Young Husband

Young Husband
Ke Rumah Orang-tua Calvin


__ADS_3

Addara dan Calvin saat ini sedang berada di dalam mobil, pemuda itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Addara duduk dengan tenang di sampingnya dengan tatapan lurus ke arah depannya.


Tujuan mereka saat ini adalah rumah orang-tua Calvin, memang sejak menikah, ini merupakan yang pertama kalinya Addara akan berkunjung ke rumah mertuanya itu.


Entah kenapa, Calvin tidak pernah mengajaknya pergi ke sana, tapi Addara sendiri pun tidak pernah menyinggung soal berkunjung ke rumah itu, jika bukan hari ini mertuanya menghubungi Calvin dan meminta mereka untuk berkunjung, mungkin mereka tidak kepikiran untuk itu.


"Kenapa kamu gak pernah ngajak aku ke sana, Vin?" tanya Addara menoleh ke arahnya.


"Aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak nyaman ketika di sana," sahut Calvin menatapnya sekilas dan kembali memfokuskan dirinya pada jalanan di depannya.


"Orang-tua kamu pasti sebelumnya tidak setuju dengan pernikahan kita itu ya," tebak Addara.


Dia dapat melihat ekspresi terpaksa yang mertuanya tunjukkan padanya, ketika pertemuan pertama dan terakhir mereka di hari pernikahannya itu.


Dia dapat memahami jika mertuanya merasakan hal itu, karena walau bagaimana pun, usia Calvin masih muda sehingga perjalanan dia masih panjang, mereka pasti takut dengan adanya ikatan itu, akan mengurangi ruang gerak Calvin ke depannya.


"Aku tidak peduli apa pendapat mereka atau pendapat orang lain, toh setelah menikah aku tidak pernah mengusik kehidupan mereka," sahut Calvin dengan nada cuek.


Addara sampai mengerutkan kening, ketika mendengar nada seperti itu darinya, dia merasa jika hubungan Calvin dan mertuanya itu tidak terlalu baik.


Dia ingin bertanya tentang hal itu, tapi takut malah akan membuat Calvin tersinggung, hingga akhirnya dia pun memilih mengurungkan keinginannya itu.


"Kamu juga jangan terlalu peduli pada pendapat orang lain terhadap dirimu, karena yang menjalani kehidupan itu dirimu sendiri, mereka tidak tau apa-apa tentang kehidupanmu yang sebenarnya."


Addara menoleh lagi, lalu tersenyum pada suaminya itu, dia memang terkadang selalu memikirkan pendapat orang lain tentang hidupnya, tanpa dia sadari jika hal itu sebenarnya akan menghadirkan penyakit pada hati dan pikirannya.


Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka, hingga mobil yang Calvin kendarai itu pun berhenti di depan gerbang berwarna emas yang menjulang tinggi.


Calvin menekan kelakson mobilnya dan tak lama kemudian, gerbang tinggi itu pun mulai dibukakan oleh pria yang sudah berumur, dengan seragam berwarna hitam yang dikenakannya itu.


Pasangan itu pun langsung turun, ketika mobil mereka telah terparkir di depan teras rumah itu. Mereka bergandengan tangan memasuki rumah yang megah itu, lebih megah dari rumah papanya Addara karena memang papanya tidak terlalu suka rumah yang terlalu besar, apalagi penghuninya hanya sedikit.

__ADS_1


"Ayah kira, kamu tidak akan datang, Vin."


Ketika baru beberapa langkah memasuki rumah itu, suara dari ayah Calvin menyambut mereka, hingga mereka sama-sama menoleh ke arah sumber suara.


Pria paruh baya itu tidak hanya sendiri, tapi ada istrinya yang berada di sampingnya memasang wajah tersenyum pada mereka.


Addara segera berdiri di depan pasangan itu, lalu menyalami keduanya dan menanyakan keadaan mereka, sekedar berbasa-basi untuk menunjukkan etika yang baik.


"Kebetulan kami sedang ada waktu luang, jadi aku menyempatkan diri untuk ke sini," sahut Calvin.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Vin?" tanya ibunya dengan lembut.


"Baik," sahut Calvin tanpa minat.


Melihat interaksi Calvin dan mertuanya itu, membuat Addara semakin merasa penasaran dan beranggapan jika perkiraannya, tentang suaminya yang tidak terlalu dekat dengan kedua orang-tuanya adalah benar.


