Young Husband

Young Husband
Penasaran


__ADS_3

Pasangan suami istri itu, kini telah sampai di apartement tempat mereka tinggal saat ini, mereka memasuki unit mereka dengan langkah yang beriringan.


"Kamu gak pergi lagi Vin?" tanya Addara ketika melihat pemuda itu menjatuhkan dirinya di sofa dan menyimpan tas punggungnya di meja.


"Tidak Mbak, emangnya aku harus ke mana lagi?" Calvin malah balik bertanya sambil menatapnya dengan dalam.


"Iya siapa tau aja, kamu mau nongkrong gitu, sama teman-teman kamu," sahut Addara yang tiba-tiba saja merasa gugup, ketika mendapat tatapan intens dari netra coklat gelap itu.


"Aku gak punya rencan apa pun, jadi mending diam aja di sini," sahut Calvin santai.


"Oh, ya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya, mau bersih-bersih," pamit Addara.


"Iya Mbak, kali ini biar aku aja yang masak untuk makan malam ya," sahut Calvin.


"Iya, nanti setelah selesai bersih-bersih aku bantuin kamu," sahut Addara.


Calvin mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Addara mulai berjalan memasuki kamarnya untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum membantu suami mudanya memasak.


Calvin kembali bangkit dari duduknya, dia melepaskan jaket yang sebelumnya melekat di tubuhnya dan hanya menyisakan kaos dengan celana jeans saja.


Pemuda itu kemudian berjalan menuju ke dapur, mulai memasak untuk dijadikan santapan mereka malam ini, dia mulai mengolah bahan-bahan itu dengan senang hati.


Karena memasak merupakan kegemarannya, maka jika sudah berada di depan kompor beserta alat-alat dapur juga bahan-bahan masakan, maka dia akan benar-benar fokus, bahkan sampai setengah jam lamanya.


Pemuda itu masih fokus pada kegiatannya, saking fokusnya, dia sampai tidak menyadari jika Addara kini sudah berdiri di jarak yang tidak jauh darinya, tengah memperhatikan dirinya yang berkali-kali lipat lebih tampan ketika tengah serius seperti itu.


"Ya ampun jantung, kendalikan dirimu hey!" bisik Addara pada dirinya sendiri yang tengah fokus menatap wajah serius Calvin dari samping.


"Eh Mbak, udah selesai?" tanya Calvin yang baru menyadari kehadirannya di sana.


"Iya, kamu belum selesai masaknya? Ada yang perlu aku bantu gak?" tanya Addara berusaha bersikap normal.


"Masakannya sudah hampir selesai kok, Mbak kalau mau bantu, bisa siapin piring sama nasinya aja di meja makan." Setelah mengatakan hal itu, Calvin pun kembali menatap masakannya di atas kompor.


"Baiklah kalau gitu," sahut Addara yang langsung bergerak melakukan apa yang Calvin intruksikan.


Setelah semuanya siap, mereka pun langsung menyantap makanan mereka, tidak ada percakapan yang terjadi di sela-sela makan kali ini, mereka berdua sama-sama fokus pada makanannya hingga kedua sejoli itu pun selesai.

__ADS_1


Addara langsung membereskan meja makan dan mencuci piring beserta alat masak yang Calvin gunakan sebelumnya, dia melarang suami mudanya ketika pemuda itu menawarkan bantuan padanya.


Calvin menurut ketika Addara memintanya untuk membersihkan dirinya saja, daripada membantunya beres-beres karena dia sendiri memang merasa tubuhnya lengket oleh keringat.


Setelah selesai dengan kegiatan masing-masing, kini pasangan suami istri beda usia itu, tengah duduk di sofa depan televisi melihat acara yang tengah disiarkan.


"Vin, bisa gak kamu jangan manggil aku Mbak, aku berasa kurang nyaman aja kalau kamu manggil aku dengan sebutan itu, apalagi kalau kita lagi di tempat umum," ucap Addara membuka suara, dengan tatapan lurus pada layar datar televisi


Calvin yang semula fokus pada televisi juga mulai mengalihkan pandangan padanya, dia menatap Addara dari samping dengan bingung.


"Terus aku panggil apa dong Mbak, panggil Sayang aja gitu?"


Addara terbatuk, karena tersedak ludahnya sendiri mendengar jawaban santai dari pemuda itu, dia kemudian menoleh ke sampingnya hingga berhadapan dengan pemuda itu.


