
Sedari pulang dari rumah mertuanya, entah kenapa Calvin lebih banyak diam, bahkan ketika di perjalanan pun tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka, hingga mereka sudah sampai di rumah.
Addara yang merasa tidak nyaman dengan sikap Calvin yang seperti itu pun, memutuskan untuk mengajak suaminya itu berbicara, tapi sebelum itu, dia membuatkan minuman untuknya yang saat ini tengah duduk di sofa.
"Ini minumlah, Vin," ucap Addara menyimpan jus alpukat yang telah dibuatkannya di meja.
"Makasih," sahut Calvin tersenyum tipis, tanpa mengambil minuman itu, lalu kembali melihat ke layar televisi.
Addara menatap pemuda itu dari samping, dia kemudian mengambil tempat duduk di samping suaminya sambil menatapnya dengan intens.
Pemuda itu tampak serius menatap layar di depannya, tapi tatapan Calvin terlihat kosong. Addara kemudian menghela napas, sebelum akhirnya berbicara.
"Kamu sebenarnya kenapa sih, Vin? Ada masalah apa antara kamu dan kedua orang-tua kamu itu?" tanya Addara yang sudah tidak sabar lagi.
Mendengar pertanyaan dari istrinya, Calvin pun langsung menoleh, menatap wajah istrinya yang tampak tak suka dengan sikapnya itu, hingga membuat dia merasa bersalah.
"Maaf kalau sikap aku ini bikin kamu tak nyaman, sebenarnya inilah alasannya, kenapa aku tidak mau mengunjungi mereka, karena setelah mengunjungi mereka mood aku selalu berubah jadi jelek," terang Calvin dengan wajah bersalahnya.
Addara kembali menghela napasnya dan semakin mendekatkan duduknya dengan Calvin.
"Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan orang-tua kamu itu, sampai mood kamu berubah ketika bertemu dengan mereka?"
Calvin tidak langsung menjawabnya, dia menghela napas terlebih dahulu, lalu tak lama kemudian kepalanya tertunduk untuk beberapa saat.
"Kalau kamu belum siap cerita gak pa-pa, tapi aku harap kamu jangan diemin aku kayak gini dong," ucap Addara dengan nada yang sedikit merajuk, karena dia memang tidak nyaman dengan sikap Calvin itu.
__ADS_1
Sudah terbiasa dengan sikap Calvin yang biasanya, jadi di saat melihat sikap Calvin yang seperti itu, benar-benar membuatnya tidak nyaman.
"Sebenarnya Ibu Elina bukanlah ibu kandungku," ucap Calvin kembali mengangkat wajahnya dan menatap Addara dengan intens.
Addara menatap Calvin dengan kaget, ketika mendengar ucapannya itu. Namun, dia tidak mengeluarkan suara apa pun, karena melihat Calvin ingin melanjutkan ucapannya.
"Dia ibu sambungku, ibu kandungku sudah meninggal ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Dulu aku sering melihat ibuku sering banget nangis, aku masih belum paham saat itu, hingga akhirnya ibuku meninggal dan tak lama setelah ibu meninggal, ayahku menikah lagi. Dari sana aku mulai paham, kenapa ibuku sering banget menangis, ayahku juga semakin jarang pulang, ternyata ayahku telah berselingkuh di belakang ibuku."
"Semenjak memahami hal itu, aku membenci ayah dan ibu sambungku itu, aku selalu menganggap jika mereka salah satu penyebab kepergian ibuku ... Tolong katakan padaku, apa aku salah merasakan hal itu. Apa aku salah karena tidak bisa menerima wanita itu, sebagai ibuku meskipun dia selalu berusaha terlihat baik di depanku?"
Ada raut kesedihan dan kecewa yang dapat Addara tangkap dari wajah pemuda itu, bola mata yang biasanya menatapnya dengan lembut itu pun terlihat mulai berembun.
Addara menarik pemuda itu ke dalam dekapannya, mengusap kepalanya yang berada di dadanya untuk memberikan ketenangan.
Dia memang tidak tahu seberapa sakit yang Calvin rasakan atas apa yang telah terjadi padanya itu, tapi dia yakin pemuda itu sangat merasakan sakit hati dan kecewa atas apa yang telah terjadi padanya dan keluarganya.
