Young Husband

Young Husband
Suara Tangis Di Tengah Malam


__ADS_3

Ketika Calvin mulai memejamkan mata, bahkan nyaris akan mulai mengarungi mimpi, tiba-tiba saja ada yang mengusik telinganya. Dengan seluruh badan yang dibalut selimut, dia mencoba mempertajam pendengarannya.


Semakin lama semakin yakin, jika itu benar-benar sebuah suara, bukan hanya halusinasinya saja, suara seseorang yang tengah menangis dan asal suara itu berasal dari arah dapur.


Karena penasaran, dia pun mengangkat kepalanya, menengok ke arah dapur. Lampu dapur terlihat padam, terus ada siapa di sana. Begitulah pertanyaan Calvin dalam pikirannya.


Akibat rasa penasaran yang mengganggu, juga suara yang masih ada itu, pemuda itu pun mulai turun dari sofa tanpa melepaskan selimut yang membungkus badannya.


Kakinya melangkah secara perlahan ke arah sumber suara, semakin dekat ke dapur, suara itu kian jelas. Bahkan dia yakin jika itu adalah suara Addara, memangnya siapa lagi kalau bukan wanita itu.


Di apartement itu, hanya ada mereka berdua, jadi tidak mungkin jika itu suara orang lain. Tapi kenapa wanita itu menangis malam-malam seperti ini, apa yang terjadi pada wanita itu.


Beragam pertanyaan muncul di benak Calvin, hingga ketika sampai di dapur dia benar-benar melihat siluet Addara di tengah kegelapan yang tengah duduk di meja makan sambil menunduk.


Wanita itu terlihat masih terisak, wajahnya tersorot oleh lampu yang Calvin yakini dari lampu ponselnya.


"Mbak!" panggilnya dengan tangan yang berusaha mencari saklar lampu dan langsung menekannya, ketika dia telah menemukannya.


Addara terlihat tersentak kaget, ketika mendengar panggilan darinya, disusul dengan lampu yang menyala, hingga dapur mejadi terang.


"Kamu ngagetin aja, Vin." Addara berbalik sambil mengusap dadanya, pertanda dia benar-benar kaget.


"Mbak, belum tidur? Ngapain di sini?" Calvin tidak menggubris ucapan Addara sebelumnya dan malah melayangkan beberapa pertanyaan.


Dia menelisik wajah Addara yang tampak basah oleh air mata, bahkan mata itu sedikit membengkak, pertanda jika Addara pasti sudah cukup lama menangis.


Melihat penampilan Addara yang seperti itu, sebersit kekhawatiran muncul di hatinya. Tapi dia berusaha untuk tidak memperlihatkannya dan berusaha bersikap biasa saja, dengan memasang wajah tenang seperti biasa.


"Aku haus, jadi ke sini buat ngambil minum," sahut Addara.


Tangan wanita itu langsung bergerak merapikan rambutnya yang pasti acak-acakan.


"Terus kenapa, Mbak, nangis? Kenapa juga lampunya gak dinyalain?" selidik Calvin yang belum puas.


"Emmmm, itu. Tadi aku gak bisa tidur, terus nonton film dan males nyalain lampu, jadi duduk dulu di sini karena filmnya lagi seru-serunya," terang Addara, lalu menunjukkan ponselnya yang masih memutar sebuah film.


"Jadi, Mbak nangis karena nonton film itu?" tanya Calvin meyakinkan, meskipun hatinya tidak meyakini seratus persen bahwa jawaban dari Addara itu benar.

__ADS_1


"Iya." Addara mengajgguk dengan cepat.


Meskipun itu tidaklah sepenuhnya benar, dia memang sempat sedih karena terbawa perasaan ketika menonton, tapi di tengah-tengah acara menontonnya itu.


Dia lagi-lagi ingat akan kejadian kemarin, kejadian di hari pernikahannya. Dia kembali mengingat goresan pena yang Jeffrey tuliskan untuknya, tulisan mengatakan jika pria itu tidak bisa menjadi miliknya, seperti apa yang dia janjikan sebelumnya.


Awalnya Addara pikir, akan mudah melupakan pria itu karena pria itu telah menyakitinya, tapi semakin dia berusaha, maka semakin terasa sulit pula dia melupakan bayang-bayang telah mereka lewati selama beberapa tahun itu.


Sebesar rasa cinta yang terlanjur menetap di hatinya, maka sebesar itu pula rasa sakit yang dia rasakan atas apa yang telah pria itu perbuat.


"Kamu kapan pulangnya, kok aku gak dengar kamu pulang tadi." Addara sengaja mengalihkan pembicaraan dan memasang senyum tipis, berusaha terlihat baik-baik saja.


"Baru aja sampai, tadinya mau langsung tidur, tapi tiba-tiba denger orang nangis, jadi penasaran pengen meriksa," sahut Calvin.


"Maaf ya, aku ganggu kamu jadinya." Addara merasa tidak enak karena telah mengganggu waktu Calvin.