Pemuda itu masih menatapnya dengan tatapan santai, seolah apa yang dirinya katakan itu bukanlah sesuatu yang sangat penting dan berpengaruh pada jantung Addara yang memiliki daya tahan lemah.


"Kenapa Mbak, mau aku panggil Sayang aja ya, biar orang lain tau kalau kita suami-istri," desak Calvin.


"Ya–ya, jangan panggil gitu juga dong," sanggah Addara gelagapan.


"Terserah kamu aja," sahut Addara yang entah kenapa malah merasa semakin gugup.


"Ya udah, kalau gak mau panggil sayang, honey saja, atau my love," sahut Calvin masih dengan wajah santainya.


Ya ampun, Addara merasa merinding mendengar panggilan itu, rasanya geli sendiri ketika membayangkan pemuda itu memanggilnya dengan panggilan itu.


"Ya jangan gitu juga, geli tau aku dengarnya," ucap Addara menggelengkan kepala.


"Ya udah, aku sekarang rubah aja panggilannya ya, jangan Mbak lagi, tapi Sayang aja," putus Calvin lalu kembali menegakkan tubuhnya dan melihat lagi ke arah depan.


"Tapi—" Addara menggantungkan ucapannya, bingung mau bicara apalagi pada pemuda itu.


Udahlah, Dar. Terima aja panggilan itu, toh panggilan itu lumayan enak di dengar juga.


Tapi 'kan hubungan kita belum sedekat itu, masa panggilannya harus seperti itu sih.


Terus kamu mau dipanggil apalagi? Dipanggil Mbak lagi, bukannya dengan dipanggil seperti itu sama saja dengan negasin kalau umur kalian berbeda jauh dan kamu tidak terlalu suka itu bukan?

__ADS_1


Iya sih, aku tidak menyukainya tapi....


"Tau ah, bingung," ucap Addara tanpa sadar, setelah berdebat dengan pikirannya sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Calvin menatapnya dengan heran. "Apa yang membuatmu bingung?"


"Ah, tidak ada apa-apa, aku hanya sedang memikirkan masalah pekerjaan saja," sahutnya dengan tersenyum canggung.


"Oh aku kira ada apa," sahut Calvin manggut-manggut.


Addara hanya tersenyum kikuk, dia kemudian kembali menatap ke depan, tapi beberapa menit kemudian, dia kembali menoleh ke arah suami mudanya dan menatapnya.


"Vin, waktu itu di hari pernikahan, kamu bilang kalau kamu udah tau sama aku. Kenapa kamu mengatakan hal itu, apa kamu hanya asal bicara supaya gak ditanyain apa-apa lagi?"


Addara sudah sangat penasaran dengan apa yang selama ini menjadi pertanyaan dalam hatinya, tentang ucapan Calvin itu dan kini dia menunggu jawaban dari pemuda itu.


Sebelum menjawab pertanyaannya, Calvin menatap Addara dengan dalam, tatapan itu berlangsung, hingga beberapa detik lamanya yang semakin membuat Addara tambah penasaran.


"Aku tidak asal bicara, waktu mengatakan hal itu," sahut Calvin dengan sungguh-sungguh.


"Terus, apa sebelumnya kita memang pernah ketemu? Tapi kapan kita ketemu? Aku tidak merasa bahwa kita pernah saling bertemu sebelum hari itu dan itu adalah hari pertama kita bertemu."


Addara merasa jika dia memang sama sekali belum pernah bertemu dengan Calvin sebelumnya, hari pernikahan itu adalah hari pertama mereka bertemu, itulah menurutnya.


Calvin menggelengkan kepalanya, seolah tidak setuju dengan apa yang baru saja dia ucapkan itu, hingga membuat kerutan di kening Addara semakin tajam.


"Kita pernah bertemu, jauh sebelum kejadian itu!" sahut Calvin dengan penegasan.


"Kapan?" tanya Addara tidak tahu.


"Kamu coba pikirkan lagi saja kapan kita bertemu untuk pertama kalinya," jawab Calvin membuat rasa penasaran Addara malah kian meningkat.


"Aku tidak tau kapan kita pernah bertemu, kamu katakan saja kapan pertama kali kita bertemu itu?" desak Addara yang sudah diliputi rasa penasaran.


"Sudah malam, ini sudah waktunya istirahat."


Addara mencebik karena pemuda itu malah mengalihkan pembicaraan dan menghindari pertanyaannya, padahal dia benar-benar penasaran tentang hal itu.

__ADS_1


__ADS_2