
Calvin sampai di apartement ketika waktu untuk makan malam telah tiba, pemuda itu segera memasuki unitnya dan telinganya langsung menagkap suara yang berasal dari arah dapur.
Dia berjalan ke arah sumber suara dan ketika sampai di dinding yang menjadi pembatas antara dapur dengan ruang tengah unitnya, dia melihat istrinya tengah berbincang di depan kompor bersama dengan seorang wanita yang dia yakini adalah teman kerjanya.
Addara menoleh ke arahnya, ketika menyadari kehadirannya. Seutas senyum wanita itu berikan pada suaminya yang kini tengah berdiri dengan memasang senyum juga ke arahnya.
"Vin, kamu udah pulang. Mandi dulu gih, setelah itu kita makan malam," ucap Addara padanya.
Belum sempat pemuda itu menyahut, suara dehaman dari arah sampingnya membuat Addara menoleh ke sumber suara, dimana Olivia tengah memberikan kode padanya, agar dia dikenalkan pada suaminya.
Addara memutar matanya malas, dia kemudian kembali beralih menatap Calvin, lalu mengikuti apa yang temannya itu inginkan.
"Oh iya, ini teman aku. Namanya Olivia."
"Hai, namaku Olivia, makasih ya udah ngizinin aku buat main ke sini," ucap Olivia dengan wajah riangnya sambil berdadah-ria pada Calvin.
"Iya sama-sama, asal istriku merasa nyaman aku tidak keberatan untuk itu," sahut Calvin seperlunya.
Dia hanya tersenyum singkat, juga menatap Olivia sekilas, lalu kembali melihat ke arah istrinya yang tengah memakai apron dengan baju rumahan miliknya itu.
"Aku mau bersih-bersih dulu kalau gitu," pamitnya dengan tatapan fokus pada Addara.
Sementara Olivia menatapnya sambil senyum-senyum, mengagumi rupa yang dimiliki Calvin, benar-benar visual yang menurutnya nyaris sempurna.
"Iya pergilah, setelah itu cepat ke sini lagi, biar kita bisa makan malam bareng. Makanannya juga hampir siap," sahut Addara dengan sedikit anggukan kepala.
Calvin hanya mengangguk sebagai respon, setelah itu, berbalik pergi tanpa berpamitan pada Olivia yang masih betah menatapnya dengan mata yang nyaris tak berkedip.
"Udah kali, Liv. Natapnya jangan kayak yang mau nelen suami aku hidup-hidup aja," cetus Addara membuat pandangan Olivia kembali teralihkan padanya.
Wanita yang lebih muda darinya tersenyum lebar padanya dan berbicara dengan antusias. "Suami kamu benar-benar visual yang nyaris mendekati sempurna, Dar."
__ADS_1
Addara tidak memedulikan pujian yang Olivia layangkan untuk suaminya itu, dia kembali membalikkan tubuhnya menghadap kompor dan meneruskan aktivitas masaknya.
"Ternyata kalau dilihat dari jarak dekat, suami kamu itu sebelas dua belas sama Cha Eun-woo dong," sambung Olivia dengan heboh.
Addara hanya menggelengkan kepalanya, mendengar hal itu. Namun, dia pun tidak membantah apa yang Olivia katakan itu, suaminya itu memang memiliki nilai plus dari segi fisik, bukan cuma itu saja nilai plus dari pemuda itu, sikap dan karakter pemuda itu pun nyaris sempurna menurutnya.
Wanita itu tiba-tiba saja menghela napas dalam, membandingkan perbedaan dirinya dan pemuda itu, itu dari berbagai segi. Dia dan suaminya cukup jauh berbeda menurutnya, apalagi jika sudah bersangkutan dengan umur mereka.
Tidak akan lama lagi, dia akan menginjak usia 30 tahun, sedangkan pemuda itu saat ini masih sangat muda. Bagaimana jika seandainya, suatu saat nanti ada perempuan yang sebaya dengan Calvin menyukai pemuda itu, apakah pemuda itu akan menyukai perempuan itu juga.
Addara mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran aneh dalam kepalanya itu, dia mengangkat masakan yang sudah matang itu dan menuangkannya ke piring saji. Telinganya saat ini sudah merasa lelah mendengar ocehan dari temannya yang seolah tidak habis bahan untuk dibicarakan.
...******...
Kini berbagai menu sudah tersaji di meja makan yang tidak terlalu besar itu, begitu pun dengan pemilik utama tempat itu yang kini sudah duduk manis di kursi yang berada di samping istrinya.
