Young Husband

Young Husband
Kesedihan Addara


__ADS_3

Addara kira hidupnya sudah lebih baik setelah beberapa minggu telah terlewati dan sudah bisa melupakan kejadian tempo hari, dimana dia melihat bayangan Jeffrey secara tidak sengaja di pusat perbelanjaan.


Namun ternyata nasib baik, seolah tidak bisa membiarkan dia hidup dengan tenang, manakala apa yang mati-matian berusaha dia hindari, kini malah berada tepat di depannya.


Tubuh wanita itu mematung di tempat, ketika matanya bertatapan dengan pria yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi wajah tenang, pria itu tetap sama seperti terakhir mereka bertemu sebelum hari pernikahan gagal itu.


Addara ingin menyangkal sebuah rasa yang kini hadir dalam dirinya, tapi dia tidak dapat membohongi hatinya, ketika rasa rindu itu hadir di sudut hatinya.


"Sayang, kamu belum naik ternyata."


Suara dari orang yang berasal dari arah samping mereka berdua, membuat kedua orang itu menoleh bersamaan melihat si pemilik suara.


Rupanya di jarak beberapa langkah dari mereka, seorang wanita hamil tengah menatap pria itu dengan senyuman yang tersungging di bibirnya. Dan senyuman wanita itu kian melebarkan ketika mengalihkan pandangan pada Addara.


"Hai, Dar. Kamu baru pulang juga," ucapnya pada Addara.


Addara hanya diam dengan tatapan lurus, otaknya masih berusaha menelaah apa yang ada di depannya itu. Apakah benar panggilan sayang dari Airin itu untuk Jeffrey, jika itu benar, berarti pria itu suami dari wanita yang baru beberapa hari ini dia kenal.


"Dar, kamu baik-baik saja?" tanya Airin karena melihat Addara terlihat pucat.


Addara tersentak dari lamunannya, dia kemudian mengalihkan pandangan pada wanita hamil itu dan berusaha memasang senyuman sambil mengangguk.


"Ya, a—aku baik-baik saja," sahut Addara sedikit gelagapan.


"Oh, baguslah kalau gitu, kamu baru pulang kerja?" tanya Airin lagi dengan senyum ramah seperti biasanya.


"Tidak, aku udah pulang dari tadi, barusan aku habis dari minimarket depan membeli sesuatu," sahut Addara memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


Airin melihat ke arah tangannya dan mengangguk, ketika menyadari jika dia membawa kantong plastik merek minimarket yang berukuran sedang.


"Oh, kirain baru pulang." Angguk Airin.


"Eh, iya kenalin ini Jeffrey, suami aku. Sayang ini tetangga kita yang pernah aku ceritain itu," sambung Airin mengenalkan mereka berdua.

__ADS_1


"Aku Jeffrey, suami Airin."


Deg....


Jantung Addara terasa ngilu, mendengar pria yang ternyata masih menempati hatinya itu memperkenalkan dirinya sebagai suami orang lain.


Addara menatap wajah Jeffrey yang terlihat tenang, seolah mereka baru kali ini bertemu dengan intens, setelah mampu menguasai dirinya dia pun mulai mengangkat tangannya yang sedikit gemetar.


Menyambut uluran tangan Jeffrey, seolah ini adalah pertemuan pertama mereka, padahal beberapa minggu kebelakang, tangan inilah yang selalu menggenggam tangannya dengan lembut.


Tangan yang kini berada dalam genggamannya itulah yang beberapa tahun memberikan kehangatan padanya, tapi kini Addara menggenggam tangan itu lagi, sebagai orang asing.


Addara segera menarik tangannya, karena takut tidak dapat mengendalikan dirinya lagi, dia berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak keluar dari netranya itu.


"A—aku duluan ya," pamit Addara ingin segera menghindar dari pasangan itu, sebelum pertahanan dalam dirinya benar-benar hancur.


"Barengan aja yuk, kita 'kan satu lantai." Airin berjalan mengimbangi langkahnya, diikuti oleh Jeffrey di belakangnya.


Dia berdiri di belakang pasangan itu, ingin rasanya dia menutup mata dan telinganya agar tidak melihat ataupun mendengar aktivitas di depannya itu.


