YUMNA SYARIFAH

YUMNA SYARIFAH
DIAM


__ADS_3

Pagi hari....


Yumna masih meringkuk dikasur dengan memeluk foto mendiang Doni, Rangga hanya menghela nafas kemudian pergi mandi mempersiapkan diri untuk kekantor sekalian mengantar anaknya kesekolah tanpa membangunkan Yumna.


Dengan telaten Rangga mengurus semua keperluan anaknya,kemudian mereka berangkat dengan mobil Rangga,sementara Yumna masih tertidur dikamarnya.


Bibi mencoba membangunkan Yumna seperti pesan Rangga agar Yumna tidak melewatkan sarapannya.


Tok...tok...tok....


" Non bangun sudah pagi menjelang siang,non harus sarapan" ucap bik Saroh sambil mengguncang tubuh Yumna pelan, tetapi Yumna tidak terbangun juga.


Bik Saroh mencoba memegang dahi majikannya dan ternyata sangat panas, bik Saroh langsung panik setelah memastikan kondisi Yumna yang ternyata pingsan bik Saroh langsung menghubungi Rangga.


^Assalamu alaikum den maaf bibik mengganggu aden,bibik mau mengabarkan kalau non Yumna pingsan dan suhu badannya panas sekali^ suara bik Saroh dalam telepon.


Rangga langsung memutar balik mobilnya kearah rumah sambil menghubungi sekolah Prima, meminta ijin untuk anaknya hari ini tidak masuk sekolah dan juga menghubungi kantornya mengatakan kalau dia tidak masuk karena istrinya sakit.


Suara mobil menderu kemudian Rangga turun setengah berlari menuju kamarnya lalu mengangkat tubuh istrinya kedalam mobil tanpa mempedulikan Prima yang bengong disamping kursi kemudi.


" Pa...mama kenapa?" tanya Prima setelah Rangga kembali kekursi kemudi dengan nafas ngos-ngosan.


" Kita kerumah sakit ya sayang,mama demam" jawab Rangga mulai menjalankan mobilnya.


" Prima mau duduk dekat mama pa" pinta Prima.

__ADS_1


" Sudah ada bibik sayang nanti aja kalau sudah sampai rumah sakit Prima boleh temani mama ya? " tolak Rangga halus sambil terus fokus mengemudi.


Prima menurut diam sambil sesekali menengok kebelakang melihat kondisi mamanya.


Sampai dirumah sakit Yumna langsung mendapatkan penanganan,sementara Rangga,Prima dan bik Saroh menunggu diluar.


Dokter keluar lalu memanggil suami pasien,Rangga mengikuti dokter dan menitipkan Prima kepada bik Saroh.


" Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Rangga setelah dipersilahkan duduk.


" Kondisinya sangat lemah,pikirannya tertekan mengakibatkan istri bapak pingsan dan ini sangat mempengaruhi kandungannya pak,apalagi istri bapak tidak ada asupan yang masuk mengakibatkan kondisi janin ikut melemah tetapi bapak jangan khawatir karena kami sudah menyuntikkan vitamin penguat serta infus untuk membantu pasien" begitulah penjelasan dokter.


" Jadi istri saya hamil dok?,berapa usia kandungannya?" tanya Rangga melemah.


" Usia kandungannya masih 4 minggu,usia yang rentan untuk saat ini"jawab dokter.


Didepan ranjang yang dipakai oleh Yumna untuk beristirahat Rangga membungkukkan badannya mencium kening Yumna yang masih terasa panas,Prima dan bik Saroh ikut masuk.


" Pa...mama kenapa?"tanya Prima.


" Iya den non Yumna sakit apa?" bibik ikut bertanya.


Rangga menghela nafas pelan kemudian," Mama sedang berjuang untuk adik Prima, mama hamil sayang" ucap Rangga sambil membelai kepala putranya.


Prima langsung kegirangan.

__ADS_1


" Non Yumna hamil den? alhamdulillah" sahut bik Saroh.


Ketika Yumna terbangun dia bingung lalu Rangga mendekatinya mencoba berbicara dengan istrinya.


" Gimana keadaan kamu,ada yang kamu rasakan, kamu perlu apa?" tanya Rangga lembut tetapi Yumna tetap terdiam.


Saat ini hanya ada Rangga yang menemani sedangkan Prima sudah pulang bersama bik Saroh karena masih kecil tidak boleh lama-lama ada di lingkungan rumah sakit.


" Mau makan? aku ambilkan makan ya"tawar Rangga


" Ngga usah!" jawab Yumna ketus.


" Makanlah kamu dari kemarin belum makan,nanti demam kamu ngga sembuh-sembuh kalau ngga makan" bujuk Rangga.


" Ngga perlu!" Yumna masih ketus.


" Kamu boleh diamin aku sekarang tetapi anak kamu juga butuh perhatian,bukan...anak kita terutama yang sekarang ada didalam perut kamu, dia butuh asupan, jangan egois sayang makanlah apa perlu aku suapin" ucap Rangga.


Yumna kaget mengetahui dirinya hamil, seolah menolak kehamilannya dia memukul perutnya sambil menangis,beberapa kali Rangga mencegahnya tetapi Yumna tetap memukuli perutnya.


" YUMNA! kamu boleh marah sama aku atau kamu marah sama keadaan tapi jangan sakiti anakku itu darah daging aku, kalau kamu ngga mau rawatnya setidaknya ijinkan dia berada diperutmu sampai lahir biarkan aku yang merawatnya sendiri,kalaupun kamu menyuruhku membayar semua biayanya aku siap asal jangan sakiti anakku!" bentak Rangga langsung keluar dengan membanting pintu.


Rangga menangis didepan ruang rawat Yumna,dia bingung dengan cara apalagi harus meluluhkan hati istrinya, sedangkan Yumna menangis dikamar sambil mengelus perutnya yang masih rata.


" Maafin mama nak, maafin mama yang udah pukulin kamu,maafin mama yang ngga tahu kalau kamu sudah ada diperut mama,bantu mama nak buat terima kamu, papamu pasti marah sama mama,mama tahu mama salah nak...hiks...hiks..." tangis Yumna terdengar sampai dibalik pintu tempat Rangga bersandar.

__ADS_1


Ada rasa sesal telah membentak istrinya,akhirnya Rangga memutuskan menghubungi orang tua Doni untuk membantu menenangkan Yumna,dia pun menceritakan awal mula hubungannya dengan Yumna sampai seperti ini dan orang tua Doni pun mengerti lalu memutuskan untul datang kerumah sakit sekalian menjenguk Yumna.


#dikit dulu ya....


__ADS_2