
Calvin masih setia dalam posisinya, tidak bergerak sedikit pun dengan pikiran yang sibuk. Menimbang apa yang harus dia lakukan saat ini, apakah dia harus menuruti keinginan Addara itu.
Apakah wanita yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya itu, tidak akan menyesalinya jika seandainya dia menuruti keinginannya. Bagaimana jika wanita malah menyesalinya dan beranggapan dia malah sengaja memanfaatkan keadaan.
Dia tahu saat ini pikiran wanita itu tengah kacau, hingga Addara meminta hal yang tidak pernah dia sangka, bahkan pastinya tidak pernah wanita pikirkan sebelumnya.
Rasanya Calvin ingin menolak apa yang wanita itu inginkan, karena dia tidak ingin ada penyesalan dari wanita itu pada akhirnya, tapi entah kenapa sisi lain dalam dirinya menayanggah hal itu.
Sisi lain dari dalam dirinya malah menginginkan hal yang sama dengan apa yang Addara minta itu, dia menginginkan yang lebih dari apa yang tadi mereka lakukan.
"Kenapa kamu diam, Vin? Apa aku benar-benar tidak menarik, hingga kamu yang berstatus suami aku pun tidak menginginkan hal itu denganku."
Lagi dan lagi wanita itu berucap lirih dengan memasang wajah sendu, dia tidak sadar jika apa yang dia lakukan itu semakin menipiskan pertahanan yang ada dalam diri Calvin.
Hal yang tak terduga pun dilakukan Addara lagi, dimana kini tiba-tiba saja wanita itu melepaskan baju bagian atasnya hingga Calvin dapat melihat dengan jelas gundukan di dadanya yang terbalut bungkusan berwarna putih itu.
"Jangan menyesalinya," ucap Calvin dengan serius.
Mata pemuda itu kini sudah mulai dihiasi dengan kabut gairah, akhirnya tanpa banyak berpikir lagi, pemuda itu pun mulai mengikis jarak di antara mereka, kembali menyerbu bibir hangat Addara yang sedari tadi menggodanya.
Mereka kembali saling berpangutan lebih memburu dari sebelumnya, kini gerakan mereka saling menuntut satu sama lain, tangan Addara melingkar di leher Calvin, memberikan usapan lembut pada leher bagian belakang pemuda itu.
Sementara itu, tangan Calvin pun tidak tinggal diam seperti sebelumnya, kedua tangannya kini tengah berada di pinggang dan punggung Addara mengusap kedua tempat itu dengan lembut.
Perlahan tapi pasti, Calvin mulai merubah posisi mereka, dia menidurkan Addara dengan posisinya yang menindih istrinya, tangannya kini mulai bergerak semakin nakal menjelajahi bagian depan Addara, meremas gundukan yang menggantung di dadanya, hingga menghadirkan lenguhan dari si empunya, di sela-sela penyatuan bibir mereka itu.
"Vinn," lenguh Addara ketika Calvin melepaskan tautan bibir mereka dan menjamah tubuh bagian lainnya dengan bibirnya itu.
Addara menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan suara yang lebih aneh lagi, atas apa yang Calvin lakukan pada bagian dadanya itu, bungkus terakhir yang membalut dadanya itu kini sudah lenyap dari tempatnya.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak menyesali apa yang telah terjadi ini," ucap Calvin menghentikan sejenak aktivitasnya dengan menatap Addara.
Tangan pria itu terus bergerak melepaskan satu persatu kain yang masih membalut tubuhnya dan tubuh Addara, hingga mereka sama-sama polos.
Addara menatap seluruh tubuh Calvin yang baru kali ini dia lihat, dia sempat menelan ludahnya dengan kasar, menyadari jika saat ini dia akan benar-benar menyerahkan apa yang telah dia jaga selama 27 tahun pada pemuda itu.
"Aku tidak akan menyesalinya," sahut Addara lagi dengan penuh keyakinan.
Ya, dia pasti tidak akan menyesalinya, dia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pemuda yang memiliki status yang sah dengannya, terlepas dari apa yang akan terjadi di antara pernikahannya nanti, dia meyakini jika apa yang dia lakukan itu adalah sesuatu yang benar.
