
"Zalika??"
Merry begitu terkejut saat melihat gadis kecil itu segera berlari meninggalkannya saat melihatnya.
"Apa dia mengenaliku??"
Ia segera berlari menyusul gadis kecil itu. Wanita itu tampak tampak kelelahan saat mengejar Zalika yang berlari begitu cepat.
"Zalika tunggu!" serunya berusaha menghentikan gadis itu
Namun Zalika yang ketakutan semakin mempercepat larinya dan langsung menutup pintu kelasnya setelah ia masuk.
Ia bahkan segera bersembunyi di bawah meja saat mendengar pintu kelasnya di buka.
*Krieet!!
Merry mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Zalika.
"Dimana anak itu, aku yakin ia masuk ke kemari, tapi kenapa ia tidak ada di sini??" wanita itu begitu kebingungan saat tak melihat Zalika di ruangan itu.
Ia kemudian masuk dan memeriksa ruang kelas itu untuk memastikan apa Zalika ada di tempat itu atau tidak.
Senyumnya tiba-tiba mengembang saat melihat sepatu Zalika.
"Kau benar-benar sangat mirip dengan ayahmu, kau bersembunyi di bawah meja saat ketakutan," ucap Merry tersenyum melihat sikap konyol Zalika
Ia kemudian duduk berjongkok dan menatap sendu gadis tujuh tahun di depannya.
"Sayang, apa kamu masih ingat dengan nenek?" tanya Merry
Zalika hanya diam sambil menatap nanar sosok wanita di depannya.
"Aku adalah nenek mu, apa kau tidak mengenaliku?" tanya Merry begitu ramah
Zalika menatap lekat wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sebuah ingatan memilukan mulai muncul dalam benaknya.
Ia masih ingat bagaimana Merry memukulinya saat ia mencoba mengacak-acak ruang tamu.
"Aku tidak pernah memiliki nenek jahat seperti dirimu, jadi jangan pernah mengaku-ngaku!" seru Zalika membuat wanita itu begitu terkejut mendengarnya
Tentu saja ia tak mengira jika Zalika yang selama ini selalu diam dan tak pernah berbicara dengannya tiba-tiba akan berkata seperti itu padanya.
"Apa ibumu yang mengajari mu berbicara tidak sopan terhadap nenekmu?" tanya Merry dengan wajah bengisnya
"Kalau iya kenapa, apa kau tidak terima jika di panggil wanita jahat," jawab Zahra yang dengan senyum sinis
__ADS_1
"Beraninya kau!" seru Merry berusaha menamparnya.
Namun Zahra dengan cepat langsung menangkap tangannya.
*Grepp!!
"Jangan pikir kau bisa menginjak-injak ku lagi seperti dulu nyonya Bahri. Semua sudah berubah, aku bukan Zahra yang dulu lagi," jawab Zahra kemudian melepaskan tangan wanita itu
"Jangan pernah ganggu putriku lagi atau aku akan memberi pelajaran yang tak pernah kau lupakan seumur hidupmu!" ucap Zahra
Ia segera mengajak putrinya pergi meninggalkan Merry yang tampak memegangi pergelangan tangannya yang memerah.
"Dasar jal*ng sialan, beraninya kau mengancam ku!" gerutu Merry
Dirga segera menghampirinya, " Apa yang terjadi Ibu, kenapa kau tidak bersama Lika, apa kau gagal membawanya pulang?" tanya Dirga
"Kau lihat sendiri bukan bagaimana jal*ng itu langsung membawanya pergi dan merisak ku," jawab merry memegangi tangannya
********
*Braakkk!!!
Setibanya di gedung Bahri grup, ia segera menemui suaminya di ruangannya.
Bahri yang sudah dapat menebak kegagalan Merry hanya tersenyum sinis menyambutnya.
*Brakkkk!!
"Melihat ekspresi di wajahmu, aku tahu kau pasti gagal membawa Zalika ke sini bukan?!"
