Young Husband

Young Husband
Pikiran Addara


__ADS_3

Ketika sampai di apartement, Addara segera menuju ke dapur. Dia menyimpan beberapa bahan masakan, seperti sayur, daging dan yang lainnya ke dalam kulkas.


Ketika di perjalanan pulang dari rumah papanya, dia memang sengaja mampir ke supermarket karena tadi pagi, dia sempat melihat persediaan bahan makanan di dalam kulkas hanya sedikit.


"Apa aku masak sekarang aja ya? Biar nanti pas Calvin pulang makanannya sudah siap. Mau dia pulang jam berapa pun yang penting makanan sudah ada."


Addara bermonolog dengan tangan yang mulai bergerak menyiapkan bahan masakan yang akan dia masak untuk sajian makan malam.


Tangannya dengan lihai memotong, mencuci dan mengolah bahan-bahan yang ada di depannya, dia juga tidak lupa memasak nasi terlebih dahulu sebelum mulai memasak lauknya.


"Dia pilih-pilih makanan gak ya? Atau ada makanan yang gak dia suka?" tanyanya pada diri sendiri sambil berpikir dengan keras.


Dia masih belum tahu tentang pemuda yang berstatus suaminya itu, entah itu kesukaan atau apa yang tidak dia sukai, mungkin nanti dia harus mulai menanyakan hal itu padanya.


"Semoga apa yang aku masak, dia menyukainya," gumamnya lagi.


Addara sibuk dengan kegiatan memasaknya itu, tapi sesekali lengannya bergerak, menghalau rambut sebahunya yang terus berjatuhan hingga menutupi sebagian wajahnya.


Dia sedikit merasa risih, karena pandangannya terhalang oleh rambutnya itu, dia berdecak karena sebelumnya lupa tidak mengikat rambutnya terlebih dahulu, sebelum mulai memasak.


Kurang lebih sekitar satu jam lamanya, Addara memasak beberapa menu makanan itu, meskipun hanya menu masakan ala rumahan, tapi dia berharap Calvin akan menyukainya.


Setelah selesai menata makanan itu di meja makan, wanita itu memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, karena merasa badannya cukup lengket setelah ritual masak.


*****


Calvin memasuki apartement dan tempat itu tampak sepi, hanya indra penciumannya yang menangkap aroma harum dari masakan yang membuatnya merasa cukup lapar.


Seharian ini dia memang belum memakan apa pun lagi selain bubur ayam yang tadi pagi dimakannya bersama dengan Addara, istrinya.


Menyebut nama istrinya dalam hati membuat sudut bibir pemuda jangkung itu terasa berkedut, ingin menghadirkan sebuah lengkungan ke atas.


Dia merasa jika saat ini, dia sedang mimpi akan status yang kini tersemat dalam kehidupannya, yaitu sebagai seorang suami.


"Kamu udah pulang."


Suara lembut yang menyapa indra pendengarannya itu, membuat matanya secara otomatis beralih pada sosok yang tengah memenuhi pikirannya.


Untuk beberapa saat, dia terpaku ketika netranya melihat sosok itu yang selalu tampak cantik dalam keadaan apa pun, bahkan sejak pertemuan pertama mereka, wanita itu tidak pernah berubah sama sekali.


"Iya." Anggukan samar dia tunjukkan sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

__ADS_1


"Mandilah terlebih dulu, setelah itu kita makan."


"Baiklah," sahut Calvin dengan patuh.


Dia berlalu melewati Addara yang masih berdiri di depan pintu kamarnya, wanita itu sedikit menyingkir memberikan jalan pada Calvin.


Setelah pintu tertutup dan Calvin tidak terlihat lagi, Addara segera menuju meja makan, memastikan sekali lagi jika semuanya sudah siap.


"Air minumnya," gumamnya karena belum melihat adanya air minum di atas meja makan.


Addara pun mencari teko untuk tempat air di lemari penyimpanan yang berada di atas kompor karena dia tidak melihat keberadaan yang dicarinya di rak yang berada di samping kulkas.


Setelah membuka satu persatu lemari itu, dia akhirnya melihat apa yang dicarinya, tapi sayang, benda itu terletak di bagian paling atas.


Itu artinya, akan sulit untuknya menggapai benda itu, karena tinggi tubuhnya yang cukup jauh dari kata jenjang dan cenderung ke mini.


"Kenapa harus setinggi itu coba!" gerutunya sambil berkacak pinggang dengan menengadah, menatap apa yang dicarinya.


