
Setelah beberapa menit, dalam posisi saling berpelukan, akhirnya Calvin memilih lebih dulu mengakhiri sesi pelukan itu. Dia memberikan jarak di antara mereka, menatap Addara yang masih melihatnya dengan malu-malu itu dengan senyuman yang bertahan di bibirnya.
Perasaannya saat ini masih membuncah akan kebahagiaan yang dirasakannya itu. Bisa bersama dengan orang yang kita cintai memang membahagiakan, apalagi pada yang orang sejak lama sudah menempati hatinya, bahkan di saat dia sendiri belum bisa mendefinisikan rasa itu.
"Sebenarnya aku ingin membahas lebih serius tentang hubungan kita ini, aku—"
Calvin menempelkan jari telunjuknya dengan lembut di bibir pink milik Addara, tatapan pemuda itu lurus pada netra bening milik istrinya yang selalu bisa membuatnya merasa tenggelam ke dalam pesonanya.
"Untuk saat ini, biarkan hubungan kita berjalan sebagaimana mestinya, jangan memikirkan apa pun, kita hanya cukup menjalaninya saja," ucap Calvin tanpa berkedip.
"Satu yang perlu kamu tau, aku tidak pernah menganggap pernikahan ini main-main. Ikatan yang kita jalani ini adalah ikatan sakral, ikatan yang ingin aku jalani, hingga hanya mautlah yang memisahkan kita nantinya."
Addara menatap jauh ke dalam mata Calvin, dia berusaha mencari adakah kebohongan atau sebuah permainan dari setiap kata yang pemuda itu katakan, tapi dia tidak tahu apakah semua itu benar-benar sebuah kesungguhan atau bukan.
Hanya saja, entah kenapa hatinya seolah meminta, jika dia harus mempercayai setiap untaian kata yang terucap dari mulut Calvin itu, tapi akal sehatnya seolah berkata lain.
Akalnya seolah mengingatkan dirinya tentang hubungannya dengan Jeffrey, hubungan yang dia bangun sejak lama saja, ternyata hanya hubungan yang semu. Puluhan ribu kata cinta yang selalu pria itu ucapkan padanya, ternyata hanyalah sebuah kata-kata kosong tanpa makna.
Lalu bagaimana dengan pemuda di depannya ini, meskipun saat ini mereka memang sudah terikat dalam status pernikahan, bukankah tidak menutup kemungkinan perpisahan itu akan terjadi, apalagi saat ini usia pemuda itu masih sangat muda.
"Aku tidak tau, apakah aku harus percaya atau tidak dengan ucapanmu itu," sahut Addara apa adanya.
Dia tidak ingin menyembunyikan apa yang dirasakannya pada pemuda itu, dia ingin mengatakan semuanya yang ada dalam pikirannya agar dia tidak merasa terbebani.
Terlihat pemuda itu kembali menghela napasnya, lalu dia pun mengangguk dengan tatapan masih lurus pada Addara.
"Aku tau, kamu pasti tidak akan mudah percaya setelah apa yang kamu alami itu. Aku tidak akan memaksamu untuk percaya, biar aku yang membuktikan semuanya dengan seiring berjalannya waktu," ucap Calvin kembali tersenyum.
Sementara Addara hanya diam, tidak tahu harus menjawab apalagi, karena untuk saat ini sebenarnya dia masih belum bisa berpikir dengan jernih.
__ADS_1
"Kamu pergilah siap-siap dulu, kita harus segera berangkat," ucap Calvin, sengaja menghentikan pembahasan mereka.
Dia tidak ingin pembahasan itu malah merusak moment bahagia yang masih menyelimuti hatinya.
"Baiklah," sahut Addara pasrah, lalu berjalan memasuki kamarnya meninggalkan Calvin yang masih menatapnya.
"Aku akan membuktikan, kalau semua yang aku katakan itu adalah kesungguhan yang ada dalam hatiku. Aku mencintaimu dan aku akan membuat kamu percaya akan hal itu, tanpa harus aku mengatakannya secara terang-terangan."
Terdapat sebuah tekad yang kuat dalam setiap ucapan yang pemuda itu ucapkan.
Dia tahu, akan percuma baginya mengatakan cinta pada Addara di saat ini, apa yang terjadi pada istrinya pasti telah membuat kepercayaan dalam diri wanita itu tentang cinta memudar.