"Kau memang tak bisa diandalkan," imbuhnya
"Kalau kau memang punya seseorang yang bisa diandalkan kenapa tidak menyuruhnya saja dari awal dan kenapa malah menyuruhku!" tanya Merry begitu geram
"Aku hanya ingin tahu apa kau masih bisa diandalkan seperti dulu, atau kau sudah kehilangan taringmu?" ejek Bahri
"Seorang pecundang pasti akan berkata seperti itu untuk menutupi kelemahannya, dasar brengsek beraninya kau berkata seperti itu kepada setalah apa yang sudah aku lakukan untukmu," jawab Merry kemudian bergegas meninggalkan suaminya
Wanita itu kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Gedung Bahri Group. Ia menghentikan mobilnya di sebuah bar.
Ia segera masuk ke ruangan VIP dan memesan beberapa minuman beralkohol untuk melampiaskan kekesalannya.
Ia menghabiskan gelas demi gelas wine yang ada di depannya.
Dasar brengsek kau pikir aku ini pesuruh mu apa, sehingga kau bebas memerintah ku. Dan juga wanita itu dia bahkan sudah berani menatap mataku. Apa kau pikir sekarang kau sudah menjadi wanita hebat setelah menjadi seorang profesor?. Arrghhh!!" Seru Merry begitu geram
__ADS_1
"Nyonya, maaf bar kami sudah tutup jadi silakan anda pulang," ucap seorang pihak keamanan
Merry yang sudah mabuk berat tak merespon ucapnya dan malah merancau tidak jelas.
Melihat Merry yang tak mungkin bisa menyetir membuat para pria itu kemudian membawanya keluar secara paksa.
Mereka kemudian menghentikan sebuah taksi dan memintanya mengantarkan Merry ke rumahnya.
"Tolong antarkan ia ke kediaman keluarga Bahri," ucap seorang manajer Bar
Merry yang tak mau pulang ke rumahnya diam-diam turun dari taksi saat mobil itu berhenti di traffic light.
Ia berjalan sempoyongan menyusuri jalanan ibukota. Penampilan Merry yang menggunakan barang-barang mewah rupanya membuat beberapa orang preman jalanan membuntutinya.
Ia tahu jika wanita itu adalah orang kaya dari pakaian yang dipakainya. Saat Merry melintasi jalanan sepi para preman itu langsung membegalnya.
Mereka mengambil barang-barang berharga milik wanita itu dan terpaksa melumpuhkan wanita itu karena sempat melawan.
Zahra yang baru pulang mengajar begitu penasaran saat melihat kerumunan orang - orang di pinggir jalan.
Karena penasaran ia pun melihat apa yang terjadi. Ia begitu terkejut saat melihat sosok Merry terkapar dengan penuh luka.
Ia tahu jika wanita itu telah mengalami tindak kejahatan. Meskipun ia sangat membenci wanita itu, tetap saja ia tak tega saat melihat ia terkapar di pinggir jalan tanpa ada seorangpun yang mau menolongnya.
Ia kemudian menghentikan sebuah taksi dan membawanya ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit ia kemudian menghubungi Anindia untuk memberitahukan kondisi ibunya.
"Sebaiknya kau bawa baju ganti, dan jangan beritahu siapapun kalau aku yang memberitahu mu," ucap Zahra kemudian menutup telponya.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Zahra
"Untung anda cepat membawanya ke sini jadi ia masih bisa tertolong. Meskipun ia mengalami banyak perdarahan tapi ia sudah berhasil melewati masa kritisnya. Kemungkinan sebentar lagi dia akan siuman," ucap dokter
"Terimakasih dok,"
Mendengar kondisi Merry sudah membaik membuat Zahra berpikir untuk meninggalkannya. Toh sebentar lagi Anin akan segera datang untuk mengurusnya.
Saat ia akan pergi tiba-tiba Merry menarik lengannya membuat wanita itu langsung membalikkan badannya.
Ia melihat Merry sudah siuman.
"Kenapa kau menolong ku, kenapa kau tak membiarkan aku mati saja. Bukankah kau ingin aku mati??" ucap Merry
"Aku menolong mu bukan sebagai Zahra mantan menantumu. Tapi aku menolong mu sebagai sesama manusia, bukankah sebagai manusia kita harus menolong sesama yang terkena kemalangan?" jawab Zahra
__ADS_1