
Addara yang baru selesai dari toilet, kembali menghampiri teman-temannya di meja sebelumnya, ketiga orang itu sudah menghabiskan makanan mereka. Karena saat ini sudah malam, Addara pun mengajak temannya untuk pulang.
Addara dan teman-temannya mulai meninggalkan restoran itu, mereka semua membawa kendaraan masing-masing, begitu pun dengan Addara yang membawa mobil milik Calvin seperti biasa.
Wanita cantik itu, menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal seperti biasa, tapi baru saja beberapa meter. Tiba-tiba saja mobilnya berhenti, membuat Addara mengerutkan keningnya heran.
"Ada apa ya? Jangan bilang mobilnya mogok," gumam Addara mencoba menstater lagi kendaraan beroda empat itu, tapi tidak membuahkan hasil.
"Yah, beneran mogok. Terpaksa aku pesan taksi online aja kalau gitu." Addara berdecak kesal karena ternyata mobilnya masih tidak bisa hidup.
Di saat dia akan memesan taksi online, tiba-tiba saja dia teringat pada Calvin untuk menanyakan apa pemuda itu sudah pulang atau belum, siapa tau pemuda itu bisa menjemputnya.
Siapa tahu juga, dia bisa langsung menghubungi bengkel langganannya untuk memperbaiki mobilnya.
Tanpa pikir panjang lagi, wanita itu pun langsung menghubungi Calvin, dia masih diam di dalam mobil, tidak berniat memeriksa kendaraan itu, karena dia memang tidak tahu menahu soal mesin kendaraan.
Jadi akan percuma juga jika dia memeriksanya, tidak akan berpengaruh apa pun, mending diam aja sambil menghubungi bantuan.
"Halo, Vin."
"Kamu udah pulang belum?"
"Mobilnya mogok nih, kamu kira-kira bisa gak jemput aku, sambil hubungi bengkel. Kalau kamu gak bisa jemput gak pa-pa, aku mau pesen taksi online aja."
"Beneran bisa? Gak repotin kamu nih?" tanya Addara meyakinkan.
"Ya udah, kalau gitu. Aku di jalan...."
"Ya, aku tungguin."
Addara mematikan teleponnya dan kembali memasukan ponselnya itu ke dalam tas, dia kemudian menghela napas lega.
"Untung dia bisa jemput," ucapnya dengan lega.
Baru saja beberapa menit dia menunggu, pintu mobilnya diketuk dari luar, dia sempat tersentak kaget, tapi ketika melihat si pengetuk itu, keningnya kembali mengerut.
Pemuda yang ditunggunya sudah berada di sana lagi, bukankah itu terlalu cepat menurutnya, dia pikir membutuhkan waktu lama untuk menunggu Calvin.
"Kamu kok udah nyampe lagi?" tanyanya dengan tatapan heran sammbil keluar dari mobil.
"Kebetulan tadi aku ada urusan di dekat sini," sahut Calvin.
"Oh gitu." Angguk Addara paham.
__ADS_1
"Ayo kita pulang," ajak Calvin. "Mobilnya biarin dulu aja, aku udah hubungi bengkel langganan aku bentar lagi juga pasti sampai, biar diderek."
"Apa gak pa-pa kita tinggal gitu aja," sahut Addara dengan ragu.
"Gak pa-pa." Calvin meyakinkan.
"Iya udah deh. Aku gak tau kenapa mobilnya tiba-tiba mati gitu aja, padahal bensinnya masih banyak," terang Addara.
"Aku udah lama gak service, jadi wajar aja kalau tiba-tiba mati." Calvin menyerahkan helm pada Addara.
"Pantesan kalau gitu."
Addara mengenakan helm yang Calvin berikan padanya, dia kemudian mengambil tasnya yang berada di dalam mobilnya. Kemudian dia langsung menaiki motor matic itu, duduk dengan tenang.
"Udah?" tanya Calvin menengok ke belakang.
"Udah." Angguk Addara sambil tersenyum.
Calvin pun mulai menghidupkan kembali motornya, sementara Addara langsung melingkarkan tangannya di perut Calvin.
Calvin yang dapat merasakan belitan tangan mungil Addara, nyaris kembali menghentikan kembali motornya, jika tidak sadar akan keselamatan mereka.
Punggungnya terasa hangat, membuat jantungnya berdebar dengan kencang. Dia berusaha mengatur napasnya, agar tidak gugup dan berakhir tidak fokus menjalankan kendaraannya itu.
"Gak pa-pa," sahut Calvin singkat.