Dia berusaha berjinjit, berharap tangannya dapat menggapai teko kaca yang berada di deretan lemari dapur paling atas, tapi itu tidak membuahkan hasil, karena dia membutuhkan itu, dia pun mencoba lagi dengan sedikit lebih berusaha.


Entah kenapa saat ini tidak terpikirkan olehnya untuk menggunakan kursi, dia malah sedikit meloncat, berharap cara itu berhasil, tapi tiba-tiba saja punggungnya terasa menabrak sesuatu.


Seolah ingin menenggelamkan dirinya dalam netra gelap itu, sadar akan posisinya yang cukup dekat bahkan nyaris menempel, Addara memundurkan langkahnya.


Sampai pinggangnya tertahan oleh meja kompor, tanpa sadar dia terus menjauhkan setengah badannya, saat Calvin malah semakin mendekat.


Jantungnya berdetak tak karuan, menatap wajah Calvin dari jarak sedekat ini, juga aroma sampo beserta sabun mandi yang memenuhi hidungnya. Dan ketika wajah Calvin semakin mendekat, dia secara tanpa sadar malah memejamkan mata.


Dalam hati dia bertanya-tanya, tentang apa yang akan Calvin lakukan padanya, apakah pria itu akan menciumnya? Membuat suasana romantis di depan kompor seperti di cerita novel atau film.


Membayangkan hal itu, debaran di dadanya kian menggila, bahkan dia yakin jika Calvin saat ini sudah mendengar bunyi itu, keringat dingin mulai keluar dari pori-pori tubuhnya.


Addara merasa belum siap untuk hal itu, meskipun tidak ada larangan karena saat ini mereka suami-istri jadi sangat diperbolehkan, tapi dia rasa ini terlalu cepat.


Sedetik....


Dua detik....


Tiga detik....


Addara tidak merasakan apa pun juga, tidak merasa adanya sebuah sentuhan di bibirnya, hanya dapat mendengar suara di atasnya, suara benda yang saling beradu.

__ADS_1


Addara secara perlahan mulai membuka matanya dan dapat melihat apa yang Calvin lakukan, pemuda menatapnya dengan kening mengerut, seolah bertanya apa yang terjadi padanya.


"Ka–kamu, ngambil tekonya?" tanyan Addara dengan gugup, ketika sadar dengan apa yang terjadi itu.


"Iya. Mbak, tadi kesulitan mengambilnya, kan?"


"I–iya," sahut Addara dengan wajah yang mulai terasa panas.


Dia merasa malu karena telah bersikap konyol, malu juga karena telah memikirkan hal aneh seperti tadi.


Ya ampun, apa yang telah dipikirkan tadi, dia tidak mengerti, bagaimana bisa pikiran itu tiba-tiba saja muncul di kepalanya.


Dasar bodoh! Makinya pada dirinya sendiri.


"Mbak, tunggu aja di meja makan. Biar aku yang ambilin air minumnya," ucap Calvin, berbalik dan mengisi air dari dispenser.


"Baiklah," sahut Addara dengan suara yang sangat pelan, dia berjalan ke arah meja makan sambil menunduk.


Dia masih terus merutuki dirinya sendiri, bahkan ketika sudah duduk di meja makan. Dia hanya menunduk sambil terus menggerutu dalam hati.


Ketika mendengar langkah kaki yang mendekat, dia mencoba mengangkat kepala, berusaha memasang wajah senormal mungkin, menutupi rasa malu yang ada di hatinya.


Semoga saja, dia tidak mikir macam-macam atas apa yang terjadi barusan.


Addara bergumam dalam hati sambil menatap Calvin yang saat ini sudah mulai mengambil makanan ke piringnya.


"Mbak yang masak?" Calvin menatapnya sekilas, sebelum melanjutkan kegiatannya.


Wajah pemuda itu terlihat normal, sepertinya tidak terpengaruh dengan apa yang baru saja terjadi, Addara merasa lega dengan hal itu.


"Iya," sahut Addara singkat.


Calvin menyahutinya lagi dengan anggukan kepala dan mulai menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.


"Aku tidak tau apa itu cocok untuk lidahmu atau tidak," ucap Addara setelah berhasil menguasai dirinya dan bersikap biasa saja.


"Aku tidak pilih-pilih makanan," sahut Calvin dengan tenang.


"Syukurlah kalau gitu," ucap Addara dengan lega.


Lalu dia pun mulai mengambil makanan ke dalam piringnya dan mereka pun makan dengan tenang dan hening, sibuk dengan makanan mereka.

__ADS_1


__ADS_2