
"Aku tahu kamu pasti terkejut saat menerima undangan ku, tapi terus terang aku begitu terkesima saat mendengar pidato mu malam itu. Tapi sebenarnya bukan hanya pidato mu yang membuat mu tertarik untuk mengajakmu bergabung di kampus ini, aku melihat bakat mengajar yang luar biasa dalam dirimu. Aku yakin kau akan membuat kampus ini semakin maju jika kau menjadi salah satu dosen di sini,"
"Anda terlalu memuji Pak," jawab Zahra
"Jadi bagaimana apa kau mau menjadi dosen di sini atau tidak?" tanya sang rektor
"Tentu saja, siapa yang tidak ingin menjadi dosen di Universitas ternama ini, hanya saja anda tahu bukan saya mempunyai seorang anak yang membutuhkan perhatian lebih dari saya...."
"Aku tidak keberatan kau membawanya saat mengajar, selama ia tidak menganggu pekerjaan mu. Lagipula dia anak yang cerdas aku yakin dia tidak akan mengganggu mu," ucap Sang Rektor membuat Zahra akhirnya menerima tawaran tersebut
Gading begitu senang saat Zahra menerima tawaran sang rektor. Pria itu bahkan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya dengan memberikan bucket mawar untuk menyambut kedatangan Zahra di kampusnya.
Hari pertama mengajar membuat Zahra merasa begitu bangga karena bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang dosen.
Sekarang impianku sudah terwujud, aku sudah menjadi dosen, semoga setelah ini tidak ada lagi yang merendahkan aku dan anakku.
"Sepertinya kau sangat bangga saat ini, ingat Za... meskipun kau seorang dosen saat ini tetap saja kehidupan mu takkan berubah. Kau tetaplah seorang janda dengan anak cacat. Aku rasa tidak akan ada lelaki dari kalangan terhormat yang mau menikahi mu lagi. Apalagi setelah tahu kau hanya akan melahirkan anak cacat," ejek Delia menatap sinis kearahnya
"Kata siapa tidak ada pria terhormat yang akan menikahinya," ucap Gading menghampiri keduanya
"Hari ini kalian akan menjadi saksinya, kalau aku akan melamar Zahra untuk menjadi istriku," imbuhnya membuat Delia begitu tercengang mendengarnya
"Apa?. Yang benar saja," ucap Dilla dengan nada tak percaya
Gading segera menghampiri Zahra yang masih tak percaya mendengar ucapannya.
Ia kemudian mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya dan bersimpuh di depannya.
"Will you marry me ( maukah kau menikah denganku )" ucap Dirga membuat Zahra semakin menganga
__ADS_1
Wanita itu tak mengira jika Gading akan benar-benar akan melamarnya.
"Jangan bercanda, gak lucu tahu," jawabnya mencoba mengacuhkannya
"Aku tidak pernah bercanda dengan perasaanku, sudah lama aku ingin mengatakan hal ini, hanya saja aku tidak punya keberanian untuk itu. Dan hari ini aku baru punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan ku padamu," jawab Gading menatapnya sendu
Zahra menatap Zalika yang menggandeng erat lengannya. Gadis kecil itu terlihat memalingkan wajahnya saat melihat Gading mengutarakan isi hatinya. Sebagai ibunya ia tahu benar jika itu berarti Zalika tidak menyukainya.
Ia tak bisa memberikan jawaban kepada Gading karena bagaimanapun ia harus meminta persetujuannya jika ia ingin menikah lagi. Ia tahu benar jika putrinya masih sayang dengan Dirga hingga tak mungkin mengizinkannya menikah dengan Gading.
"Maaf sepertinya aku belum siap untuk menikah lagi," jawab Zahra terbata-bata
"Wah sombong sekali, padahal sudah bersyukur ada pria baik hati yang bersedia Menikahinya, tapi tak di kira ia malah menolaknya, ck, ck, ck, benar-benar congkak!" cibir Delia tersenyum bahagia saat Zahra menolak lamaran Gading
Zahra langsung meninggalkan kampus dan pulang ke rumahnya.
Maafkan aku Ding, semoga kau akan mendapatkan pendamping yang sesuai untuk mu,
Hari itu juga Zahra mengemasi semua barang-barangnya dan bergegas meninggalkan apartemen Gading.
