
"Akhirnya kau kembali juga ke rumahmu sayang. Sekarang ayah tinggal membawa ibumu kembali agar kita bisa bersama lagi seperti dulu," ucap Dirga
"Tapi ayah, meskipun aku selalu ingin bersamamu, aku tetap tak mau kembali lagi ke Neraka ini. Rumah ini sangat menyeramkan ayah!" seru Zalika begitu ketakutan
"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu?" ucap Dirga tak percaya mendengar ucapan putrinya
Zalika kemudian menunjuk foto Delia yang terpajang di ruang tamu.
"Wanita itu sangat menakutkan, aku takut padanya ayah," ucap Zika kemudian bersembunyi dibelakangnya
Dirga mulai mengerti kenapa Zalika ketakutan saat masuk kembali ke rumahnya. Ia mengira jika anak itu masih trauma dengan perlakuan Delia yang memaksanya makan coklat.
"Jangan khawatir sayang, tante Delia sudah tidak tinggal di sini lagi, jadi kamu tidak perlu takut,"
Dirga kemudian mengajak Zalika menuju ke kamarnya.
"Ayah sengaja merubah sedikit interior kamar kamu, apa kamu suka?" tanya Dirga
"Tetap saja aku lebih suka jika bersama mamah, aku kangen mamah," ucap Zalika terisak
Melihat kesedihan di wajah putrinya membuat Dirga segera menghubungi Zahra. Namun karena kesibukannya mengajar, Zahra tak mendengar panggilan masuk dari Dirga.
Pria itu kemudian memberikan pengertian kepada putrinya jika ibunya akan segera pulang setelah selesai mengajar.
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat ya sayang, ayah yakin sekarang ibumu dalam perjalanan pulang menuju ke sini," ujar Dirga
Zalika berusaha memejamkan matanya, namun tetap saja ia tak bisa tidur meskipun Dirga sudah membacakan dongeng untuknya.
Melihat Ayahnya sudah terlelap Zalika mengambil ponsel Dirga untuk menghubungi ibunya.
Zahra begitu terkejut saat melihat wajah putrinya saat melakukan video call.
"Mamah jemput aku pulang, aku tidak mau tinggal di sini," ucap Zalika
"Tunggu sebentar lagi, ibu pasti akan datang menjemputmu," jawab Zahra
Zahra terpaksa tak menemui Zalika di kediaman mertuanya. Ia tidak mungkin menginjakkan kakinya di rumah itu seperti janjinya. Ia berusaha menasihati buah hatinya karena ia tak bisa menjemputnya seperti keinginannya, ia harus meminta bantuan Gading untuk membawanya keluar dari kediaman keluarga Bahri
__ADS_1
Merasakan kerinduan yang begitu menyiksa membuat gadis itu mantap untuk pergi meninggalkan kediaman Dirga.
Gadis kecil itu kemudian keluar dari kamarnya dan membobol pintu rumah keluarga Dirga dan kabur meninggalkan rumah itu.
Meskipun awalnya Zalika ketakutan karena berjalan sendirian di malam yang begitu dingin, ia tetap nekat meninggalkan rumah itu.
Ia memakai sebuah sweater dan berjalan perlahan menyusuri trotoar. Zalika yang tak membawa uang sengaja mendatangi seorang polisi lalu lintas.
Bocah genius itu sengaja meminta bantuan sang polisi untuk mengantarnya pulang.
Pagi harinya Semua orang dibuat panik dengan menghilangnya Zalika. Dirga tak habis pikir bagaimana gadis kecil itu bisa kabur dan berani memanjat pintu gerbang rumahnya yang tingginya mencapai dua meter.
Ia menduga jika putrinya tidak benar-benar pergi. Ia segera pergi ke belakang rumahnya untuk menemui seorang penjaga rumahnya.
Seketika Dirga merasa jantungnya berhenti berdetak saat mendengar ucapan pria yang menjadi tenaga keamanan rumahnya menyatakan jika putrinya tidak bersamanya.
"Mati aku, kalau zahra tahu putrinya menghilang saat bersamaku, ia bisa membunuhku!"
Dirga kemudian memberitahu ayahnya jika Zalika pergi dari Rumah. Bukannya marah Bahri malah senang mendengar berita itu.
Ia sengaja ingin memanfaatkan situasi itu untuk mengambil hak asuh Zalika dari Zahra.