Dia sampai tidak sadar jika pemuda itu sudah pulang, saking terlalu hanyutnya dalam kesedihan akan kenangan masa lalu.


"Ya udah, kalau gitu sebaiknya kamu kembali tidur saja," ucap Addara sambil menyimpan gelas yang sebelumnya dia pakai untuk minum ke wastafel.


"Tidurlah, bukannya besok kamu harus kuliah," ucapnya lagi dengan tersenyum tipis.


Calvin tidak langsung menyahutinya, pemuda itu hanya menatap wajahnya dengan intens, hingga membuat Addara merasa gugup.


"Iya, Mbak juga tidurlah, ini sudah larut. Mbak bisa lanjutkan menontonnya besok," sahut Calvin, lalu berbalik dan berjalan ke arah sofa.


Addara mengikuti di belakangnya, tidak lupa juga dia mematikan lampu dapur, hingga ruangan itu kembali gelap.


"Kamu tadi dari mana?" tanya Addara memecah keheningan yang terjadi di antara mereka, ketika dalam perjalanan menuju ke sofa.


Bukan bermaksud ingin mencampuri urusan pemuda itu, dia hanya ingin tahu saja ke mana pemuda itu pergi, hitung-hitung mencoba lebih mendekatkan diri.


Tidak ada salahnya untuk itu bukan? Terlepas dari bagaimana pernikahan mereka, tapi dia tidak menganggap pernikahan itu candaan atau permainan belaka.


Dia benar-benar menganggap pernikahan mereka itu nyata dan menganggap pemuda di depannya itu adalah suaminya, meskipun sedikit merasa canggung karena perbedaan usia mereka yang cukup jauh dan usia pemuda itu lebih muda darinya.


Addara juga berharapnya, pemuda itu memiliki pemikiran yang sama dengannya, tapi dia juga tidak bisa memaksa. Jika seandainya apa yang ada dalam pikiran pemuda itu, malah berlawanan dengannya.

__ADS_1


Dia bisa memahaminya, karena menurutnya kondisi pemuda itu masih terbilang muda untuk hubungan serius itu. Wanita itu juga sudah mempersiapkan dirinya, jika seandainya tiba-tiba saja pemuda itu menyesali keputusan untuk menikahinya.


"Dari rumah teman, ngerjain tugas bareng," sahut Calvin.


"Oh gitu." Addara mengangguk-anggukkan kepala.


Setelah itu terjadi keheningan lagi di sana, mereka terus melangkah ke tempat tujuan mereka dengan keadaan temaram.


Lampu utama ruangan itu memang sengaja dimatikan sebelumnya, tapi hal itu tidak membuat langkah mereka terganggu, karena memang dari dapur menuju ke ruang tengah tidak ada benda yang akan membuat mereka tersandung.


"Kamu segeralah tidur, maaf tadi aku ganggu tidur kamu."


"Iya," sahut Calvin dengan singkat. Pemuda itu kemudian mulai menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Aku masuk dulu ya," ucap Addara mulai berjalan menuju ke kamar, meskipun tidak mendapat jawaban dari Calvin.


Dia duduk di pinggir ranjang, lampu di kamarnya pun kini telah dimatikan, hanya ada lampu tidur di samping ranjang yang menjadi penerangan.


Dia menatap kosong dinding yang tersorot sedikit lampu berwarna kuning itu, pikirannya melanglang buana, memikirkan tentang pertanyaan yang sebenarnya ingin dia tanyakan pada pemuda yang berstatus suaminya itu.


Jujur saja, dari kemarin dia terus bertanya-tanya, apa sebenarnya maksud dari pemuda itu mau menikahinya. Dan kenapa, Calvin melakukan itu, padahal mereka tidak pernah saling kenal sebelumnya.


"Kita memang tidak saling mengenal!"


"Tapi, aku cukup tau siapa wanita yang saat ini aku lamar itu!"


Dia teringat dengan ucapan Calvin itu, benarkah pemuda itu sudah mengenalnya, tapi bagaimana? Dan kapan pemuda itu mengenalnya?


"Apa kita pernah bertemu ya sebelumnya?" tanyanya pada dirinya sendiri.


Dia berusaha berpikir keras, memutar otaknya, mencoba mencari memori yang berhubungan dengan Calvin sebelum hari pernikahan itu, tapi nihil.


Addara sama sekali tidak memiliki ingatan, jika dia pernah bertemu pemuda itu sebelumnya, jadi rasanya tidak mungkin, jika pemuda itu sudah mengenal dirinya sebelum hari pernikahan itu terjadi.


"Atau mungkin, dia hanya asal bicara tentang hal itu, agar tidak banyak pertanyaan." Asumsi Addara.


Semakin dipikirkan rasanya, semakin membuatnya pusing. Akhirnya Addara pun mulai merebahkan tubuhnya, melupakan berbagai pertanyaan itu dan berusaha untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2