Young Husband

Young Husband
Berusaha Mengingat


__ADS_3

Addara beberapa hari ini tidak bisa terlalu fokus pada pekerjaannya, juga pada apa saja yang tengah dikerjakannya.


Wanita itu masih terus berpikir tentang ucapan Calvin tempo hari, ucapan suami mudanya yang mengatakan jika hari pernikahan mereka itu, bukanlah pertama kalinya mereka bertemu.


Dia terus mencoba mengingat, kapan mereka bertemu sebelum hari itu, sekuat apa pun dia berusaha, tetap hasilnya nihil. Addara sama sekali tidak bisa mengingat kapan mereka bertemu, wanita itu merasa jika mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya.


"Tapi, masa sih dia bohong tentang apa yang dia katakan itu, kalau pun iya dia berbohong, tujuannya apa coba?"


Addara bergumam sambil melamun, dia sesekali menyesap susu coklat yang berada di tangannya.


"Dor!"


Addara yang kaget, langsung menoleh pada orang yang sengaja mengagetkannya itu, dia menatap si pelaku dengan raut kesal, sedangkan si pelaku hanya tersenyum lebar menampilkan sederet giginya.


"Kamu ngagetin aja, untung aja Kakak gak sampai lemparin gelasnya," cebik Addara kesal.


"Heheh, maaf Kak. Lagian kebiasaan sih, suka ngelamun sambil ngomong sendiri, aku kira setelah menikah kebiasaan aneh Kakak itu akan hilang," sahut Zemi sambil mendudukkan dirinya di samping kakaknya.


"Apa hubungannya, menikah sama hilangnya kebiasaan kakak." Addara memutar mata.


Hari ini dia memang sedang berada di rumah papanya, karena sekarang hari libur. Apalagi tadi pagi Calvin ijin untuk pergi karena ada urusan, jadi dia pun memutuskan untuk datang ke sana, menemui adik dan papanya.


Dia tidak berangkat ke sana sendiri, tentu saja suami mudanya itu mengantarkannya. Karena mobilnya belum selesai diservice, jadi sekarang ke mana-mana dia harus bersama Calvin.


Entah ada kerusakan apa pada mobil itu, padahal dia merasa terakhir kali memakai mobil itu terasa baik-baik saja. Namun, Calvin mengatakan jika masalah pada mobil itu cukup serius, jadi pasti akan agak lama diservicenya.


"Ya siapa tau aja hilang, emang Kakak lagi mikirin apa sih, dalam benget ngelamunnya?" tanya Zemi sambil memasukkan cemilan yang tadi dibawanya ke dalam mulutnya.


Addara menyimpan gelas yang sedari tadi dipegangnya ke meja, dia kemudian berbalik menghadap adiknya.


"Aku lagi mikirin tentang Calvin," sahut Addara dengan wajah serius.


"Kenapa dia, dia selingkuh? Atau dia memperlakukan Kakak dengan nggak baik. Kalau benar begitu, Kakak ceritain aja ke Papa, biar dia dikasih pelajaran." Cerocos Zemi tanpa menghentikan aktivitas mengemilnya.

__ADS_1


Addara bahkan sampai memundurkan setengah tubuhnya, takut jika dia kena sembur cemilan yang ada di mulut gadis itu.


"Bukan gitu, jangan mengambil asumsi sembarangan, dengerin dulu orang selesai bercerita, kebiasaan deh, belum apa-apa sudah berasumsi sendiri." Omel Addara pada adiknya itu.


"Iya, iya, Kak. Terus apa yang mengganggu pikiran Kakak saat ini, tentang suami Kakak itu?" Zemi melanjutkan lagi ngemilnya, lalu mengalihkan perhatian ke arah televisi.


"Dia bilang kalau kita sebelumnya pernah bertemu," jawab Addara.


"Maksudnya, pertemuan kalian di hari pernikahan itu bukan yang pertama kalinya gitu?" tanya Zemi meyakinkan lagi, gadis itu kembali mengalihkan perhatian dari televisi pada kakaknya.


Addara mengangguk, membenarkan apa yang adiknya ucapkan itu, tatapannya masih serius terhadap gadis itu.


"Kapan?" tanya Zemi masih menatap Addara.


"Nah itu dia, aku tidak ingat kapan kita ketemu sebelumnya, aku berusaha mengingat, tapi nihil. Aku tidak mengingat apa pun tentang pertemuan aku sama dia. Calvin ditanya pun tidak menjawabnya." Hembus Addara menyadarkan dirinya di sandaran sofa.