"Ya udah kalau gitu, karena ini sudah waktunya untuk makan siang, gimana kalau kita makan siang dulu, kalian belum makan 'kan?" tanya Elina terlihat berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung di sana.


Calvin hanya menjawabnya dengan beerdeham sekilas saja, sampai akhirnya mereka pun mulai berjalan menuju meja makan.


Ternyata kecanggungan kembali terasa, ketika di meja makan, di mana Calvin yang benar-benar menunjukkan ketidaknyamanannya berada di sana, dengan menjawab setiap pertanyaan dari ayahnya secara singkat.


"Bagaimana hubungan kalian, apa baik-baik saja?" tanya Rainer di sela-sela makanannya tanpa melihat ke arah lawan bicaranya.


"Tentu saja, hubungan kami sangat baik," sahut Calvin datar.


"Kalian sering-seringlah berkunjung ke sini," ucap Elina yang hanya dibalas deheman dari Calvin, seolah pemuda itu tidak mau berbicara dengan wanita itu.1


"Bisakah kamu berbicara dengan normal selayaknya anak pada orang-tuanya!" tekan Rainer yang sudah mulai habis kesabaran menghadapi anaknya itu.


"Bukankah aku memang seperti ini dari dulu, terus kenapa Ayah harus merasa tidak senang akan hal itu," ucap Calvin masih dengan ekspresi tenangnya, sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Sementara itu Addara semakin merasa tidak nyaman dengan keadaan itu, sebenarnya apa yang terjadi pada anak dan orang-tua itu, sehingga mereka terlihat seperti musuh.


Lebih tepatnya suaminya yang sangat terlihat tidak menyukai kedua orang-tuanya itu, tapi kenapa itu bisa terjadi.


Mulut Addara rasanya terasa gatal ingin menanyakan hal itu pada suaminya, tapi sekuat tenaga dia tahan dan hanya fokus pada makanannya itu.


"Kamu!" geram Rainer yang terlihat semakin tidak sabar.


"Selesaikan dulu makannya, Yah. Nanti baru kalian bicara lagi," ucap Elina menenangkan suaminya.


wanita paruh baya itu mengusap punggung suaminya dengan lembut, dia tidak ingin terjadi lagi perdebatan di antara anak dan ayah itu.


Akhirnya Rainer pun menurut, dia menghela napas sedalam-dalamnya, lalu kembali menyibukkan dirinya dengan makanannya, tidak bertanya atau pun mengajak anaknya itu untuk berbicara.


Melihat interaksi antara ayah dan ibunya Calvin memutar matanya, sambil berdecak seolah tidak suka melihat interaksi antara pasangan itu.


Apa yang terjadi di sana, tidak luput dari pengawasan Addara, wanita itu terus berusaha melihat yang terjadi itu tanpa menghentikan kegiatan makannya.


"Kalau kalian sudah selesai, kamu bisa temui Ayah di ruang kerja, ada yang ingin ayah bicarakan padamu," ucap Rainer sambil berdiri, karena dia telah selesai menyantap makan siangnya.


Calvin tidak menjawabnya, dia mengabaikan ucapan papanya itu dengan menyibukkan diri. menyuapkan makanan ke dalam mulutnya


Melihat anaknya seperti itu, Rainer mendengkus lalu mulai beranjak pergi dari ruangan itu, meninggalkan ke tiga orang yang masih berada di meja makan.


"Vin, bisakah kamu berbicara dengan baik ketika sedang berada di depan Ayahmu," pinta Elina.


Calvin langsung berdiri setelah mendengar hal itu, hingga mambuat suara gaduh dari piring dan sendok yang saling bergesekan, juga kursi yang terdorong ke belakang.


Pemuda itu kemudian meneguk minumannya dengan kasar, atas apa yang dilakukan pemuda itu membuat Addara yang semula tengah makan sambil melamun sampai tersentak kaget.


"Aku sudah selesai, kamu tunggulah sebentar di sini, aku akan menemui Ayah dulu, setelah itu kita pulang lagi," ucap Calvin dengan nada lembut pada Addara.

__ADS_1


Dia dengan terang-terangan mengabaikan ucapan dari Elina sebelumnya, bahkan tidak melirik lagi ke arah wanita yang notabenenya adalah ibunya.


__ADS_2