Young Husband

Young Husband
Ketegasan Calvin


__ADS_3

Calvin masih menatap gadis di depannya itu dengan sorot mata tajam, tidak ada ekspresi yang pemuda itu tunjukkan setelah mendengar apa yang baru saja Nisha ucapkan.


Sementara itu, Nisha masih memberikan tatapan memohon padanya, disertai perasaannya yang semakin gugup. Menanti respon dari Calvin, dalam hati gadis itu benar-benar berharap, jika pemuda itu mau memberikan kesempatan padanya dan menerima ungkapan yang baru saja keluar dari mulutnya itu.


Baru saja Calvin hendak membuka mulutnya untuk berbicara, vibrasi dari ponsel yang berada di saku celananya mengalihkan atensinya, hingga niatnya untuk berbicara itu pun urung dan langsung mengeluarkan benda pipih itu dari tempatnya.


Seutas senyum langsung hadir di wajah yang sebelumnya tampak kaku dan datar, manakala membaca nama orang yang meneleponnya itu, tidak ingin membuat si penelepon menunggu, dia pun segera mengangkat telepon itu dengan nada lembut seperti biasanya.


"Halo, Sayang. Ada apa? Tumben nelepon aku di jam seperti ini?"


"Vin—"


"Ekhemm." Calvin memotong ucapan istrinya, ketika mendengar panggilan dari wanita itu.


Itu adalah sebuah kode, agar Addara mengoreksi panggilannya, sedangkan di seberang sana Addara hanya memutar matanya, karena tahu maksud dari pemuda itu.


"Sayang, kamu lagi sibuk gak? Maaf aku ganggu, ada yang ingin aku tanyakan?"


"Tidak, kebetulan aku lagi istirahat," sahut Calvin tersenyum puas, karena Addara telah merubah panggilannya.


"Ada teman kerja aku yang mau main ke apart dan makan malam bareng kita, tapi aku belum menyetujuinya, aku mau minta pendapatmu dulu, boleh gak dia main ke apart," ucap Addara dengan nada yang terdengar ragu-ragu.


Calvin merasa senang, karena Addara meminta pendapat darinya tentang hal yang sederhana itu, meskipun istrinya itu tidak meminta pendapatnya terlebih dahulu, dia tentu saja tidak akan marah jika dia mengajak temannya untuk berkunjung. Namun tiba-tiba saja sesuatu terasa mengganggu hatinya.


"Laki-laki atau perempuan?" Meskipun Calvin tidak keberatan, jika ada teman Addara yang berniat berkunjung ke apartement mereka, tapi lain lagi ceritanya bila yang berkunjung itu laki-laki.

__ADS_1


"Perempuan, hanya satu orang. Aku sudah menawarkan untuk kita makan malam di luar aja, tapi dia maksa ingin berkunjung ke apart. Kalau kamu merasa keberatan gak apa-apa, aku akan ngajak dia makan malam di luar aja," papar Addara.


"Ya udah gak apa-apa, lagian ini juga pertama kalinya dia berkunjung," sahut Calvin enteng.


"Ya udah kalau gitu, udah dulu ya, aku mau mulai kerja lagi, kamu juga masih ada jam pelajaran 'kan?"


"Iya, selamat bekerja dan sampai ketemu nanti."


Setelah panggilan itu terputus, ekspresi Calvin yang sebelumnya terlihat hangat dan dihiasi senyuman, kini telah berubah kembali menjadi datar ketika matanya beradu dengan mata Nisha yang sejak tadi menyaksikan interaksi dirinya yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.


Dalam hati Nisha bertanya-tanya, siapa yang baru saja menghubungi pemuda itu, hingga ekspresi pemuda itu langsung berubah dan berbeda ketika sedang berbicara dengan si penenelepon.


Calvin yang beberapa detik lalu berbicara itu, tampak jauh berbeda dengan orang yang saat ini sedang berhadapan dengannya, seolah mereka adalah orang yang berbeda.


"Aku harap setelah mendengar dan melihat ini kamu mengerti ... saat ini aku sudah memiliki orang yang benar-benar spesial di hatiku, jadi tidak ada celah untuk kamu masuk ke hatiku."


Padahal dia sudah mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengungkapkan perasaan yang telah cukup lama dirasakannya pada pemuda itu, tapi kini terpatahkan begitu saja, seolah rasanya itu tidaklah berarti apa-apa.