"Masa Kakak gak inget sama sekali sih, mungkin Kakak emang gak sengaja ketemu dia di jalan atau di mana gitu?"


"Entahlah." Addara mengangkat bahunya bingung.


Zemi manggut-manggut dengan mulut yang sibuk mengunyah makanan dari dalam toples kaca itu.


"Apa mungkin dia cuma asal mengatakan hal itu, maksudnya dia ngarang tentang kalian yang pernah bertemu sebelumnya," pendapat Zemi.


"Tapi kalau dilihat dari wajahnya yang terlihat serius saat mengatakan hal itu, kayaknya gak mungkin deh kalau itu hanya omongan asalnya."


"Kakak yakin, kalau itu bukan cuma akal-akalan dia saja?"


"Yakin," sahut Addara mengangguk mantap.


Meskipun dia juga memiliki pendapat jika suami mudanya mengatakan hal itu hanya asal ucap saja, tapi jika mengingat kembali wajah pemuda itu yang terlihat serius, membuat dia merasa yakin jika apa yang suaminya itu katakan beneran.


"Tapi, Kak." Zemi menatap Addara dengan serius, gadis itu bahkan sampai menghentikan sejenak aktivitas mengemilnya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Addara penasaran karena melihat ekspresi adiknya itu.


"Kalau alasan dia menikahi Kakak, Kakak tau gak apa alasannya?"


Addara tidak langsung menjawabnya, pertanyaan itu juga masih mengganggu pikirannya dan belum sempat dia tanyakan pada pemuda itu.


"Ya bukannya apa-apa ya, Kak. Kalau dipikir-pikir nih ya, aku merasa aneh aja gitu, dia tiba-tiba datang di saat-saat seperti itu dan bersedia langsung menikahi Kakak. Meskipun benar, kalau kalian pernah ketemu sebelumnya, tapi kalian belum saling mengenal satu sama lain, apalagi dekat bukankah itu aneh?"


Addara mengangguk setuju dengan ucapan adiknya itu, itu memang aneh, meskipun awalnya mereka memang pernah ketemu, bukannya itu tidak masuk akal jika pemuda itu tiba-tiba saja memutuskan untuk menikahinya.


"Kecuali kalau dia emang jatuh cinta pada pandangan pertama sama Kakak, jadi begitu dia melihat apa yang terjadi pada Kakak, dia langsung menikahi Kakak."


"Kayaknya itu tidak mungkin deh," sanggah Addara, menggeleng keras.


"Loh kenapa tidak mungkin, bisa aja dia memang jatuh cinta di pertemuan pertama kalian. Makanya dia mau langsung menikahi Kakak, kalau bukan karena itu, berarti dia nikahin Kakak hanya untuk dijadikan pemuas hasratnya saja," ucap Zemi yang memelankan suaranya, di ucapan terakhirnya.


Addara sampai melotot mendengar hal itu. Apalagi karena hal itu. Lebih tidak mungkin lagi, karena jika memang Calvin menikahinya hanya karena alasan itu, maka dia sudah melakukan hal itu padanya sejak mereka menikah.


Namun yang terjadi jauh dari apa yang adiknya ucapkan itu, pemuda itu bahkan jarang melakukan kontak fisik dengannya, baru beberapa hari ini saja pemuda itu kadang menyentuh tangannya tidak lebih.


"Kamu mikirnya kejauhan, lagian dari mana kamu tau hal begitan hah!" Addara menatap garang pada adiknya itu, tapi adiknya hanya memasang senyuman tak berdosanya.


"Heheh, bercanda Kak, serius amat sih." Zemi kembali memakan cemilannya dan menatap ke arah depan lagi, mengabaikan kakaknya yang tengah kesal itu.


"Kalian lagi ngomongin apa, serius banget kayaknya?"


Baik Addara mau pun Zemi segera melihat ke arah sumber suara, di mana papa mereka tengah berjalan dari kamarnya ke arah mereka.


"Gak lagi ngomongin apa-apa Pa, hanya lagi ngebahas tentang film yang seru aja," sahut Addara tersenyum.


"Oh kirain lagi ngebahas apa." Wirga mengambil tempat duduk di sofa tunggal yang berada di samping sofa, tempat kedua anak perempuannya.


"Papa udah tidurnya, kok gak lama?" Addara sengaja mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Udah. gak perlu lama-lama, meskipun cuma beberapa menit yang penting sudah istirahat," sahut Wirga.


Addara pun mengangguk, sambil tersenyum pada papanya itu, sementara adiknya sudah fokus pada layar di depannya sambil terus menyuapkan cemilannya ke dalam mulutnya.


__ADS_2