Ia kemudian memberikan kunci apartemennya kepada pria itu.
"Terimakasih banyak atas bantuan mu selama ini. Sepertinya aku harus pindah ke rumahku," ucap Zahra memberikan kunci apartemennya kepada Gading
"Tapi rumahmu masih belum selesai, lalu dimana kau akan tinggal?" tanya Gading
"Aku bisa menyewa rumah sementara, atau tinggal di hotel. Kau tidak perlu khawatir, berkat usaha bimbel ku aku memiliki banyak uang jadi jangan khawatir," jawab Zahra
"Kau tidak perlu melakukan semua ini karena menolak ku. Aku tidak keberatan jika kau dan Lika tetap tinggal di sini. Meskipun aku kecewa dengan keputusan mu tapi aku sama sekali tak ingin mengusir mu dari sini. Aku sangat tahu yang engkau rasakan jadi jangan sungkan, anggap saja aku seperti biasanya," jawab Gading berusaha menghalanginya
__ADS_1
"Tapi aku tak bisa, aku bukan orang yang bisa mengacuhkan perasaan ku sendiri, jadi maafkan aku jika kali ini aku tak bisa menerima kebaikan mu."
Zahra kemudian membawa putrinya meninggalkan tempat itu.
"Kamu tidak keberatan kan jika kita tinggal di tempat ini untuk sementara waktu," ucap Zahra saat tiba di sebuah kontrakan sederhana
Zalika mengangguk.
"Maaf jika mamah belum bisa menyewa rumah yang lebih bagus, tapi mamah janji akan pindah dari tempat ini bulan depan," ucap Zahra mencoba meyakinkan putrinya agar mau tinggal di kontrakan sederhana untuk sementara waktu.
Meskipun usaha Bimbelnya pasti sudah berkembang pesat namun Zahra tak pernah menikmati uang hasil kerjanya. Ia sengaja menyumbangkan semua uangnya untuk membantu sekolah dan yayasan yang menaungi anak-anak berkebutuhan khusus.
Ia sengaja memilih hidup sederhana. Hari-hari berikutnya Zahra mulai menjauhi Gading. Wanita itu berusaha mengubur perasaannya agar tak semakin menyukai pria itu. Meskipun kadang ia harus siap menahan sakit saat rasa rindu mulai menyerangnya tetap saja ia berusaha keras untuk melupakan Gading demi putrinya.
Seperti ada hubungan batin yang berat antara dirinya dengan putrinya, Zalika mulai merasakan kesedihan yang dialami ibunya semenjak memutuskan hubungannya dengan Gading.
Meskipun ia tak pernah memperlihatkan kesedihan di depannya, namun gadis kecil itu bisa tahu jika ibunya begitu mencintai pria itu.
Saat mengikuti lomba melukis, Zalika sengaja mengekspresikan perasaan ibunya kepada Gading dengan kuasnya.
Lukisan berhasil memenangkan perlombaan seni lukis yang diadakan oleh kementrian Kebudayaan tersebut. Selain mendapatkan juara pertama, lukisannya bahkan di bandrol dengan harga fantastis oleh seorang pecinta seni.
"Coba ceritakan apa makna lukisan mu ini nak?" tanya sang pembeli lukisan yang begitu penasaran dengan makna lukisan di tangannya
"Itu adalah perasaan mamah, dia sangat menyayangi ku hingga rela mengorbankan kebahagiaannya untukku. Dia Bahkan rela diusir dari rumah pria yang dicintainya hanya untuk membelaku. Saat ini Mamah tahu aku ingin dia kembali dengan ayah, karena aku sangat merindukan ayahku, sehingga ia rela menolak lamaran pria yang dicintainya demi menjaga perasaan ku. Meskipun aku bahagia melihat mamah tak menikah dengan pria itu, tapi aku sedih melihat mamah yang terlihat hampa. Ia tersenyum tapi tak bahagia, itulah yang membuat ku semakin merasa bersalah karena sudah merestui cintanya," jawab Zalika membuat semua orang yang ada di tempat itu berlinang air mata mendengarnya
"Jadi apa yang kau inginkan sekarang?"
"Aku ingin mamah bahagia," ucap Zalika membuat Zahra tak percaya Mendengarnya.
__ADS_1