"Ka-kamu pasti bohong 'kan? Kamu sebenarnya sudah tau kalau aku bakal ngomong ini dan kamu melakukan hal itu hanya sebagai alasan untuk menolakku. Kamu sengaja menyuruh seseorang untuk meneleponmu dan berpura-pura seperti itu," sanggah Nisha, tidak ingin mempercayai apa yang Calvin katakan itu.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas aku tegaskan satu hal padamu, hilangkan perasaan yang ada dalam hatimu untukku itu, karena aku tidak akan pernah membalas perasaan itu."


Setelah mengatakan hal itu Calvin mulai melangkah, melewati Nisha. Bukannya tidak memikirkan bagaimana perasaan gadis itu, setelah penolakan dsrinya yang secara terang-terangan seperti itu, apalagi bisik-bisik orang yang meledek Nisha, kini mulai terdengar hingga ke indra pendengaran mereka.


Namun, dia tidak ingin mengambil resiko, dengan menjaga perasaan Nisha dan membuat masalah untuk dirinya di masa mendatang. Toh ini bukanlah kesalahannya, gadis itu sendiri yang memutuskan untuk mengatakan perasaan padanya, di tengah keramaian itu.

__ADS_1


Sayang sekali dia bukan orang yang cukup baik, untuk menjaga perasaan orang lain, apalagi seorang yang menaruh hati padanya. Dia sudah sejak dulu membentengi dirinya agar tidak mudah didekati, karena dia tidak ingin ada orang yang menaruh hati padanya.


Namun, ternyata meskipun dia selalu bersikap cuek bahkan tak peduli pada sekitar, tetap saja ada yang menyukainya dan dia tidak suka dengan hal itu, karena yang dibutuhkannya hanyalah disukai oleh Addara saja.


"Terus kenapa kalau kamu sudah punya pacar, aku akan nungguin kamu sampai kamu dan pacar kamu itu putus. Aku yakin, jika saat itu tiba, kamu akan mengerti tentang perasaan aku ini dan menerimanya."


Nisha masih belum menyerah dengan niatnya itu, dia tidak menerima jika dia ditolak begitu saja. Sudah kepalang malu, jadi lebih baik dia melanjutkan niatnya dengan harapan dapat menggoyahkan perasaan Calvin padanya.


Calvin kembali menghentikan langkahnya, dia kemudian berbalik dan semakin menatap Nisha dengan dingin.


"Sayangnya, orang yang baru saja meneleponku bukanlah pacarku."


Nisha tersenyum senang, mendengar ucapan itu dari Calvin, dia beranggapan jika pemuda itu benar-benar hanya mengarang cerita untuk menolaknya. Namun, senyuman di bibirnya langsung lenyap, ketika mendengar ucapan selanjutnya dari pemuda itu.


"Tapi wanita itu adalah, ISTRIKU!" sambung Calvin dengan menekankan kata istriku.


Bukan hanya Nisha yang melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakannya itu, tapi setiap orang yang ada di sana pun melotot tak percaya, apalagi orang-orang yang berada di sana kebanyakan dari fakultas yang sama dengannya karena posisi taman itu berada di dekat gedung fakultasnya.


Secara otomatis, banyak yang sudah kenal dengannya, entah itu senior mau pun junior, tapi mereka tidak ada yang tahu jika pemuda itu sudah berstatus sebagai suami.


"A-apa," gumam Nisha yang terlalu shock dengan apa yang baru saja didengarnya itu.


Mendengar Calvin sudah punya pacar saja, rasanya dia tidak ingin mempercayai hal itu Apalagi ini, mendengar pemuda itu sudah memiliki istri, benar-benar tidak dapat dia percaya. Namun, melihat keseriusan dari wajah pemuda itu, membuat dia merasa tidak bisa menyangkal hal itu.


Calvin kembali melangkah, menjauh dari tempat itu, mengabaikan keterkejutan dari setiap orang yang berada di sana dan dengan langkah ringan kembali ke kelasnya.

__ADS_1


Setelah pemuda itu menghilang, keadaan di sekitar taman kini semakin ricuh dengan pembahasan tentang Calvin, tidak jarang juga ada yang secara terang-terangan mencibir Nisha, hingga membuat telinga gadis itu terasa panas.


Tidak ingin mendengar lebih jauh lagi tentang cibiran dari orang-orang di sana, Nisha memilih pergi dari sana, dia pergi dari kampus dan memutuskan untuk pulang, agar bisa menenangkan dirinya.


__ADS_2