
Calvin masih menunggu dengan setia di sofa, setelah Addara masuk ke dalam beberapa saat yang lalu, dia belum berani masuk karena takut Addara belum selesai membersihkan dirinya.
Setelah dirasa cukup lama menunggu, Calvin pun mulai memberanikan diri beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu kamar, dia mengetuk pintu itu dengan hati-hati dan pelan.
"Mbak!" panggilnya dengan suara pelan, tapi tidak ada jawaban.
Dia pun mencobanya lagi, mengetuk pintu dan memanggil Addara masih dengan nada yang sama, karena takut malah mengganggu istrinya itu.
Namun, dipercobaan kali ini pun tetap sama, masih belum mendapatkan sahutan dari dalam sana. Akhirnya dengan perlahan dia pun mulai memberanikan diri membuka pintu itu.
Pintu itu tidak dikunci, karena Addara memang tidak pernah menguncinya, dia takut jika sewaktu-waktu Calvin membutuhkan sesuatu yang ada di kamarnya, jadi dia bisa mengambilnya langsung.
Meskipun biasanya, Calvin memang tidak berani memasuki kamar itu, apalagi ketika dirinya tertidur dan ini adalah untuk yang pertama kalinya pemuda itu masuk ke sana, karena dia tidak mungkin istirahat tanpa membersihkan dirinya dulu, setelah seharian beraktivitas.
Calvin melangkah memasuki kamar itu dengan langkah tanpa suara, apalagi ketika melihat Addara sudah terlelap di ranjang dengan selimut yang membungkus badannya, hingga sebatas dada.
Calvin segera mengambil apa yang dibutuhkannya, yaitu pakaian dan bantal, selimut untuk dia bawa keluar dari kamar itu. Dia memutuskan untuk mandi, di kamar mandi yang berada di dekat dapur saja.
Dia tidak ingin mengganggu, tidur Addara yang terlihat nyenyak itu dengan suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi di sana.
Sebelum kembali keluar dari kamar, dia menghentikan sejenak langkahnya untuk berdiri di samping ranjang, menatap wajah tenang yang memberikan ketenangan pada dirinya pula dengan lamat.
"Apa kamu bisa merasakan apa yang hatiku rasakan? Apakah cinta ini akan terbalas suatu saat nanti. Aku ingin memberikan kebahagiaan yang kamu inginkan itu, meskipun aku tau itu tidaklah mudah."
"Aku juga ingin, mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah kamu rangkai, meskipun aku bukan orang yang ada dalam mimpimu sebelumnya, tapi aku ingin aku adalah satu-satunya orang yang ada dalam setiap harapan dan mimpimu selanjutnya."
Calvin bermonolog dengan suara yang teramat pelan nyaris seperti bisikan, dia tidak ingin mengusik Addara yang tengah asyik dalam mimpinya.
"Selamat istirahat dan semoga mimpi indah." Calvin tersenyum menatap wajah tenang itu.
__ADS_1
Wajah yang selalu ada dalam mimpinya setiap saat, wajah yang selalu dia ingat sejak pertemuan tidak terduga yang membuat dia tidak dapat melupakannya sejak pertemuan pertama mereka beberapa tahun silam.
Sampai saat ini, pertemuan pertama itu selalu melekat dalam ingatannya, hingga dia menjadikan saat itu adalah satu-satunya moment terpenting dalam hidupnya.
Setelah merasa puas, Calvin akhirnya pergi dari kamar itu. Dia melangkah dengan langkah tanpa suara seperti sebelumnya, tidak ingin sampai mengganggu tidur istrinya itu.
*****
Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya, Addara terbangun dari tidurnya dan langsung melakukan aktivitas di pagi hari seperti biasa. Dia keluar dari kamarnya dengan wajah yang sudah segar, tujuan utamanya kali ini adalah dapur, tentu saja untuk membuat sarapan.
Namun, ketika sampai di dinding pembatas dapur dan ruang tengah, dia melihat Calvin sudah berada di sana, pria itu terlihat tengah membuat sesuatu di depan kompor.
"Vin, kamu masak?"
Calvin langsung menoleh dan tersenyum padanya setelah menyadari kehadirannya itu, dia tersenyum dengan tangan yang masih sibuk bergerak mengaduk sebuah adonan.
