
"Bagaimana, suka?"
Di saat Addara sedang mengagumi pemandangan yang yang ada di sekitarnya itu, sebuah tangan membelit perutnya dengan lembut, disusul oleh pundaknya yang terasa berat karena tertimpa dagu suaminya.
Addara sedikit menolehkan kepalanya pada sang suami, dia tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan yang dilayangkan itu. Tanganya membelai lembut punggung tangan Calvin, lalu mendiamkan tangannya di punggung tangan sang suami, menikmati kehangatan yang pemuda itu berikan.
"Baguslah kalau kamu suka, aku sengaja mendesainnya seperti ini, karena rencananya tempat ini akan menjadi tempat favoritku kalau kita makan di sini, tidak hanya makan, sesekali juga kita bisa tidur di sini, aku sengaja menyiapkan sebuah kamar di sana," cerita Calvin sambil menunjuk sebuah pintu berwarna putih yang cukup besar di sudut roftoop itu.
"Bagaimana bisa kamu kepikiran semua itu?" tanya Addara sambil menatap ke arah luar yang terlihat berkelap-kelip dari lampu kendaraan.
Roftoop itu di keliling oleh dinding kaca, bahkan atapnya pun menggunakan atap yang transparan, hingga ketika dia melihat ke atas dia akan langsung disuguhkan pemandangan langit yang gelap berhiaskan bintang.
"Ayo kita makan dulu, setelah itu kita bisa melanjutkan menikmati keindahan malam ini," ajak Calvin mulai menjauhkan diri dari Addara dan menggandeng tangannya itu untuk berjalan ke sebuah meja makan yang telah dihiasi dengan sedemikian rupa.
Suasana di sana tidak terlalu terang, hanya ada lampu hias yang menjadi penerangan di sana hingga suasana romantis terasa lebih kental.
"Ini, makanlah yang ini," ucap Calvin menyerahkan piring berisi steak yang telah dipotong menjadi bagian kecil-kecil hingga Addara hanya tinggal memakannya saja.
"Makasih," ucap Addara tersenyum dan menukar piringnya dengan piring milik Calvin.
Calvin tersenyum dan memberikan usapan lembut di kepala istrinya, setelah itu mereka pun mulai memakan makanan yang sudah tersaji di sana dengan diiringi obrolan ringan dari keduanya.
Suasana romantis bagi kedua sejoli itu tidak hanya sampai di situ, setelah selesai makan, Calvin mulai berdiri dari kursinya dan tiba-tiba saja membungkukkan sedikit tubuhnya.
Tangan sebelah kiri dia simpan di perutnya dan tangan sebelah kanan, dia ulurkan pada Addara yang menatapnya dengan heran.
"Bisakah anda memberi kehormatan padaku untuk menjadi teman dansaku malam ini," ucap Calvin dengan nada formal, membuat Addara terkekeh geli.
__ADS_1
"Aku tidak terbiasa dansa tanpa musik," sahut Addara pura-pura menolak.
"No problem." Setelah mengatakan hal itu, Calvin menjetikan jarinya hingga tak lama kemudian, mulailah terdengar alunan musik romantis yang berasal dari piano yang entah sejak kapan berada di sana.
Addara merasa ketika datang tidak melihat adanya piano dan orang yang memainkannya di sana, mungkin karena sebelumnya tempat piano itu gelap.
Addara mulai menerima uluran tangan dari suaminya, dia berdiri dan mulai memposisikan dirinya untuk berdansa, hingga tubuh mereka pun secara perlahan mulai bergerak seirama ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang.
Selama jalannya acara dansa di antara kedua sejoli itu, tatapan mereka terpaku pada satu sama lainnya. Menatap bola mata keduanya yang terlihat bercahaya di suasana remang-remang yang berasal dari lampu hias di tengah pekatnya malam itu.
"Terima kasih karena sudah hadir di hidupku," ucap Calvin di tengah-tengah gerakan dansanya.
"Kamu sudah mengatakan itu ratusan kali, aku sampai bingung harus menjawabnya dengan kata apa lagi," sahut Addara tersenyum.
Calvin semakin menarik pinggang Addara, hingga tidak menyisakan jarak di antara keduanya. Mereka sama-sama hanyut dalam alunan melodi yang berasal dari dentingan piano yang mengalun indah itu.