"Masih belum terlambat untuk berubah pikiran," ucap Calvin yang masih memberikan Addara kesempatan untuk berubah pikiran.
Namun, sebuah gelengan yang wanita itu tunjukkan pertanda sebuah lampu hijau untuknya, agar terus melanjutkan apa yang sudah berada di depan mata itu.
Perlahan tapi pasti, pemuda itu mulai melakukan penyatuan di antara mereka, dia mendesak masuk ke dalam diri Addara meskipun sangat sulit.
Matanya fokus pada istrinya yang saat ini tengah memejamkan mata sambil menggigit bibirnya, Calvin menarik tangan Addara dan menempatkannya pada punggungnya.
"Maaf," ucap Calvin disertai hentakan yang membuat Addara memekik karena merasa tubuhnya bterasa terbelah.
Kakinya terasa lemas bertenaga, matanya mulai terbuka diiringi dengan setitik air yang keluar dari ujung matanya itu, melihat hal itu Calvin tersenyum memberikan ketenangan padanya dan mengusap air matanya dengan lembut.
Dirasa Addara sudah lebih tenang, dia pun melanjutkan kembali tugasnya, bergerak dengan sangat pelan karena tidak ingin membuat istrinya tidak nyaman.
*****
Calvin yang sudah selesai dengan urusannya, segera menjatuhkan dirinya dia atas tubuh Addara yang masih mengatur napasnya, begitu pula dengan dirinya.
Setelah dirasa cukup mengatur napasnya, pemuda itu mulai mengangkat wajahnya, menatap wajah yang kini telah di hiasi oleh keringat itu dengan tatapan memuja.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Calvin sambil mengusap peluh di kening istrinya dan memberikan kecupan di keningnya.
Addara mengangguk dan memejamkan mata, ketika merasakan bibir hangat Calvin mendarat di keningnya, wanita itu masih mengatur napasnya, dia merasa jika saat ini dia baru saja selesai lari maraton.
Mungkin karena ini pertama kali baginya, hingga dia merasa sangat lelah juga badannya yang terasa lemas, bahkan dia merasa jika saat ini kakinya pun terasa mati rasa.
Calvin mulai melepaskan dirinya dari Addara dan kembali menjatuhkan dirinya di samping istrinya, bukan cuma Addara yang merasa lelah tapi dirinya juga.
Namun, dibalik rasa lelah yang dirasakannya itu, rasa bahagia membuncah dalam hatinya, mengingat dirinya yang sudah bisa mendapatkan Addara.
Meskipun belum sepenuhnya, karena dia belum bisa mendapatkan hati wanita itu, tapi dia yakin jika tidak akan lama lagi dia akan mendapatkan Addara sepenuhnya.
"Apa kamu lapar?" tanya Calvin, tangannya bergerak menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Tidak," sahut Addara yang kemudian melirik ke arah jam kecil yang berada di nakas.
"Kamu sendiri lapar gak?" Addara berbalik bertanya dengan menoleh pada Calvin yang tidur dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Tidak." Geleng Calvin.
"Baguslah ... karena kalau kamu lapar, aku gak bisa masak buat makan malam," ucap Addara karena tubuhnya yang lemas, membuat dia malas untuk beranjak dan pergi memasak, bahkan untuk bergerak pun enggan.
"Istirahatlah, kalau kamu emang lapar, biar aku saja yang memasak," tawar Calvin.
"Tidak perlu, aku mau tidur aja," tolak Addara menggeleng.
"Ya udah, kalau gitu tidurlah," sahut Calvin lalu menyimpan tangannya di perut polos Addara di balik selimut.
Addara mengangguk dan mulai memejamkan matanya, tidak membutuhkan waktu yang lama untuknya bisa terlelap karena aktivitas yang membuatnya cukup kelelahan itu.
__ADS_1
Sementara itu Calvin tidak langsung tertidur, tapi dia kembali bangun untuk mandi karena badannya yang terasa lengket. Tidak hanya membersihkan dirinya, tapi dia juga dengan telaten mengelap tubuh Addara.
Dia ingin Addara tidur dengan nyaman, setelah dia selesai membersihkan tubuh Addara, pemuda itu pun dengan telaten memasangkan baju tidur, lengkap dengan ********** pada istrinya yang tidak terganggu dengan aktivitasnya itu