"Iya, Mbak. Gak pa-pa 'kan kalau hari ini kita sarapan pancake?" tanya Calvin.
Ini pertama kalinya, dia melihat pemuda itu tersenyum dengan bebas seperti itu, biasanya selama beberapa hari ini, Calvin selalu menjawab setiap pertanyaannya dengan wajah tenang, nyaris tanpa ekspresi.
"Iya gak pa-pa, kamu lagi pengen makan pancake ya? Padahal kalau kamu lagi pengen itu, kamu tinggal bilang sama aku, biar aku yang membuatkannya," sahut Addara sambil melangkah mendekatinya.
Dia kemudian berdiri di samping pemuda itu, melihat pemuda itu yang tampak terampil memebuat pancake, meskipun pancake termasuk makanan yang simpel dan cukup gampang dibuat, tapi tidak semua orang bisa membuatnya juga, apalagi laki-laki seperti Calvin, kecuali kalau orang itu memang sudah benar-benar belajar.
"Kamu dari kapan bisa memasak?" tanya Addara yang penasaran, karena melihat Calvin tidak kaku dengan alat-alat dapur seperti itu.
"Aku belajar memasak dari SMP, aku bahkan sengaja curi-curi waktu ikut praktek memasak," terang Calvin sambil menenengok dan lagi-lagi memasang senyuman itu lagi.
Addara yang melihatnya dari jarak cukup dekat, merasa jantungnya sudah tak aman. Dia seperti remaja yang baru saja merasakan, rasanya menyukai seseorang dan berhadapan langsung dengan orang yang dia sukai.
__ADS_1
Addara mengerjapkan matanya, berusaha menormalkan dirinya lagi, tak lama kemudian wajahnya terlihat berbinar sambil menatap Calvin.
"Wah, berarti kamu udah lama dong bisa masaknya, hebat. Padahal aku aja yang perempuan, baru kepikiran untuk mulai belajar masak pas udah mulai masuk kerja."
"Aku juga gak tau, kenapa waktu itu tiba-tiba saja kepikiran untuk belajar memasak, mungkin dulu karena aku termasuk orang yang suka makan kali ya, sampai badan aku gemuk," kekeh Calvin.
"Kamu pernah gemuk?" tanya Addara tak percaya.
"Pernah, dulu pas SD sama SMP aku gemuk banget, makanya dulu sering banget diledek teman-teman aku," cerita Calvin apa adanya.
"Terus, kamu berubah jadi seperti ini sejak kapan?" tanya Addara yang semakin penasaran.
Pasti tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama, bagi pemuda itu untuk bisa berubah menjadi seperti sekarang ini, apalagi jika dia memang gemuk banget seperti yang Calvin katakan.
"Sejak SMA kayaknya, aku mulai mengatur makanan yang aku makan, juga sering olah raga."
Calvin bercerita dengan tangan tanpa henti membuat pancake, hingga makanan itu selesai dia buat.
"Mau susu atau apa untuk minumnya?" tanya Calvin mematikan kompor karena masakannya sudah selesai, lalu menatapnya,
"Biar aku saja yang buat minuman untukku," ucap Addara yang baru sadar, jika dia terus bertanya tanpa melakukan apa pun.
"Baiklah, aku mau buat kopi dulu," sahut Calvin sambil berlalu menyimpan piring besar, berisi pancake buatannya itu ke meja.
Addara hanya mengangguk, karena dia tidak bisa membuat kopi, jadi dia membiarkan pemuda itu melakukannya sendiri, sedangkan dirinya membuat susu.
Calvin kembali berjalan menuju mesin pembuatan kopi, dia tampak serius membuat kopi dengan mesin khusus itu.
Addara yang sudah selesai, menyeduh susu untuknya, tidak langsung beranjak, tapi malah menatap pemuda itu dari samping. Dia kagum dengan pemuda itu, tidak hanya penampilan luarnya saja yang enak dipandang.
__ADS_1
Namun, pribadi pemuda itu pun sungguh mengagumkan menurutnya, hal-hal sederhana yang selalu dia lakukan itu, membuat rasa kagum dalam dirinya bahkan kian bertambah.