
Seorang pembeli lukisan yang penasaran dengan makna lukisan Zalika menghampiri gadis kecil itu untuk menanyakan makna lukisan yang begitu menyihir para pecinta seni
"Coba ceritakan apa makna lukisan mu ini nak?" tanya sang pembeli lukisan yang begitu penasaran dengan makna lukisan di tangannya
"Itu adalah perasaan mamah, dia sangat menyayangi ku hingga rela mengorbankan kebahagiaannya untukku. Dia Bahkan rela diusir dari rumah pria yang dicintainya hanya untuk membelaku. Saat ini Mamah tahu aku ingin dia kembali dengan ayah, karena aku sangat merindukan ayahku, sehingga ia rela menolak lamaran pria yang dicintainya demi menjaga perasaan ku. Meskipun aku bahagia melihat mamah tak menikah dengan pria itu, tapi aku sedih melihat mamah yang terlihat hampa. Ia tersenyum tapi tak bahagia, itulah yang membuat ku semakin merasa bersalah karena sudah merestui cintanya," jawab Zalika membuat semua orang yang ada di tempat itu berlinang air mata mendengarnya
"Jadi apa yang kau inginkan sekarang?"
"Aku ingin mamah bahagia," ucap Zalika membuat Zahra tak percaya Mendengarnya
Wanita itu menghampiri putrinya, "Mamah bahagia melihat mu tumbuh dengan baik, tidak ada seorang ibu yang tidak bahagia saat melihat anaknya membanggakan keluarganya. Dan kau selalu memberikan kebahagiaan itu sayang," ucap Zahra
"Tapi tetap saja aku belum membuat mamah bahagia. Meskipun mamah selalu tersenyum di depanku, tapi aku tahu kau selalu menangis saat aku tertidur. Jika Om Gading bisa membuat mamah tersenyum maka menikahlah dengannya," jawab Zalika membuat semua orang terpana melihat
Ia kemudian menggandeng lengan Zahra dan membawanya pergi menghampiri Gading yang juga hadir di tempat itu.
"Aku mau mamah bahagia," ucap Gadis itu menyatukan tangan Zahra dengan Gading.
Semua orang yang hadir di tempat itu langsung terharu melihat sikap Zalika yang berusaha menyatukan ibunya dengan wanita yang di cintainya.
Gading tersenyum dan menatap Zalika, "Terimakasih sayang sudah merestui kami," ucapnya lirih
"Aku harap Om bisa buat mamah selalu tersenyum,"
"Tentu saja sayang,"
Karena Gading tak membawa cincin pernikahan, ia pun melamar Zahra dengan menggunakan setangkai mawar merah.
"Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Gading
Zahra langsung mengangguk, membuat semua orang langsung bertepuk tangan.
Setelah acara selesai Gading mengajak Zahra dan Zalika makan malam di sebuah restoran mahal. Ia sengaja mengajak keduanya untuk merayakan hari bahagianya karena sudah resmi melamar Zahra.
"Maaf kalau aku tidak romantis seperti pria lainnya,"
"Tidak apa, lagipula usia kita sudah tidak muda lagi untuk melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh pasangan muda. Bagiku yang terpenting adalah keseriusan mu karena hanya itu yang aku butuhkan," jawab Zahra
"Alhamdulillah, terimakasih atas pengertiannya Za,"
__ADS_1
Gading tampak memperhatikan Zalika yang sedang menikmati makanannya.
"Kau pasti sangat kelaparan setelah melukis tadi," ucap Gading
Zalika hanya mengangguk dan kembali melanjutkan makannya lagi.
Selesai makan malam, Gading mengantar mereka kembali ke rumahnya. Betapa terkejutnya saat mendapati Zahra dan Zalika tinggal di lingkungan kumuh.
"Bagaimana kau bisa tinggal di lingkungan seperti ini?" tanya Gading
"Aku terpaksa tinggal di sini untuk sementara waktu sambil menunggu rumah selesai di renov, " jawab Zahra
Gading kemudian meminta zahra untuk segera membereskan barang-barang miliknya. Mala, itu ia memboyong kembali Zahra ke apartemennya.
"Mulai sekarang kalian akan tinggal di sini untuk selamanya,"
"Maksudnya??" tanya Zahra
"Bukankah jika kita menikah maka apartemen ini akan menjadi milikmu, jadi kita akan tinggal bersama di sini," jawab Gading
Zahra tersipu mendengar jawaban Gading.
