Young Husband

Young Husband
Tetangga Baru


__ADS_3

Addara dan Calvin pun, keluar dari unit mereka, mereka berjalan beriringan menuju lift untuk sampai di lantai paling bawah di gedung itu, ketika lift akan tertutup terlihat seorang wanita buru-buru ke arah lift, hingga membuat Addara secara refleks menghentikan lift yang akan mulai tertutup itu.


"Terima kasih sudah menahan liftnya untukku," ucap seorang wanita ketika memasuki lift itu dengan napas yang terengah-engah.


Wanita yang memakai dres berwarna cream itu tersenyum pada Addara, lesung pipi yang hadir ketika dia tersenyum, membuat nilai plus pada kecantikan yang dimiliki wanita itu.


"Sama-sama, kamu harusnya jangan lari seperti itu, apalagi dalam keadaan kamu yang seperti ini, itu bisa saja membahayakan kandunganmu," ucap Addara yang memang menyadari perut wanita di balik dresnya itu terlihat besar.


"Haah, iya aku buru-buru soalnya, suami aku udah nungguin di bawah dan tadi dia malah melupakan berkas-berkas penting miliknya di unit kami," sahut wanita hamil itu mengusap pelipisnya yang sedikit basah.


Addara tidak menimpali ucapan wanita itu, dia hanya manggut-manggut dan melihat ke depannya, sedangkan Calvin dari tadi hanya diam, tidak berniat untuk ikut gabung dalam obrolan Addara dan wanita asing itu.


"Kenalin, aku Airin. Aku pendatang baru di apartment ini," ucap wanita bernama Airin itu mengulurkan tangannya.


Addara kembali menoleh pada wanita hamil itu, dia melirik tangannya yang terulur lalu membalas uluran tangan itu.


"Aku Addara," sahut Addara tersenyum ramah.


"Apa kalian pasangan?" tanya Airin melirik Calvin yang hanya fokus melihat ke arah depannya.


"I-iya, dia–"


"Aku suaminya, namaku Calvin," sahut Calvin yang memotong ucapan Addara yang terlihat ragu-ragu.


"Oh, hai salam kenal. Aku Airin penghuni baru di gedung ini." Airin tersenyum pada Calvin yang hanya memasang wajah datar.


Calvin tidak menyahuti ucapan Airin itu, dia hanya mengangguk samar sebagai bentuk sopan santun atas perkataannya.


"Kalian udah lama tinggal di sini?" tanya Airin kembali membuka percakapan di antara mereka.


"Aku belum lama, karena kita menikah baru beberapa minggu, kalau suami aku udah cukup lama," sahut Addara.


"Oh gitu ya, aku juga memilih untuk tinggal di sini dulu sambil menunggu rumahku selesai direnovasi. Suami aku gak mau tinggal di rumah orang-tuaku, begitu pun sebaliknya, jadi kami mutusin untuk menyewa tempat ini untuk sementara," cerita Airin panjang lebar.


Addara hanya merespon cerita wanita hamil itu dengan senyuman, tidak tahu harus meresponnya dengan seperti apa, karena mereka baru saling mengenal.


"Kamu bekerja?" tanya Airin melihat penampilan Addara dari atas sampai bawah.


"Iya," sahut Addara singkat sambil mengangguk.


"Kalau suami kamu?"


Calvin yang merasa jadi pusat perhatian Airin hanya melirik sekilas wanita itu, lalu kembali melihat ke depan tidak berniat menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


"Tidak, dia mau kuliah," sahut Addara yang merasa tak nyaman dengan tatapan Airin yang seolah menilai dirinya dan Calvin ketika dia menjawab pertanyaannya.


"Ah, maaf kalau aku membuat kalian kurang nyaman." Airin merubah wajahnya jadi raut tak enak.


"Tidak apa-apa kok, santai aja," sahut Addara kembali bersikap biasa saja karena tidak ingin membuat wanita yang baru dikenalnya itu merasa tidak enak.


"Oh iya, kenapa tidak suami kamu aja yang ngambil berkas itu, kenapa harus kamu?" tanya Addara mengalihkan percakapan.


"Oh ini, tadi aku juga sekalian mau ke kamar kecil, jadi biar sekalian aja gitu," sahut Airin.


Addara pun mengangguk paham dengan penjelasan dari wanita itu, tak lama kemudian lift pun sampai di tempat tujuan mereka yaitu lantai paling bawah gedung itu.


"Aku duluan ya, suami aku udah nungguin di mobilnya, sampai ketemu lagi nanti, senang bertemu denganmu," pamit Airin dengan suara ramahnya pada Addara.


"Iya, senang bertemu denganmu juga," sahut Addara tak kalah ramahnya.