Namun, matanya selalu saja mencuri-curi pandang pada pasangan itu, terutama pada pria yang saat ini menatap wanita di sampingnya dengan penuh cinta.


Airin bercerita tentang kesehariannya dan pria itu menimpalinya dengan sesekali tersenyum, perlakuan lembut Jeffrey terhadap Airin seolah pedang yang mencincang habis hatinya.


Kenapa pria itu terlihat begitu bahagia bersama Airin, seolah tidak ada beban sama sekali, seolah wanita itu adalah wanita yang paling dicintainya.


Terus, apa artinya kebersamaan dia dan Jeffrey selama beberapa tahun itu, kebahagiaan yang dia rasakan dulu ketika bersamanya, apakah semua itu hanyalah ilusinya semata.


Addara menyadarkan tubuhnya di dinding lift, kakinya terasa lemas tak bertenaga, dadanya terasa sesak mengingat setiap kenangan kebersamaan dia dan Jeffrey ternyata hanya sebuah ilusi saja.


Jadi selama ini, hanya akulah yang merasa bahagia dengan kebersamaan kita itu. Bisik Addara dalam hatinya dengan sesak yang terasa menghimpit.


"Dar, aku sama suami aku duluan ya," ucap Airin, membuat Addara berusaha menegakkan tubuhnya.

__ADS_1


"Iya," sahutnya berusaha tersenyum.


Matanya secara perlahan mulai beralih pada Jeffrey yang juga tengah menatapnya, tapi dia segera membuang pandangannya lagi.


Pasangan itu pun mulai keluar dari lift, begitu pun dengan Addara yang mulai memaksa kakinya untuk melangkah, kepalanya tertunduk dan tak lama kemudian isakaan tangis mulai terdengar di sertai punggungnya yang bergetar.


"Sayang, kamu kenapa?"


Addara mengangkat wajahnya, melihat Calvin yang sudah berada di depannya tengah menatap dirinya dengan khawatir. Tangis Addara kian pecah, dia tidak dapat lagi membendung perasaannya.


Calvin tidak bertanya lagi, pemuda itu memilih membawa Addara masuk ke unit mereka karena kebetulan saat ini mereka sedang berada di depan unit mereka.


Dia menarik Addara yang menangis itu ke dalam pelukannya, posisi mereka saat ini masih berdiri di depan pintu apartement yang belum tertutup sepenuhnya.


Addara menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Calvin, dia bahkan tidak memedulikan kantong belanjaannya yang saat ini sudah jatuh ke lantai, hingga isinya berhamburan.


Tidak ada kata yang Calvin ucapkan, dia hanya mengusap kepala serta punggungnya, untuk menenangkan wanita itu.


"Kenapa harus sesakit ini, Vin. Aku membencinya, tapi kenapa aku tidak bisa memakinya."


"Aku malah merasa sakit, ketika melihatnya bahagia dengan wanita lain, sementara aku di sini tersiksa dengan apa yang telah dia lakukan."


"Kenyataan jika selama ini, kebahagiaan yang aku rasakan ketika bersamanya hanyalah ilusi, membuat hatiku terasa dicincang hingga menjadi seonggok daging yang tak berguna ... rasanya benar-benar sakit!" lirih Addara dengan tangan yang meremas punggung Calvin.


Calvin yang mendengar racauan dari Addara itu, kini mulai paham kenapa wanita itu bisa menangis sampai seperti ini.


Dia hanya bisa menghela napas sedalam-dalamnya, menenangkan hati yang sakit melihat Addara masih begitu menyimpan perasaannya terhadap pria itu, tapi dia juga lebih sakit melihat Addara menagis tidak berdaya seperti sekarang.


"Menangislah sepuasnya, jika itu memang bisa membuatmu lebih tenang," ucapnya dengan usapan lembut yang masih terus dia lakukan pada kepala dan punggungnya.


Addara semakin memeluk Calvin dengan erat, dia tidak peduli jika kaos yang Calvin gunakan saat ini sudah basah oleh air matanya itu.


Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya melampiaskan kekalutan yang kembali hadir di hatinya, berharap dengan itu mampu menenangkan kembali hatinya yang terasa remuk.

__ADS_1


__ADS_2