun Airin belum memberikan sahutan.


"Addara kenapa ya, " gumam Airin yang dapat Jeffrey dengar.


"Mungkin dia lagi buru-buru," sahut Jeffrey melingkarkan tangannya di pundak Airin.


"Iya kali ya. Atau mungkin dia merasa tersinggung karena aku banyak bertanya padanya," ucap Airin dengan raut wajah tak enaknya.


"Seharusnya kamu gak perlu terlalu banyak bertanya tentang kehidupannya, kalian 'kan belum lama kenal."

__ADS_1


"Aku 'kan hanya mencoba mendekatkan diri aja padanya, apa salahnya kalau aku mau berteman dengannya."


Jeffrey tidak menyahuti ucapan istrinya itu, dia hanya diam sambil menuntun istrinya untuk segera menuju ke unit mereka.


__ADS_2