Zahra mengangguk mengiyakan permintaan Gading. Malam itu juga Gading menemui ibunya dan memberitahukan kepada mereka keinginannya untuk melamar Zahra.
Kedua orang tuanya setuju dan tak keberatan dengan keinginannya membuat pria itu merasa senang.
Sementara itu Merry yang sudah benar-benar sehat kembali beraktivitas seperti biasanya. Kali ini ia mengunjungi peresmian kantor cabang Bahri Food yang ada di sebuah mall.
Ia begitu antusias saat melihat banyaknya pelanggan yang mendatangi stand makanan yang ia jajakan di depan kantornya.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak sekali, tapi sayang harganya terlalu mahal!" jawab seorang pelanggan
"Tentu saja harga tak jadi masalah jika memang produk makanan kami sangat enak dan berkualitas. Seperti kata pepatah ada harga ada rupa. Jadi harga barang harus sesuai dengan kualitasnya bukan?" jawab Merry
"Tapi di toko sebelah makanan seperti ini dijual dengan begitu murah,"
"Tapi rasanya berbeda bukan?" jawab Merry
__ADS_1
"Sama saja, yang namanya ayam ya rasanya gitu-gitu aja, gak ada yang istimewa,"
"Kalau begitu kenapa tidak membeli di sana saja!" hardik Merry begitu geram dengan wanita itu
"Tentu saja kami akan membeli di sana, bukan hanya harganya yang murah tapi juga pelayanannya sangat ramah, asal anda tahu kami kesini hanya untuk mendapatkan makanan gratis saja," jawab wanita itu kemudian meninggalkan tempat itu
"Dasar orang miskin selalu saja punya alasan untuk mendapatkan makanan gratis. Bilang saja tak punya uang tak usah bilang harganya mahal lah, kurang ramah lah, bull ****!" maki Merry
Melihat Merry yang terus menggerutu membuat beberapa orang konsumen langsung pergi meninggalkan restoran itu. Tentu saja hal itu membuat Anindya sebagai pemilik restoran tersebut begitu marah dengan Merry.
Ia bahkan menyuruh ibunya untuk istirahat saja, tapa harus membantunya.
"Kenapa kau mengusir ku, harusnya kau senang karena aku mau membantumu, dasar anak tak tahu diri!" seru Merry
"Ibu itu tidak membantu di sini, malah mengacaukan acara promo Anin!" jawab Anin
"Apa!, bagaimana mungkin ibu mengacaukan restoran milikku sendiri yang benar saja!"
"Apa ibu tidak sadar kalau ibu sudah membuat semua pelanggan ku kabur karena sikap pemarah ibu itu. Sudahlah lebih baik ibu istirahat saja daripada harus mengacau di sini,"
"Sekarang kau mulai jadi anak kurang ajar ya, sudah dikasih hati malah minta jantung. Awas saja kalau kau menghubungi ku karena usahamu bermasalah!"
Merry segera masuk kedalam restoran untuk mengambil tasnya.
Sementara itu Anin yang melihat Zahra dan Putrinya berbelanja di mall tersebut langsung menghampirinya.
"Kalau kamu tidak keberatan mampirlah ke restoran ku, kebetulan aku baru buka cabang di sini," ucap Anin
"Selamat kalau gitu, semoga restorannya laris dan banyak pembelinya." jawab Zahra
"Aamiin, makasih doanya, yuk Lika makan ayam dulu. Tante tahu kamu tuh suka banget ayam jadi ayo kita makan!" Anin menggandeng lengan Zalika dan membawanya masuk ke dalam restorannya
"Duduk disini sebentar ya, Tante akan bawakan menu spesial buat Lika,"
Zalika mengangguk dan segera mengeluarkan buku gambarnya. Ia menunggu sambil menggambar suasana restoran itu.
Merry menghentikan langkahnya saat melihat Zahra dan putrinya ada di tempat itu. Ia kemudian menghampiri keduanya.
"Bukannya aku sudah melarang mu menginjakkan kaki di kediaman Bahri group, restoran ini adalah milik putriku jadi pergilah dari sini, karena tempat ini haram di masuki oleh wanita seperti mu!" hardik Merry
__ADS_1