
Seorang pria tengah menunggu di ruang tunggu sebuah ruangan yang berada di salah satu rumah sakit yang ada di kota tempatnya tinggal. Pria itu beberapa kali melihat ke arah pintu berwarna putih yang ada di depannya, raut wajah khawatir tidak dapat dia sembunyikan di wajahnya yang tegas.
Menunggu pintu terbuka dan mendapatkan kabar baik dari seorang dokter yang saat ini tengah memeriksa keadaan istrinya di dalam sana, dibalik kekhawatiran yang dirasakannya, dia juga mengutuki dirinya karena membuat dia dan istrinya hampir celaka hanya karena emosi semata.
Beberapa saat dalam penantian, kini penantiannya itu pun terbayar dengan pintu yang mulai terbuka, disusul oleh pria berjas putih yang sedikit lebih tua darinya keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dan kandungannya, Dok? Apa mereka baik-baik saja?" tanya yang langsung berdiri ketika dokter itu telah menutup ruangan itu kembali.
Melihat kekhawatiran di wajahnya, dokter itu tersenyum padanya, berusaha menenangkan dirinya yang pasti dilanda kecemasan.
"Untuk saat ini semuanya baik-baik saja, ibu dan bayinya dalam kondisi yang baik. Tadi istri bapak hanya mengalami kontraksi akibat terlalu stres atau shock saja, tapi itu tidak membahayakan kandungannya."
"Syukurlah," desah pria yang tidak lain adalah Jeffrey itu penuh kelegaan.
"Saran saya sebaiknya Bapak, menjaga suasana hati istri Bapak karena meskipun saat ini mereka baik-baik saja, tapi jika terlalu sering stress juga tegang, itu tidak baik untuk kesehatan istri Bapak dan kandungannya."
"Baiklah, Dok. Terima kasih." Angguk Jeffrey.
"Bapak bisa menemui istri Bapak di dalam, sebaiknya malam ini biarkan istri Bapak menginap di sini untuk memantau lebih jelas kondisi kandungannya, jika tidak ada masalah lagi, besok istri Bapak sudah boleh pulang lagi."
"Iya, Dok." Lagi-lagi Jeffrey mengangguk sebagai jawaban, setelah dokter itu berpamitan dan pergi dari sana. Dia pun mulai masuk ke dalam ruangan tempat istrinya.
Di ranjang tempat pasien, istrinya tengah terbaring dengan selang infus yang berada di sebelah tangannya. Suster yang sebelumnya menemani, langsung berpamitan dan pergi dari sana ketika Jeffrey sudah berada di dekat ranjang.
__ADS_1
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanyanya dengan nada lembut pada istrinya yang fokus menatap langit-langit kamar itu.
"Aku baik-baik saja," sahut Airin merotasikan matanya sekilas padanya dan kembali melihat langit-langit kamar itu.
"Aku minta maaf, seharusnya tadi aku bisa mengontrol diri aku, jadi kita tidak akan hampir celaka begini dan membuat kamu kesakitan," ucap Jeffrey dengan tulus.
Dia benar-benar menyesali apa yang batu saja terjadi pada mereka, seandainya dia tidak tersulut emosi dengan kekesalan yang Airin tunjukkan beberapa saat lalu, mungkin dia tidak akan berada di sana.
Beberapa jam yang lalu, mereka baru saja pulang dari rumah kedua orang-tuanya. Diperjalanan itu, Airin membahas tentang dia yang mengetahui jika wanita yang menjadi kekasihnya dulu adalah Addara.
Wanita itu mengetahui kebenaran itu, ketika Jeffrey memintanya untuk mengambil sebuah berkas yang ada di ruang kerja pria itu di rumah mertuanya.
Airin menemukan contoh undangan pernikahan yang tidak lain adalah undangan pernikahan Jeffrey dan Addara, dia yang penasaran dengan si calon pengantin wanita setelah melihat nama yang tertera di undangan itu, akhirnya mencoba mencari tahu tentang sosok itu.
Airin mematung di tempatnya dengan tatapan lurus pada foto itu, dia menerka-nerka apakah nama yang tertera di undangan itu, sama dengan nama wanita dalam foto itu. Jika benar maka artinya, wanita yang menjadi masa lalu dari suaminya begitu dekat dengannya.