Apalagi dengan Calvin, tidak hanya kehilangan ibunya, dia juga mendapati ayahnya yang ternyata memiliki wanita lain, bahkan memaksanya untuk memanggil wanita yang dia anggap menjadi salah satu penyebab kepergian ibunya dengan panggilan ibu, tentu tidaklah mudah.
"Aku tau, kematian ibu aku adalah takdir yang sudah Tuhan tentukan, tapi setiap mengingat ibuku diam-diam menangis ketika ayahku tidak pulang, tapi dia selalu berusaha tersenyum ketika di depan orang lain, membuat aku merasa sakit dan kecewa," cerita Calvin dengan lirih.
"Aku tidak bisa melihat mereka terlihat mesra dan seolah tidak punya rasa bersalah sedikit pun pada ibuku, itulah alasan kenapa aku memutuskan untuk langsung keluar dari rumah dan memilih tinggal terpisah, menjauh dari mereka agar tidak selalu berhadapan dengan mereka."
Calvin terus menceritakan setiap unek-uneknya, dengan setitik air mata yang tidak dapat dia tahan jatuh ke permukaan pipinya yang berada di dada Addara.
Ingatannya kembali pada saat, dirinya selalu diam-diam mengintip ibunya yang menangis di kamar, ketika ayahnya tidak pulang selama beberapa hari.
__ADS_1
Wanita yang telah melahirkannya itu, selalu mengatakan dengan wajah tersenyumnya, jika ayahnya sedang sibuk bekerja ketika dia bertanya, kenapa ayahnya tak kunjung pulang.
Semakin lama dia semakin mengerti, jika ternyata wanita itu tersenyum dengan hati yang sakit karena pasti sudah mengetahui jika suaminya, bukanlah sibuk bekerja melainkan sibuk dengan selingkuhannya.
"Aku juga kecewa pada ibuku, kenapa dia menyiksa dirinya hanya demi laki-laki itu, kenapa dia tidak memikirkan aku sebelum melakukan hal bodoh itu," ucap Calvin menjauhkan dirinya dari Addara, menatap istrinya dengan mata yang sudah memerah.
Addara menatapnya dengan bingung, tidak dapat menebak maksud dari ucapan suaminya itu.
"Maksud kamu, hal bodoh apa yang ibumu lakukan?" tanya Addara dengan hati-hati.
"Ibuku sengaja mengakhiri hidupnya sendiri, dia ingin mengakhiri penderitanya dengan menyakiti dirinya sendiri tanpa memikirkan aku."
Deg....
Jantung Addara terasa akan lepas dari rongga dadanya, ketika mendengar ucapan menggebu-gebu dari suaminya itu, dia tidak percaya jika ibu dari suaminya yang merupakan mertuanya itu, melakukan hal nekat hanya karena merasa sakit hati.
"Apa itu artinya, dia juga tidak menyayangiku?" tanya Calvin dengan suara parau.
"Dia bukannya tidak menyayangimu, hanya saja saat itu dia sedang mengalami hal yang mungkin tidak dapat dia tangani, sehingga dia memutuskan hal itu."
Ya, Addara tahu rasanya dikhianati sesakit apa, hanya saja dia masih bisa berpikir dengan jernih dan mengambil sisi positifnya dari kejadian itu.
Karena pada dasarnya kekuatan mental setiap orang itu tidaklah sama, contohnya seperti ibu Calvin yang memutuskan jalan pintas untuk mengakhiri semuanya karena sakit hati, bukan hanya ibunya Calvin saja, tapi banyak diluaran sana yang memutuskan cara seperti itu ketika sedang patah hati.
Semua itu disebabkan oleh mental mereka yang tidak terlalu kuat menerima masalah yang datang menghampiri mereka, hingga jalan satu-satunya yang mereka ambil adalah jalan yang seperti itu.
__ADS_1
"Sekarang semuanya sudah terjadi, sebaiknya kamu selalu do'akan saja semoga ibu kamu tenang di sana, dan cobalah berdamai dengan hatimu, dengan mencoba menerima semua itu dan memaafkan ayah dan ibu sambungmu," ucap Addara berusaha menenangkan suaminya itu.