Young Husband

Young Husband
Perubahan Calvin


__ADS_3

Di tengah-tengah penjelasan dari dosen di depan kelas, tentang materi pelajaran saat ini. Calvin hanya menyimak dengan fokus pikirannya yang terbagi ke arah lain.


Tentang apa lagi, jika bukan Addara, istrinya. Rasanya tidak ada habisnya jika dia memikirkan tentang wanita itu, bayangannya selalu melekat dalam ingatan pemuda itu setiap saat.


Apalagi ketika melihat wajah menggemaskan seperti tadi pagi, ketika dia merapikan rambutnya. Wajah yang bersemu juga matanya yang terus mengerjap, hingga bulu mata lentiknya menari dengan indahnya membuat dia terlihat sangat menggemaskan.


Sumpah demi apa pun, Calvin berusaha untuk tidak mencubit manja pipi yang merona itu, saking gemesnya dengan tingkah wanita yang selalu bersikap layaknya seperti wanita dewasa, tapi gesture tubuhnya menunjukkan hal lain.


"Baiklah, apa ada yang tidak kalian pahami dari penjelasan saya tadi? Jika ada, kalian bisa langsung menanyakannya sekarang, sebelum saya melanjutkan ke pembahasan selanjutnya."


Suara dari dosennya yang disahuti oleh penghuni kelas itu, membuat Calvin menarik dirinya sepenuhnya pada kenyataan. Dia kembali menegakkan dirinya dan berdeham dengan pelan, lalu mulai mencatat materi-materi penting yang dosennya sampaikan itu.


Di tengah-tengah tangannya mencatat, dia melihat ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam baru saja menunjukkan pukul dua siang. Pemuda itu pun mendesah pelan, dia harus melewati beberapa jam lagi untuk sampai ke jam lima.


Entah kenapa hari ini waktu bergerak terasa seperti siput, benar-benar lama. Padahal dia sudah tidak sabar untuk pulang, juga menjemputnya istrinya itu, rasanya dia sudah merindukan wanita itu.


Pemuda itu berusaha terus fokus pada kegiatannya, meskipun sedikit susah. Namun dia mampu mengerjakan tugas-tugasnya, hingga akhirnya apa yang ditungg-tunggunya pun telah tiba.


Kini jam setiap materi pelajaran telah selesai, Calvin dengan semangat membereskan barang-barangnya agar bisa cepat selesai.


"Vin, hari ini kamu ke restoran gak?" tanya Mirza yang sudah berdiri di samping mejanya, membuat gerakan pemuda itu terhenti sejenak.


"Kayaknya tidak, aku ada urusan lain hari ini," sahut Calvin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Meskipun sekarang baru saja jam setengah empat, tapi dia akan langsung pergi ke tempat kerja Addara, lebih baik dia yang menunggu daripada membiarkan istrinya itu yang menunggu dirinya.


"Oh aku kira kamu mau ke restoran hari ini, biar kita berangkat bareng," sahut Mirza yang tidak bertanya lebih jauh, tentang urusan apa yang akan teman sekaligus atasannya itu lakukan.


"Kamu pergi sendiri aja gak pa-pa 'kan?" ujar Calvin yang sudah kembali melanjutkan kegiatannya, membereskan barang-barangnya.


"Iya gak pa-pa, lagian biasanya juga sendiri," kekeh Calvin.


"Oke, kalau gitu aku duluan ya, takut telat." Calvin segera berdiri dari bangkunya dan menyampirkan tas punggungnya.


"Oke, hati-hati." Angguk Mirza.


Calvin berlalu dari kelasnya itu, dengan semangat menuju ke parkiran untuk sampai ke motornya. Sedangkan gadis yang sedari tadi memperhatikan Calvin dan Mirza dari tempat duduknya, kini mulai bangkit dan mendekati Mirza yang sudah mulai bergerak akan keluar dari kelas.

__ADS_1


"Mir, Calvin mau ke mana kok buru-buru banget kayaknya?" tanya Nisha berjalan di samping Mirza.


"Gak tau, ada urusan katanya," jawab Mirza sambil mengangkat bahunya.


"Tadi aku denger kamu ngajakin dia bareng ke restoran, mau ngapain?"


"Kerja."


"Jadi kamu sama dia satu tempat kerja?" tanya Nisha mencoba mengorek informasi.


"Iya," sahut Mirza dengan santai.


"Di restoran mana?" tanya gadis itu semakin antusias.