Dia melihat wanita hamil yang memakai dres sampai dibawah lutut itu, berjalan dengan wajah ramahnya menuju sebuah mobil yang terparkir di depan lobby gedung itu.


Airin orang yang ramah dan terlihat mudah bergaul menurut Addara, karena buktinya di pertemuan pertama mereka saja, Airin terlihat tidak kaku ketika mereka baru pertama kali bertemu dan mengobrol.


"Ayo, katanya takut kesiangan," ucap Calvin membuat Addara menoleh ke arahnya lalu mengangguk.


"Iya ayo," sahut Addara.


******


Sore harinya, Addara terpaksa pulang menggunakan taksi karena Calvin tidak bisa menjemputnya, pemuda itu memiliki tugas kuliah hingga dia tidak bisa menjemput Addara seperti sebelumnya.


Addara pun tidak merasa keberatan dengan hal itu, karena sebelumnya dia sudah terbiasa pulang menggunakan taksi seperti itu.


Taksi yang mengantarkan Addara pun, kini telah sampai di depan lobby gedung apartemennya itu, dia pun segera keluar dari taksi itu dan berjalan memasuki apartemennya.


"Addara!"


Addara yang baru saja beberapa langkah memasuki gedung itu, menoleh ketika mendengar suara yang memanggil namanya.


Dia kemudian tersenyum, pada wanita hamil yang tengah berjalan ke arahnya, sambil membawa sebuah kantong plastik berukuran sedang yang berwarna kuning.


"Hai, Airin. Kamu baru pulang?" tanya Addara dengan ramah pada wanita dengan perut yang sedikit buncit itu.


"Iya, kamu juga baru pulang?" Angguk Airin.


"Iya, kamu sendirian aja?" tanya Addara.

__ADS_1


"Iya, suami aku harus ketemu sama klien dulu, jadi tadi dia anterin aku cuma sampai depan lobby aja," sahut Airin.


"Oh gitu." Angguk Addara lalu mulai melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Airin di sampingnya.


"Kamu sendiri, gak bareng suami kamu?"


Addara menggeleng, tangannya bergerak memencet tombol lift agar terbuka, karena posisinya dekat dengan tombol itu.


"Dia ada tugas tambahan di kampusnya, jadi bakal pulang telat," terangnya menoleh sekilas pada Airin sambil tersenyum, sedangkan Airin hanya mengangguk singkat dan ikut tersenyum.


Ketika lift mulai terbuka, mereka pun masuk ke dalamnya, beberapa detik tidak ada yang bersuara, hingga Addara kembali membuka percakapan.


"Berapa usia kandunganmu?" tanya Addara menoleh ke arah sampingnya, menatap Airin.


"Udah mau lima bulan," sahut Airin sambil tersenyum dan mengusap perutnya.


"Semoga semuanya dilancarkan sampai hari persalinan," ucap Addara dengan tulus.


"Aamiin, semoga kamu juga segera diberikan momongan ... Eh apa kamu menunda hal itu dulu?" tanya Airin dengan hati-hati takut malah salah bicara.


Addara tidak menjawabnya, dia hanya menggeleng sambil tersenyum pada Airin, lalu kembali melihat ke depan lagi.


Mereka pun akhirnya sama-sama diam lagi, lift mulai berhenti pertanda jika mereka telah sampai ke tujuan mereka.


"Oh iya, kamu di unit yang mana?" tanya Airin ketika mereka keluar dari lift.


"Di unit yang ada di sana," tunjuk Addara pada pintu unitnya.


Airin pun melihat ke arah yang ditunjuknya, kemudian mengangguk paham.


"Oh, kalau aku, di unit yang itu." Kini giliran Airin yang menunjuk unitnya.


Giliran Addara yang melihat ke arah pintu yang ditunjuk wanita hamil itu dan mengangguk juga.


"Oh iya sampai lupa, ini untukmu," ucap Airin menyerahkan sebuah kotak bergambar kue yang dia keluarkan dari kantong yang dibawanya.


"Anggap saja ini, sebagai tanda perkenalan kita hari ini, kue ini adalah kue dari toko langganan aku dan rasanya dijamin tidak mengecewakan," sambung Airin panjang lebar dan diakhiri dengan kekehan.


"Terima kasih, tapi aku tidak punya apa-apa untuk tanda perkenalan kita ini." sahut Addara mengambil kotak itu dengan tidak enak hati.


"Aku tidak mengharapkan balasan kok," sahut Airin terkekeh. "Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu ya," pamit Airin.


"Iya, sekali lagi makasih ya kuenya."

__ADS_1


Airin mengangguk, dia pun berbalik pergi dari sana menuju ke unitnya, begitu pun dengan Addara, dalam hati dia merasa cukup senang atas pertemuan dengan tetangga barunya itu.


__ADS_2