Young Husband

Young Husband
Masalah Di Restoran


__ADS_3

Addara masih duduk di sofa dengan laptop yang kini berada di pangkuannya yang tengah duduk dengan kaki dilipat, dia menatap layar datar itu dengan seksama, sambil sesekali matanya melirik ke arah jam.


Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, tapi kenapa suaminya masih belum pulang juga, apa pemuda itu belum selesai mengerjakan tugasnya.


Addara merasa tidak dapat lagi bekerja dengan serius, karena terus memikirkan Calvin, ditambah rasa kantuk yang mulai menghampirinya membuat dia beberapa kali menguap.


"Dia masih belum pulang juga, apa mungkin masih mengerjakan tugasnya?" gumam Addara sambil menutup mulutnya yang terus menguap.


Karena tidak bisa dipaksakan lagi, akhirnya dia pun mengakhiri pekerjaannya yang tengah menggambar desain sebuah villa kliennya melalaui laptopnya itu.


Sebenarnya bukan cuma alasan pekerjaan saja yang membuat dia masih berusaha terjaga hingga saat ini, tapi dia juga berniat menunggu suaminya pulang.


Wanita itu berencana akan melanjutkan pembahasan mereka di pagi hari pada pemuda itu, dia ingin memperjelas lagi tentang hubungan mereka itu, agar tentu arah tujuan pernikahannya itu akan dibawa ke mana.


Namun, ternyata hingga saat ini pemuda itu masih belum menunjukkan batang hidungnya. Calvin juga tidak memberikan dia kabar lagi tentang keterlambatan pulangnya itu.


"Apa aku coba telepon atau chat aja dia ya, buat nanyain dia masih lama apa engga?"


Dari tadi Addara terus menimbang hal itu, tapi entah kenapa rasanya kali ini ragu untuk menghubungi pemuda itu, dia takutnya pemuda masih mengerjakan tugas bersama teman-temannya dan malah terganggu dengan dirinya yang menghubunginya.


"Sudahlah, aku bahasnya besok aja, lagian besok juga pasti ketemu lagi, dia nanti juga pasti pulang." Putus Addara pada akhirnya.


Dia akhirnya membereskan laptopnya dan menuju ke kamarnya, dia akan membahas masalah itu besok saja jika pemuda itu sudah ada.


*****


Sementara itu, saat ini Calvin sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, dia baru saja dari restoran mengurus beberapa hal karena musibah yang menimpa tempat usahanya itu.


Setelah kendaraan yang ditumpanginya sampai di parkiran salah satu rumah besar di kota itu, dia pun segera berjalan mencari ruangan tempat karyawannya yang menjadi korban dari insiden di restoran.


Ketika dia baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya, dia mendapat kabar jika restoran mengalami kebakaran, hingga dia pun langsung pergi ke tempat itu untuk melihatnya secara langsung. Dan baru menuju ke rumah sakit, untuk melihat korban setelah urusan di restoran sudah selesai.

__ADS_1


"Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya Calvin pada Zain dan Mirza yang sudah lebih dulu berada di sana.


"Dia sudah selesai di tangani, beruntung lukanya tidak terlalu serius hingga tidak sampai membahayakan nyawanya," sahut Zain.


"Syukurlah kalau gitu." Calvin bernapas lega mendengar kabar itu, dia kepikiran tentang kondisi karyawannya.


Beruntung orang itu tidak sampai kehilangan nyawa atas insiden itu, dia akan merasa bersalah pada korban dan keluarga jika sampai terjadi hal fatal pada karyawannya itu.


Beruntung juga di insiden itu, tidak memakan banyak korban hanya satu orang itu saja yang terluka. Termasuk para pengunjung yang berada di sana, sempat menyelamatkan diri mereka.


"Bagaimana keadaan restoran?" tanya Zain yang khawatir dengan keadaan restoran karena tadi pria yang lebih tua dari Calvin sekaligus kepala koki di sana langsung pergi bersama Mirza membawa korban yang terluka ke rumah sakit.


"Yang cukup parah adalah bagian dapur, beruntung pemadam kebakaran datang dengan cepat, jadi kebakaran itu tidak sampai melahap habis seluruh restoran," sahut Calvin.