Bukan tanpa alasan dia kebanyakan berbicara dengan singkat pada Addara, itu adalah karena dia selalu merasa gugup ketika berhadapan, bahkan berdekatan dengan Addara. Jadi dia selalu berbicara singkat, juga tidak berani menatap Addara terlalu lama.
Dia selalu takut tidak dapat mengendalikan dirinya, ketika berhadapan atau berdekatan dengan wanita itu. Karena walau bagaimana pun, dia sudah mengidamkan hal itu sejak lama.
Contohnya kejadian di depan kompor beberapa hari yang lalu, dia benar-benar nyaris hilang kendali saat berada di dekat wanita itu. Dia selalu mencoba menjaga diri karena tidak ingin membuat Addara malah tidak nyaman ketika berada di dekatnya.
Rasa sukanya pada Addara bukan hanya rasa suka biasa, rasa suka itu secara perlahan terus berkembang hingga berubah menjadi rasa cinta, meskipun sebelumnya mereka saling berjauhan.
Addara adalah cinta pertama dalam hidupnya, dia juga berharap wanita itu akan menjadi cinta terakhir untuknya.
"Gimana kuliah kamu?" tanya Addara disertai hembusan angin yang ada di antara mereka.
"Semuanya baik, tidak ada masalah apa pun," sahut Calvin.
"Syukur deh kalau gitu," sahut Addara.
"Mbak, sendiri gimana kerjaannya, setelah libur beberapa waktu?" Calvin mulai berusaha mencairkan suasana agar menghilangkan rasa gugup di hatinya.
__ADS_1
"Semuanya baik, meskipun kerjaan lumayan banyak karena kemarin sempat aku tinggal," sahut Addara sambil terkekeh samar.
"Aku yakin Mbak, pasti bisa mengurus semuanya dengan baik."
"Ya, harus kalau masalah itu mah." Kekeh Addara lagi.
Udara terasa semakin dingin, hingga Addara semakin mengeratkan pelukannya pada Calvin, pakaian yang dipakainya saat ini adalah blouse sesikut, juga rok yang hanya selutut.
Jadi berkendara dengan motor di suasana malam seperti itu, membuat dia merasa kedinginan. Akhirnya mau tak mau dia pun semakin mengeratkan pelukannya pada Calvin, berharap hal itu bisa memberikan kehangatan padanya.
"Mbak, kok bisa ada di jalan itu? Perasaan jarak kantor ke jalan itu berlawanan sama ke apartement?" Calvin berusaha mengalihkan perasaannya, akibat pelukan Addara yang semakin erat itu.
"Aku tadi habis makan bareng teman-teman kerja, dari Ravin Resto, restoran yang tidak jauh dari tempat mobilnya mogok," terang Addara.
"Mbak, udah sering ke Restoran itu?" tanya Calvin yang sebenarnya cukup kaget mendengar Addara dari Restoran miliknya.
"Baru tadi, itu pun direkomendasiin sama teman aku."
"Oh, kirain udah sering ke sana."
"Tidak kok, ini pertama kalinya. Kamu sendiri tau restoran itu? Atau kamu sering ke sana juga?"
"Sering," Karena aku adalah pemilik, sekaligus koki di sana. Calvin meneruskan ucapannya dalam hati.
"Pasti kalau kumpul sama temen-temen kamu ya, tempatnya emang enak sih kalau buat kumpul, ataupun sendiri." komentar Addara.
"Iya, gitu deh." Angguk Calvin.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka, hal itu membuat Addara merasa matanya mulai terasa berat. Habis makan dan kini terkena angin malam seperti itu, membuat rasa kantuk mulai mendatanginya.
"Vin, bisa agak cepetan dikit lagi gak, aku ngantuk nih," ucap Addara sambil menguap.
"Baiklah, kalau gitu Mbak, pegangannya makin erat ya, biar gak jatuh," sahut Calvin, dijawab anggukan oleh Addara.
Dia semakin mengeratkan pegangannya pada perut Calvin, bahkan kini dadanya sudah sangat menempel dengan punggung Calvin yang terbalut kaos dan jaket yang dikenakannya.
Dagunya pun kini telah dia tumpukan pada pundak Calvin, dengan mata yang mulai semakin sulit terbuka, tapi sekuat tenaga tetap dia buka karena tidak mungkin dia tertidur dengan keadaan dibonceng seperti itu.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya kini mereka sampai di apartement. Addara bermaksud segera memasuki kamar dan langsung membersihkan dirinya, agar bisa langsung pergi tidur.
"Aku mandi duluan ya, habis itu aku mau langsung tidur, nanti kamu masuk aja kalau mau mandi," ucap Addara sambil berlalu pergi dari ruang tengah dengan mata sayunya.
"Iya." Angguk Calvin dengan patuh.
__ADS_1