YUMNA SYARIFAH

YUMNA SYARIFAH
46.Melahirkan


__ADS_3

Tepat pukul 02.00 dini hari, kontraksi terjadi pada perut Yumna, Yumna lalu turun dari ranjangnya yang sudah basah karena ketubannya pecah, dia melangkah keluar dari kamarnya sambil membawa tas yang sudah dipersiapkannya untuk jaga-jaga apabila dia akan melahirkan.


Yumna berjalan keluar rumah, lalu mengendarai mobil menuju rumah sakit setelah lebih dahulu menghubungi dokter yang biasa memeriksanya, lima belas menit sampai di UGD, Yumna mendapatkan pertolongan dari para perawat dan dokter kandungan.


Tidak berselang lama seorang bayi laki-lahir dengan mudah tanpa merepotkan ibunya, bayi mungil tersebut diberikan nama Satria Putra Ardyansyah.


Setelah pindah keruang perawatan dan bayinya kini sudah diletakkan disampingnya, Yumna menatap wajah baby Satria yang masih polos tanpa dosa kemudian dia mengambil ponselnya untuk menghubungi keluarganya.


Mama, papa Doni dan juga anaknya datang ke rumah sakit untuk menjenguk Yumna dan bayinya, semua berbahagia menyambut anggota keluarga baru yang kini masih belum bisa apa-apa itu.


" Nak...kenapa kamu pergi sendiri bagaimana kalau terjadi sesuatu?" tanya Papa Doni cemas.


" Iya kenapa ngga bangunin mama sih? kamu tahu kan bagaimana posesifnya Doni sama kamu?" timpal sang mama ikut khawatir.


Seketika air mata Yumna menetes ketika mamanya menyebut nama mendiang suaminya, rasa bersalah semakin bersarang dihatinya, Yumna merasa sudah menghianati cinta Doni dengan menikah lagi, hatinya sesak apalagi melihat Prima yang sangat mirip dengan Doni baik wajahnya maupun sifatnya, hanya rambut dan warna kulitnya yang mengikuti dirinya.

__ADS_1


" Maafkan Yumna pah, mah, Yumna hanya tidak mau mengganggu waktu istirahat papa dan mama, apalagi mama sudah capek seharian jagain Prima" ucap Yumna penuh sesal.


Mama Doni mendekat kearah Yumna lalu membelai rambut menantu yang sudah dinggap anaknya sendiri, " Sayang jangan berfikir macam-macam, mama dan papa ikhlas, justru dengan adanya kalian mama dan papa jadi tidak kesepian, apalagi sekarang cucu mama tambah satu lagi, siapa namanya sayang?".


" Satria mah...." jawabnya sambil memandang kearah putra keduanya.


" Wah nama yang bagus, bagaimana prose kelahirannya? apakah susah?"tanya mamanya.


" Prosesnya cepat mah hanya 30 menit Satria lahir, sepertinya dia tidak mau menyusahkan mamanya " ucap Yumna sambil tersenyum.


Prima tidak mau bergeser sedikitpun dari adik barunya itu, apalagi kalau ada yang mau menyentuh adiknya maka dia akan pasang badan untuk menghalaunya, " Lihat boleh, kalau pegang ngga boleh", itulah kalimat yang selalu Prima ucapkan apabila ada orang yang mendekat kearah adiknya.


Acara berjalan lancar, kini bayi yang sedari tadi hanya tertidur mulai rewel, menangis tiada henti bahkan Yumna memberikan asinya pun bayi Satria menolaknya.


Semua berusaha menenangkannya tetapi tidak berhasil, setelah hampir satu jam mereka kewalahan akhirnya bayi mungil itu tertidur dalam isaknya sambil menyusu pada mamanya.

__ADS_1


Sambil menyusui Satria, Yumna iseng melihat sosmed miliknya dan ternyata disana ada pemberitahuan dari keluarga Rangga di Surabaya bahwa Rangga baru saja menghembuskan nafas terakhirnya akibat kecelakaan tunggal.


Yumna menutup mulutnya tidak percaya, ternyata akhir dr hidup mantan suaminya sungguh tragis, pantas saja tadi Satria rewel ternyata dia bisa merasakan ikatan batin dengan ayah kandungnya.


" Bagaimana apa Satria sudah diem nduk?" tanya ibu Sri.


" Sudah bu, oh ya bu....ternyata Satria rewel karena berita ini" ucapnya seraya memberikan ponselnya untuk dibaca oleh ibunya.


Ibu Sri menutup mulutnya, kaget ternyata karena kematian ayahnya menjadikan Satria rewel.


" Apakah kamu sudah memaafkan Rangga nduk? bagaimanapun juga kalian sudah berpisah, alangkah baiknya kamu memaafkan almarhum Rangga nduk" ucap ibu Sri menasehati putrinya.


Yumna membelai wajah putranya yang masih dalam dekapanny, " Yumna udah maafin Rangga bu....Yumna ikhlas, apalagi semua diluar kendali kita, Yumna punya anak-anak yang menjadi sumber kekuatan Yumna bu".


Ibu Sri membelai rambut putrinya, ada rasa sesak didadanya melihat kehidupan putrinya,bagaimana tidak? dari ditinggal meninggal oleh Almarhum Doni, dia menjalani hidup sebagai ibu sekaligus ayah, lalu menikah dengan Rangga, bukan kebahagiaan tapi kepahitan yang didapatkannya.

__ADS_1


dikit dulu


__ADS_2