Jadi daripada mengatakan jika dia memang mencintai wanita itu, dia lebih memilih untuk menunjukkan cinta itu tanpa mengatakannya, hingga pada akhirnya istrinya sendiri akan dapat merasakan cintanya itu.
*****
Pasangan beda usia itu pun kini telah rapi dan siap untuk pergi, tidak menunda-nunda lagi, pasangan itu mulai keluar dari unit yang mereka tempati.
"Oh iya, apa mobil kamu belum selesai disevice?" tanya Addara ketika mereka hendak menaiki motor.
Calvin tidak langsung menjawab, tapi dia berpikir sejenak, dia melupakan tentang mobilnya yang masih di bengkel langganannya.
Sebenarnya mobilnya itu sudah lama selesai, tapi pemuda itu memang sengaja menitipkan mobilnya terlebih dahulu, demi bisa pulang pergi bersama Addara.
Namun, kini dia tidak mungkin terus memakai alasan yang sama, istrinya akan curiga jika service mobilnya terlalu lama.
"Sudah selesai, kebetulan kemarin aku udah dihubungi sama pekerja bengkelnya, tapi aku belum sempat mengambilnya," sahut Calvin membuat Addara yang baru saja duduk di motor mengangguk paham.
"Kamu suruh anterin aja ke apartement, tidak perlu kamu yang ngambil," saran Addara.
__ADS_1
"Iya, nanti akan coba aku sampaikan pada pihak bengkelnya, agar mengantarkannya ke apartement saja," sahut Calvin.
Pemuda itu sudah mulai menjalankan kendaraan beroda dua itu untuk menjauh dari pelataran apartement, tujuan pertamanya masih sama seperti hari-hari sebelumnya, yaitu ke tempat kerja Addara terlebih dahulu.
Ketika kendaraan itu mulai berjalan, tangan Addara secara perlahan mulai melingkar di pinggang si sopir tampannya, biasanya Addara merasa sedikit canggung ketika Calvin memintanya untuk melakukan hal itu, tapi sekarang dia sudah mulai berani.
Sementara Calvin, tersenyum lebar ketika merasakan hal itu, dia senang karena Addara sepertinya sudah mulai berani melakukan kontak pisik dengannya, tanpa dia minta.
"Bagaimana perkembangan restoran kamu sekarang?" tanya Addara memecah suasana yang hanya diiringi oleh suara ribut dari kendaraan lain.
"Sudah mulai dalam perbaikan, aku sengaja memperkerjakan orang-orang yang benar-benar ahli, karena tidak ingin membuang waktu terlalu lama."
"Kalau kamu ada kekurangan secara financial, kamu bisa bicara sama aku, kebetulan aku ada sedikit simpanan. Lagian kartu yang kamu kasih ke aku pun, belum aku sentuh sama sekali, jadi kamu bisa mengambilnya lagi dan bisa digunakan untuk membantu masalah restoran itu."
Calvin menggeleng dengan cepat, membantah saran dari istrinya itu.
"Tidak perlu, meskipun restoran itu berjalannya belum genap setahun, tapi alhamdulillah keuntungannya sudah cukup untuk digunakan sekarang."
"Uang yang aku kasih ke kamu, sebaiknya kamu gunakan untuk keperluanmu saja, jangan pikirkan masalah itu, aku bisa menangani masalah itu."
"Tapi bukannya kamu juga harus membayar biaya pengobatan korban," ucap Addara bermaksud ingin menolong.
"Aku juga sudah mengaturnya," sahut Calvin dengan santai.
"Ya udah deh kalau gitu, tapi kalau nanti kamu memang butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan ngomong sama aku ya," sahut Addara pasrah.
"Iya Sayang, makasih ya kamu udah perhatian sama aku," ucap Calvin dengan lembut.
Dia memberikan usapan lembut pada punggung tangan Addara yang melingkar di perutnya, menggunakan sebelah tangannya.
__ADS_1
Addara mengulum senyum, mendengar panggilan Sayang dari Calvin dengan nada lembut, selalu bisa membuat dia merasa sedikit salting.
Anggaplah Addara plin-plan, dia meragukan Calvin untuk bisa serius, tapi tidak dapat dipungkiri jika hal sederhana yang pemuda itu lakukan atau katakan selalu mampu, menghadirkan rasa lain dalam dirinya