"Di restoran baru yang ada di jalan...."


Mirza mengatakan hal itu dengan santai, dia berpikir tidak ada salahnya bukan, jika dia mengatakan hal itu pada gadis di sampinya, toh dia tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Calvin yang merupakan bos di tempat kerjanya, seperti yang pemuda itu larang.


Nisha tersenyum senang mendengar hal itu, dia berpikir jika dia bisa lebih sering bertemu dengan pemuda idamannya itu, dengan cara datang ke tempatnya bekerja.


Sementara di sisi lain, Addara yang baru saja selesai dengan pekerjaannya, segera membereskan barang-barangnya dan dia pun keluar dari ruangan yang seharian itu dia tempati bersama dengan teman-temannya.


"Sampai ketemu besok ya semuanya," ucap Addara ketika berpisah dengan teman-teman yang satu ruangan dengannya.


"Iya, Dar. Kamu beneran gak mau bareng? Aku bisa kok anterin kamu dulu," sahut teman prianya yang memakai kaca mata.


"Tidak perlu, aku bakal dijemput kok," tolak Addara dengan halus sambil tersenyum pada temannya itu.


"Ya udah kalau gitu, kita duluan ya."


Addara mengangguk sebagai jawaban, dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas setelah para temannya sudah pergi dengan kendaraan mereka masing-masing, ada yang pakai kendaraan pribadi ada juga yang pakai kendaraan berupa taksi online dan ojeg online.


"Mbak."


Addara mengangkat wajahnya dari yang semula fokus pada layar ponselnya, kini pada pemuda di depannya. Padahal dia baru saja akan mengirim pesan pada pemuda itu, tapi Calvin sudah berada di depannya dengan motor miliknya.


"Kamu udah nyampe, padahal aku baru saja mau kirim kamu pesan," ucap Addara.

__ADS_1


"Aku udah nyampe dari tadi Mbak, tapi nunggu dulu di cafe depan," sahut Calvin.


"Kamu udah lama nungunya?" tanya Addara dengan tatapan serius pada Calvin.


Wanita itu merasa tidak enak, jika sampai suami mudanya menunggu dia terlalu lama.


"Tidak terlalu lama kok, Mbak." Calvin lagi-lagi mengeluarkan pesonanya dengan senyuman yang memukau.


Baginya hanya menunggu setengah jam, tidaklah terlalu lama jika yang ditunggunya adalah Addara, wanita pujaannya.


Namun, akan beda lagi bagi orang lain, dia tidak suka menunggu karena menunggu adalah hal yang paling tidak disukai, biasanya dia selalu kesal jika harus menunggu sesuatu atau seseorang.


"Ayo Mbak, kita pulang biar nyampe ke apartemennya gak terlalu malam," ajak Calvin menyerahkan helm pada Addara.


Addara mengangguk, lalu mulai mengambil helm yang disodorkan olehnya itu dan langsung memakainya. Dia mulai menaiki motor dengan hati-hati, kali ini dia memakaki setelan kerja celana, jadi lebih nyaman menaiki motor seperti itu, tidak merasa sedikit risih seperti semalam.


"Kita mau langsung pulang aja Mbak?" tanya Calvin sambil fokus menyetir.


"Iya, langsung pulang aja," sahut Addara.


"Apa Mbak? Gak kedengaran."


Secara tiba-tiba Calvin menarik salah satu tangan Addara hingga ke perutnya, membuat wanita itu kaget dengan apa yang dilakukannya secara tiba-tiba itu.


Akibat dari apa yang dilakukan Calvin itu, secara otomatis tubuh Addara pun tertarik ke depan hingga dadanya kembali menempel pada punggung pemuda itu.


"Mbak tadi bicara apa?"


Addara yang sebelumnya masih dilanda rasa kaget, segera menyadarkan dirinya dengan menjawab pemuda itu.


"Kita langsung pulang aja," sahutnya.


"Oh ya udah, kita langsung pulang aja, kalau gitu. Mbak pegangannya yang erat aja, biar gak kedinginan," ucap Calvin yang sebenarnya hanyalah alibi semata.


Dia menarik tangan Addara biar bisa merasakan kehangatan dari istrinya itu lagi, jarang-jarang dia akan sedekat ini dengan Addara. Jadi dia harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya.


Sementara Addara hanya menurut dengan apa yang dikatakannya itu, dia secara perlahan mulai melingkarkan tangan yang satunya lagi di perut Calvin.

__ADS_1


__ADS_2