Hari itu juga Zahra terkejut saat mendapatkan pemberitahuan dari pihak pengadilan bahwa suaminya menuntut hak asuh Zalika.
Polisi langsung menggeledah kediaman Zahra untuk mencari keberadaan Zalika. Namun sayangnya mereka tak menemukan gadis kecil itu di sana.
Zahra yang kebingungan kenapa para polisi mencari keberadaan Zalika di rumahnya segera menghubungi Dirga untuk menanyakan apa yang terjadi.
"Zalika kabur semalam, apa dia benar-benar tidak ada bersamamu?" jawab Dirga
"Kau pikir aku menyembunyikan Zalika, asal kau tahu semalam Zalika menelpon ku dan meminta ku menjemputnya tapi aku menyuruhnya untuk tetap di rumahmu, aku sudah berjanji akan menjemputnya hari ini, tapi kenapa kau malah kehilangan dia. Ayah macam apa kamu, bagaimana bisa kamu kehilangan Zalika di rumahmu sendiri!!" seru Zahra begitu emosi saat mengetahui putrinya menghilang
Ia kemudian menghubungi Gading dan memberitahu tentang Zalika yang kabur dari rumah mantan suaminya.
Zahra segera menghubungi teman-teman Zalika berharap putrinya ada di rumah mereka. Namun ia harus kecewa saat semua temannya mengatakan jika Zalika tidak ada di rumahnya.
Wanita itu seperti kehilangan separuh nyawanya saat kehilangan putri semata wayangnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak melaporkan kejadian ini kepada polisi?" ujar Gading
"Tapi belum ada 24 jam Zalika menghilang,"
"Untuk apa harus menunggu sampai 24 jam, sekarang ayo kita ke kantor Polisi," ucap Gading kemudian mengajak Zahra ke kantor polisi terdekat
"Apa kau yakin dia benar-benar kabur dari rumah Dirga?" tanya Gading
"Dirga sendiri yang mengatakan hal itu, bahkan ia sengaja membawa polisi untuk memeriksa apa Lika ada di rumah atau tidak," terang Zahra
"Apa kau tidak curiga jika mereka sengaja menyembunyikan Zalika agar bisa mendapatkan hak asuh putrimu. Kau bilang hari ini kamu mendapatkan surat gugatan hak asuh anak?"
"Benar juga, Zalika hilang di hari dimana Dirga mencoba mendapatkan hak asuhnya. Apa ini bukan suatu kebetulan??" ujar Zahra
Gading kemudian mengajak Zahra menemui pengacaranya. Ia kemudian memberitahukan kepada pengacaranya tentang masalah hak asuh Zalika.
Zahra terkejut saat mendengar peluang untuk mendapatkan hak asuh Zalika sangat kecil.
"Satu-satunya cara agar kamu bisa mendapatkan hak asuh Zalika adalah dengan menikahi mas Gading," ucap sang pengacara
"Kenapa harus menikah dengan Gading, memangnya siapa dia?" jawab Zahra
"Sulit bagi orang biasa untuk menang melawan keluarga Bahri saat dipersidangan nanti. Hanya keluarga kaya yang memiliki kekayaan sepadan dengannya yang bisa mengalahkan keluarga Bahri di pengadilan nanti," sahut Sang pengacara
"Dengan kata lain Gading adalah anak konglomerat?" tanya Zahra tak percaya
"Bagaimana kau bisa membohongi aku selama ini," imbuh Zahra
"Apa kau kesal padaku karena aku tidak pernah jujur tentang jatidiri ku?" ujar Gading
"Entahlah, harusnya aku tidak boleh marah karena itu adalah hak mu, maafkan aku yang terlalu baper ini," ucap Zahra
"Aku tidak pernah memaksa mu untuk segera menikah denganku. Jadi jangan terlalu diambil hati," jawab Gading
"Meskipun aku sebenarnya belum siap untuk menikah dalam waktu dekat, namun demi menyelamatkan Zalika aku pasti akan melakukannya. Jadi kapan kita akan menikah?" tantang Zahra
Tentu saja Gading dan pengacaranya seketika tertawa mendengar celoteh dati Zahra.
__ADS_1
Kalau kau sudaj mengerti sebaiknya kau pulang saja, dan istirahat saja, biar aku yang menyelesaikan sisanya.