"Jadi Jeffrey hampir menikah dengan wanita itu? Dan ternyata wanita itu adalah Addara," gumamnya dengan perasaan tak nyaman yang mulai hadir di hatinya.
Airin tidak mengetahui tentang rencana pernikahan Jeffrey sebelumnya, dia kira hubungan Jeffrey dan wanita yang dia kenal bernama Zia itu hanya sebatas sepasang kekasih, seperti dia dan Jeffrey.
Wanita hamil itu kemudian melihat lagi ke arah kartu undangan, dia membuka kartu itu dan melihat tanggal yang tertera di dalamnya, tanggal itu ternyata beberapa hari setelah dia bertemu lagi dengan Jeffrey, setelah sekian lama tidak bertemu.
"Itu artinya, di saat pernikahan kami, seharusnya dia menikah dengan Addara," gumamnya lagi dengan perasaan yang semakin kacau.
__ADS_1
Kesal, kecewa, juga merasa bersalah kini dia rasakan ketika mengetahui hal itu. Apalagi mengingat dia dan Addara sudah saling mengenal, mengingat bagaimana dia bersikap yang seolah tanpa dosa di hadapan Addara, membuatnya ingin mengubur dirinya hidup.
Setelah mengetahui hal itu, Airin melampiaskan kekesalannya pada Jeffrey yang tidak berterus-terang padanya sejak awal. Bahkan pria itu dengan bersikap santai ketika mereka bertemu dengan Addara, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
Dia juga seorang wanita, dia dapat merasakan apa yang Addara rasakan ketika dia ditinggalkan begitu saja di saat pernikahannya. Karena mereka berdebat di dalam mobil yang tengah melaju, akhirnya Jeffrey pun hilang fokus ketika menyetir dan hampir menabrak pejalan kaki di depannya.
Untung dia segera menghindar dengan membanting setir, hingga dia tidak sampai menabrak, tapi karena insiden itu, memberikan guncangan pada Airin hingga dia merasa perutnya sakit dan berakhir kini di rumah sakit.
...*******...
"Aku tidak ingin membuat kamu merasa tertekan dan banyak pikiran, makanya aku tidak mengatakan semua itu padamu. Sekarang sebaiknya kamu jangan memikirkan hal itu lagi, oke. Itu hanya masa lalu."
"Enteng banget kamu bilang seperti itu, apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Addara ketika kamu pergi gitu aja di hari pernikahan kalian!" tekan Airin yang masih kecewa dengan kenyataan yang baru saja diketahuinya.
"Aku tau, itu pasti tidak mudah untuknya, tapi aku juga tidak mungkin ngebiarin kamu yang lagi hamil anak aku gitu aja, aku harus tanggung jawab pada anakku. Addara masih bisa hidup dengan baik setelah aku tinggalkan, tapi bagaimana dengan anak kita jika seandainya kita tidak bersama."
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Jeffrey, Airin merasa jadi orang yang jahat karena dia memang membenarkan ucapan suaminya itu, meskipun dia memang sanggup mengurus anaknya sendiri, tapi bagaimana dengan nasib anaknya yang harus hidup tanpa adanya sosok ayah dan tanpa adanya ikatan pernikahan.
"Kata dokter kamu jangan terlalu stres, itu akan berbahaya untuk anak kita, jadi aku mohon jangan banyak pikiran lagi. Sekarang kita fokus saja pada kehidupan kita, apa yang sudah jadi masa lalu biarkan berlalu sebagaimana mestinya."
Jeffrey duduk di pinggir ranjang, mengambil sebelah tangan Airin dan mengusapnya dengan hati-hati, berusaha menenangkan wanita itu, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Airin dan kandungannya.
Airin tidak menyahutinya, dia hanya memejamkan matanya, memikirkan apa yang harus dilakukannya ketika dia berhadapan dengan Addara, dia merasa tidak punya muka untuk berhadapan dengan wanita itu lagi.
__ADS_1
Apakah dia harus bersikap seperti biasanya, bersikap seolah dia tidak tahu apa pun, apakah itu tidak terlihat terlalu jahat, jika dia bersikap seolah tidak berbuat salah.