"Itu artinya untuk beberapa waktu kita harus meliburkan dulu restoran itu?" tanya Mirza mulai bersuara setelah sebelumnya hanya menyimak obrolan Calvin dan Zain.


"Iya, kita harus merenovasinya terlebih dahulu dan memperbaiki kerusakannya," sahut Calvin yang tidak ada pilihan lain.


"Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar," ucap Zain yang dijawab anggukan oleh Calvin.


Banyak karyawannya yang menggantungkan hidup dari restoran itu, jadi dia akan berusaha membangkitkan lagi restoran itu, demi orang-orang yang bergantung pada restoran itu.


"Kamu yang sabar ya, Vin. Aku yakin kita bisa mengembangkan lagi restoran itu, seperti sebelumnya bahkan aku berharapnya lebih dari sebelumnya," ucap Zain menepuk pundak Calvin memberikan semangat pada pemuda itu.


"Iya, Makasih Bang." Calvin tersenyum pada Zain lalu beralih pada Mirza.


Setiap usaha pasti ada untung dan ruginya, tidak akan selalu berjalan mulus, begitu pun yang terjadi pada usahanya yang belum genap satu tahun itu.


Namun, Calvin tidak akan menyerah atas apa yang terjadi itu, dia yakin dia mampu melewati masalah ini dan membangun kembali usahanya itu.


"Oh iya, aku mau lihat dulu ke dalam, setelah ini aku harus langsung pulang, apa keluarganya sudah dihubungi?"

__ADS_1


"Sudah, mereka sedang dalam perjalanan," sahut Zain.


"Ya udah kalau gitu, aku mau lihat dulu ke dalam." Angguk Calvin.


"Ayo," ajak Zain menuntun Calvin untuk memasuki ruangan tempat karyawannya dirawat. Mirza mengikuti mereka di belakang.


Calvin berjalan ke arah ranjang tempat karyawannya terbaring dengan perban yang menutupi seluruh tangan sebelah kirinya.


"Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Calvin pada korban yang merupakan seorang pramusaji di restorannya itu.


"Sudah lebih baik, Mas." Pemuda yang seumuran dengannya itu tersenyum pada Calvin.


Tidak hanya tangan sebelah kirinya saja yang terkena luka bakar seluruhnya, tapi bagian wajahnya juga terkena percikan api itu tapi hanya sedikit.


"Baguslah, semoga kamu cepat sembuh," ucap Calvin dijawab anggukan samar oleh pemuda itu.


Calvin menanggung seluruh biaya pengobatan karyawannya itu, hingga sembuh total sebagai bentuk tanggung jawabnya, sebagai orang yang memperkerjakan korban.


Setelah beberapa saat berbincang dengan korban, Zain dan Mirza. Calvin yang menyadari jika hari sudah semakin larut, ditambah kedatangan keluarga korban, akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang.


Dia berpamitan terlebih dahulu pada korban dan keluarganya sebelum meninggalkan tempat itu, begitu pun dengan Zain dan Mirza, karena mereka merasa sudah tidak diperlukan lagi berada di sana, ikut berpamitan juga.


Calvin dan kedua bawahannya yang paling dipercayanya itu, berjalan keluar dari gedung rumah sakit menuju tempat parkir.


"Kalian tenang saja, aku akan usahakan secepatnya mengurus renovasi restoran itu, hingga kalian dan yang lainnya tidak akan terlalu lama menganggur," ucap Calvin pada Mirza dan Zain yang memang tahu bagaimana butuhnya mereka akan pekerjaan itu.


"Tapi, jika kalian mau cari kerja dulu di tempat lain, silakan. Takutnya nunggu renovasinya selesai malah kelamaan," sambung Calvin memberi saran.


"Aku pasti akan nungguin sampai renovasinya selesai, anggap saja untuk sementara ini aku istirahat dulu," sahut Zain dengan tenang.


"Iya, Vin. Aku juga mau nunggu aja, itung-itung istirahat dulu."

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, makasih ya kalian udah mau nungguin sampai restoran itu bisa buka lagi." Calvin menatap kedua orang itu dengan rasa haru.


Di saat seperti ini, dia senang karena masih memiliki orang-orang yang benar-benar mensupport dirinya.


__ADS_2