Addara semakin menatap dalam mata Calvin, pemuda itu memang jarang mengatakan jika dia mencintainya, tapi setiap saat Addara selalu merasa jika pemuda itu begitu mencintainya. Setiap perlakuan suaminya itu, seolah mampu menghapus sedikit demi sedikit keraguan dalam dirinya akan adanya cinta itu.
Perlakuan sederhana tapi selalu terekam dalam memorinya, seolah mampu meruntuhkan tembok yang berusaha dia bangun secara perlahan. Kehadiran pemuda itu pun, secara perlahan mampu membuat dia merasa bergantung padanya.
Setiap perlakuan pemuda itu, kini secara bertahap mampu menggetarkan hatinya, bagitu pun dengan yang terjadi saat ini, debaran di jantungnya semakin berpacu dengan kuat, hingga Addara beberapa kali mencoba menahan napas agar dapat mengurangi debaran yang terasa menggila itu.
"Aku takut!" lirih Addara sambil menunduk.
Calvin menghentikan gerakannya ketika mendengar ucapan dari istrinya, dia kemudian mengangkat dagu wanita tercintanya dengan kedua jari, agar Addara kembali mengangkat wajahnya.
"Apa yang kamu takutkan?" tanyanya dengan sabar dan penuh kelembutan.
__ADS_1
Tatapan teduh darinya seolah air yang mengalir dengan tenang, hingga mampu menenangkan jiwa siapa pun yang melihatnya.
"Aku takut, terbiasa dengan setiap perlakuan manis darimu, sampai aku merasa ketergantungan dan tidak bisa lepas darimu lagi," ucap Addara apa adanya.
"Aku tidak akan melepaskanmu apa pun yang terjadi, jangan pernah takut pada hal apa pun. Bergantunglah padaku sesukamu, jangan pernah berpikir untuk lepas dariku karena aku tidak akan membiarkanmu lepas sedikit pun dariku."
"Bagaimana jika nanti kamu memiliki perasaan kepada orang lain, umur kita jauh berbeda. Mungkin beberapa tahun ke depan, aku sudah berubah jadi keriput, sementara kamu pasti masih segar dan sehat."
"Aku tidak mencintaimu hanya karena rupamu saja, tapi aku mencintaimu dengan segala yang ada dalam dirimu, jadi tidak akan mudah untuk menghilangkan rasa itu karena kamu sudah menjadi sebagian dari dalam diriku, menyakitimu sama saja dengan aku menyakiti diriku sendiri."
Addara menatap mata yang memancarkan sebuah keseriusan dari setiap kata yang terucap dari mulut pemuda itu, dia senang mendengar apa yang terucap itu.
Namun, ada sisi dalam dirinya yang masih takut dan ragu untuk membuka hati sepenuhnya, ragu untuk mencintai lagi dan ragu untuk percaya pada yang namanya cinta itu.
Pengalaman yang pernah dia alami sebelumnya, masih meninggalkan bekas dalam hatinya, sekuat apa pun dia berusaha melupakan dan mengikhlaskan apa yang telah terjadi, tapi semua kenangan itu selalu mengganggunya.
"Jangan cintai aku jika memang itu sulit bagimu, jangan percaya aku jika memang itu terasa menyiksamu, tapi tetaplah berada di sampingku, karena bagiku dengan kamu berada di sampingku seperti ini, itu sudah lebih dari cukup."
Sekali lagi, Calvin tidak pernah ingin memaksa Addara untuk membalas perasaannya, baginya hanya dengan bisa bersama dengan wanita itu saja sudah merupakan hal yang sangat dia syukuri.
Mendengar ucapan itu, Addara tanpa sadar meneteskan air matanya, entah kenapa cairan bening itu keluar dari matanya, tapi yang jelas ada rasa bahagia dalam dirinya juga rasa haru mendengar ucapan Calvin yang mencintainya tanpa pamrih.
Tidak pernah menuntut akan balasan darinya, hanya mencintainya, meskipun cinta itu sepihak, tapi perasaan yang pemuda itu miliki tidak goyah sedikit pun.
Calvin mengakhiri sesi dansa itu, dia menghapus cairan bening yang ada di pipi Addara, mencium kedua mata istrinya, lalu mencium seluruh wajah dan diakhiri dengan penyatuan bibir mereka.
Tidak ada perlawanan dari Addara, dia justru memejamkan mata dan mulai mengikuti permainan suaminya, ketika pemuda itu mulai bermain di bibir ranumnya.
__ADS_1