Mereka bertiga pun mulai menyantap makanan yang sudah tersaji, Olivia beberapa kali melayangkan beberapa pertanyaan ringan pada Calvin dan hanya dijawab seperlunya oleh pemuda itu.
Olivia langsung protes, ketika Calvin memanggilnya dengan sebutan Mbak, karena dia merasa panggilan itu terlalu menggelikan. Alhasil, Calvin pun memanggil wanita itu dengan sebutan nama, sesuai dengan keinginannya.
Pertanyaan yang temannya itu layangkan, mengusik pendengaran Addara yang sebelumnya hanya fokus pada makanan. Secara perlahan atensi wanita itu mulai beralih pada suaminya, dia pun merasa penasaran akan hal itu.
Sementara itu, orang yang mendapat pertanyaan itu juga mulai mengalihkan atensinya pada Olivia, tanpa menghentikan kegiatan menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Belum," sahut Calvin dengan santai diiringi gelengan kepala ringan.
"Terus, terus. Kalau suka sama cewek, kamu pernah gak?" tanya Olivia yang antusias.
"Pernah," sahut pemuda itu dengan anggukan cepat.
"Seperti apa wanita yang kamu sukai itu?"
__ADS_1
Calvin tidak langsung menyahuti pertanyaan dari Olivia itu, tapi dia menoleh ke samping. matanya terarah pada Addara dengan seutas senyum samar yang dia tunjukkan. Addara yang mendapat tatapan seperti itu dari Calvin, mendadak merasa gugup.
"Seorang wanita yang langsung bisa menempati hatiku, pada saat pertemuan pertama kita. Wanita yang tidak mudah untuk aku dapatkan, tapi terus menarikku untuk mendekat padanya."
Mata pemuda itu tidak lepas dari istrinya, tangannya dengar tenang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, menatap perubahan yang terjadi pada wajah Addara yang tahu arah pembicaraannya itu.
Olivia menatap Calvin dengan tatapan mata berbinar, meskipun dia tidak terlalu paham maksud dari ucapan pemuda itu. Namun, dia merasa jika itu adalah hal yang mengagumkan.
"Liv, kamu sebaiknya cepat deh makan malamnya, ini udah malam. Kamu harus pulang," ucap Addara berusaha menghilangkan kecanggungan yang dia rasakan dan membuang pandangan ke arah temannya.
"Kamu kenapa sih gak suka banget aku di sini kayaknya," sahut Olivia cemberut.
"Kamu cemburu ya, karena aku nanyain tentang perempuan lain yang suami kamu suka itu. Kamu tenang aja, aku yakin itu hanya masa lalu iya 'kan, Vin." Olivia meminta dukungan dari pemuda itu.
Calvin hanya menjawabnya dengan anggukan ringan dan sedikit mengangkat bahunya.
"Aku gak cemburu, soal itu."
Untuk apa Addara merasa cemburu pada wanita yang Calvin ceritakan itu, karena dia tahu jika wanita yang pemuda itu maksud adalah dirinya sendiri.
"Apa jangan-jangan kamu cemburu karena aku banyak bicara sama Calvin, kamu masih nganggep aku punya maksud lain gitu pada suami kamu … ya ampun, Dar. kamu tenang aja kali, meskipun suami kamu itu emang ganteng, tapi sumpah deh dia bukan tipe aku. Lagian aku juga udah punya pacar."
"Sejak kapan kamu punya pacar?" tanya Addara dengan heran, karena setahunya temannya itu belum punya pasangan sama sekali.
Bukan tanpa alasan dia heran, karena kebiasaan wanita itu yang banyak bicara, jadi dia selalu cerita jika dia memang sedang menyukai seseorang atau sedang dekat dengan seseorang.
"Kamu lupa ya, pacar aku 'kan Ayang Jin," sahut Olivia dengan wajah bangganya.
Addara memutar matanya malas, dia baru ingat jika temannya itu adalah penggemar garis keras boyband asal Korea dan selalu ber-halu jika dia adalah pacar dari member paling tua di boyband asal Korea yang berjumlah tujuh orang itu.
Calvin kini kembali menyelesaikan makannya, tidak menimpali apa yang dibahas oleh wanita-wanita itu, karena dia tidak mengerti tentang pembahasan itu, juga tidak ambil pusing tentang hal itu.
__ADS_1
...******...
Sementara itu, di lain tempat kini sedang terjadi perdebatan di antara pasangan yang belum lama menikah, masalah yang menjadi perdebatan mereka adalah tentang masa lalu si pria....