
Addara dan Calvin berangkat bersama, Calvin menawarkan diri untuk mengantarkan istrinya ke tempat kerjanya terlebih dahulu, sebelum ke kampus dan Addara tentu saja menerima tawaran itu dengan senang hati.
Mobil pemuda itu belum selesai di service, jadi daripada Addara harus repot-repot memesan taksi online, atau menggunakan kendaraan umum lainnya, mending bersama dengan pemuda itu.
Kini kendaraan beroda dua milik Calvin telah berhenti dengan sempurna di depan gedung tempat Addara bekerja, istrinya itu turun dari motor dan melepaskan helm yang tadi menutupi kepalanya.
"Mbak, nanti pulang jam berapa, biar aku jemput lagi," ucap Calvin ketika menerima helm yang Addara sodorkan padanya.
"Kalau kamu ada urusan lain, aku bisa pulang pakai taksi online, atau kendaraan umum lainnya saja," sahut Addara menatapnya suaminya itu.
"Aku gak ada urusan lain kok, biar nanti aku jemput aja ya," bujuk Calvin.
Addara menghela napas sejenak, lalu mengangguk pasrah.
"Baiklah, aku pulangnya jam lima tapi kalau ada pekerjaan yang nanggung, paling lebih dari jam segitu," sahut Addara.
Calvin tersenyum lalu mengangguk dengan antusias, Addara menatap suaminya itu dengan sedikit heran. Entah apa yang terjadi pada pemuda itu, hari ini pemuda itu lebih banyak tersenyum.
"Baiklah, nanti aku jemput jam lima."
Addara pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia juga memasang senyuman seperti yang pemuda itu lakukan.
"Ya udah kalau gitu," ucap Addara dijawab anggukan oleh Calvin.
Addara berbalik, hendak pergi memasuki perusahaan yang menjadi tempatnya bekerja selama beberapa tahun, tapi panggilan dari Calvin kembali menghentikan langkahnya itu.
"Mbak!"
Mau tak mau Addara pun berbalik, dia berdiri dan kembali menatap pemuda itu dengan kening mengerut.
"Apa lagi?"
Calvin hanya meresponnya dengan gelengan kepala, lalu secara perlahan tangannya terangkat ke arah kepala Addara.
__ADS_1
Sementara wanita di depannya itu, hanya diam, menunggu apa yang akan pemuda itu lakukan padanya. Hingga tak lama kemudian, dia merasakan sentuhan di rambutnya yang tidak terlalu panjang itu.
"Rambut Mbak, berantakan," ucap Calvin, lalu dengan telaten merapikan rambut Addara.
Sementara Addara hanya mengedip-ngedipkan matanya, tidak bergerak sama sekali juga tidak memprotes apa yang Calvin lakukan. Dia membiarkan pemuda itu melakukan hal itu, sedangkan dirinya fokus menatap wajah serius Calvin.
Addara tidak sadar jika rambutnya berantakan, wajar saja berantakan. Meskipun dia sudah merapikan rambut sebelum berangkat, tapi karena angin juga karena sebelumnya dia menggunakan helm, jadi rambutnya pasti sedikit berantakan.
Calvin tidak menghentikan kegiatannya itu, sebelum benar-benar memastikan jika rambut Addara sudah kembali rapi. Dan ketika sudah kembali rapi, barulah dia menghentikan aksinya itu.
"Sudah, sekarang Mbak, bisa masuk. Selamat bekerja Mbak." Calvin menatapnya dengan senyuman yang kembali terbit di bibirnya itu.
"Iya," sahut Addara mengangguk, lalu menlanjutkan ucapannya, "Kamu juga segeralah berangkat, hati-hati di jalan dan belajarlah yang benar."
"Pasti Mbak." Lagi dan lagi senyuman itu masih bertahan di bibir Calvin dan Addara benar-benar dibuat salah tingkah akan hal itu.
Oh ayolah, Addara juga wanita normal yang pasti akan terpesona jika dihadapkan dengan pemuda setampan Calvin, apalagi tidak hanya tampan tapi pemuda memiliki kharisma yang bisa membuat siapa saja pasti gampang terpesona padanya, termasuk dirinya.
Karena merasa tidak tahan terus disuguhi senyuman dari suami mudanya itu, Addara pun segera berbalik dan berjalan memasuki kantornya, bisa-bisa jantungan jika dia terus berhadapan dengan pemuda itu yang semakin tampan dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya.
"Ada apa dengannya, kenapa seharian ini dia terus tersenyum. Dia juga terlihat lebih bahagia dari hari-hari sebelumnya?" gumam Addara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Tapi kenapa jantungku tidak bisa tenang melihat senyuman itu, ya ampun sadar Addara, kamu tidak mungkin menyukai dia bukan? Ya, meskipun kamu sama dia suami-istri, tapi ini terlalu cepat!"
Addara terus mendumel sambil berjalan menuju lift, hingga sebuah suara mengagetkan dirinya.
"Kenapa kamu ngedumel gitu sih, Dar."
Addara menengok ke sampingnya dengan jantung yang nyaris saja keluar dari tempatnya, saking kagetnya dengan suara tiba-tiba di sampingnya itu.
"Oliv! Kamu tuh ngagetin aja deh sumpah," ucapnya dengan menatap kesal temannya itu.
"Salah siapa ngelemun sambil ngedumel gitu, sampai gak sadar kalau aku udah berjalan di sini dari tadi." Olivia memutar matanya melihat raut kesal temannya itu.
__ADS_1
"Oh iya, kamu ngedumelin tentang siapa barusan?" tanya Olivia yang menjadi kepo.
Addara tidak menjawab, dia terus berjalan hingga mereka memasuki lift untuk sampai ke lantai ruangan tempat mereka bekerja.
"Ayolah, Dar. Jawab, kamu ngedumelin tentang siapa barusan?"
Addara hanya memutar matanya jengah, mendengar Olivia yang merengek seperti anak kencil meminta coklat dari ibunya itu.
Sudah bekerja dengan wanita yang sebenarnya lebih muda dengannya itu selama beberapa tahun, membuat dia tahu sifat Olivia yang selalu ingin mengetahui urusan orang lain.
"Apa jangan-jangan kamu ngedumelin tentang suami berondong kamu itu ya, cie, cie yang berangkatnya dianterin sang suami. Boncengan dengan motor, sungguh romantis," ucap Olivia sambil berjalan mengikuti langkahnya karena mereka telah keluar dari lift.
Dia menatap Addara dari samping sambil menaik turunkan alisnya, barusan ketika sampai di kantor, dia memang melihat Addara yang baru memasuki lobby, sedangkan Calvin masih berada di depan kantor, menunggu sampai wanita itu menjauh.
Wanita yang memiliki gigi gingsul itu, terus berbicara tanpa henti selama perjalanan menuju ke ruangan mereka, tapi tidak mendapat respon sepatah kata pun dari Addara.
Dia memilih diam, tidak menjawab apa pun yang wanita itu tanyakan karena Olivia pasti akan semakin heboh dan menjadi, jika dia menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.
Mereka mulai memasuki ruangan tempat kerja mereka dan menyapa teman-temannya yang sudah berada di meja mereka masing-masing.
"Kenapa kamu Liv? Kok manyun gitu bibirnya?" tanya salah satu rekan kerjanya.
"Gak pa-pa, aku cuma lagi kesal aja, karena dikacangin," sahut Olivia mendudukkan dirinya dengan sedikit kasar di kursi kerjanya.
Dia merasa sedikit kesal karena rasa penasarannya tidak terobati, padahal dia tidak berniat macam-macam hanya ingin tahu tentang kehidupan Addara dan suaminya.
Apakah kehidupan temannya dan suaminya itu, berjalan seperti alur dalam cerita-cerita novel yang selalu dia baca atau tidak.
Rekan kerjanya itu menatapnya dengan heran, tak lama kemudian mengangkat bahunya tak peduli lagi dan mulai menyibukkan dirinya dengan pekerjaannya.
Begitu pun dengan Addara yang tidak memedulikan sindiran dari temannya itu, dia lebih memilih menyibukkan dirinya dengan pekerjaan yang ada di depan mata, daripada mengurusi rasa keingintahuan Olivia.
Karena sekarang jam kerja sudah di mulai, maka ruangan itu pun menjadi hening, hanya ada suara keyboard dari komputer yang kadang-kadang terdengar di sana.
__ADS_1