
Zalika tampak kebingungan saat beberapa orang menariknya dan membawanya pergi dari tempat itu.
Juno segera mengejar orang-orang itu dan berusaha bernegosiasi dengan mereka agar mau melepaskan Zalika hingga adu mulut antara Juno dan seorang yang dianggapnya sebagai provokator membuat Juno hampir hilang kendali.
Juno hampir saja mengeluarkan tinjunya kepada seorang pria paruh baya yang terus memprovokasi warga agar tetap menyandera Zalika dan meminta pertanggungjawaban dari pihak HK Construction.
Melihat keributan membuat Zalika langsung menutupi telinganya, "Stop, jangan berantem karena itu tidak baik!" serunya berulang-ulang hingga membuat Juno dan sang provokator terdiam.
"Dasar bocah gemblung, sok-sokan menasihati orang tua!" cibir sang provokator
"Setiap anak berhak mengingatkan orang tuanya yang berada di jalan yang sesat, karena itu bukti kasih sayang anak kepada orang tuanya," jawab Zalika
"Tapi gue bukan bokap lo,"
"Tentu saja anak di sini konteksnya adalah seorang yang belum dewasa seperti aku dn orang tua yang dimaksud adalah seorang yang sudah dewasa Om," terang Zalika
Semua orang terdiam melihat Zalika yang berjalan mondar-mandir sambil menutup telinganya.
Beberapa orang bahkan berbisik-bisik membicarakan dirinya. Sementara Juno langsung menghampiri Zalika dan menenangkannya.
"Stop jangan berantem, karena itu tidak baik!" seru Zalika lagi
"Iya sekarang kita sudah berhenti kok," ucap Juno perlahan menurunkan kedua tangan Zalika yang menutupi telinganya.
Zalika menatap intens Juno kemudian memandangi satu persatu warga yang mengerubunginya.
Zalika mengambil nafas setelah melihat para warga sudah tenang. Ia menurunkan tangannya sambil mengambil nafas dan membuangnya.
"Fiuh, nyaman sekali!" serunya
Selesai melakukan pernafasan Zalika berdiri tegak dan mengatur posisinya senyaman mungkin.
"Setiap masalah bisa diselesaikan, kalau boleh tahu saya mau minta salah satu perwakilan dari warga untuk bicara," ucapnya dengan penuh wibawa
__ADS_1
Kini seorang warga maju ke depan dan mulai menceritakan keluhannya.
"Jadi itu alasan bapak ingin menyandera ku?" tanya Zalika
"Sebenarnya bukan itu tujuan kami, kalau itu adalah inisiatif Pak Nurdin," jawab seorang warga menunjuk kearah sang provokator.
Ia juga mengatakan selama ini sudah mengutus Pak Nurdin sebagai jubir yang mewakili para warga, untuk berbicara dengan perwakilan HK Construction. Tujuannya adalah untuk menyampaikan aspirasi dari pata warga yang belum menerima kompensasi pembayaran ganti rugi sampai sekarang. Namun meskipun Nurdin sudah beberapa kali diundang ke HK Construction tetap saja belum ada kejelasan. Sampai sekarang uang ganti rugi tanah belum di terima.
"Itulah sebabnya kami langsung kesini saat melihat kalian, kami ingin meminta pertanggung jawaban HK Construction melalui kalian. Tapi Pak Nurdin malah meminta kami untuk menyandera nona manis ini.
"Hmm," Zalika memutar bola matanya sambil menggerakkan jari-jarinya.
Ia kemudian tersenyum saat berhasil menemukan ide. Zalika menyuruh Juno untuk menghubungi pihak humas KH construction.
Zalika meminta Juno untuk menanyakan tentang kasus ini. Ia juga tak lupa meminta Juno untuk meloud speaker pembicaraannya.
"Baik bapak dan ibu semua, sekarang saya akan menghubungi seorang karyawan HK Construction yang mengurusi masalah kalian.
Para warga tampak antusias mendengarkan pembicaraan Juno dengan kepala humas HK Construction.
"Perusahaan sudah mentransfer sejumlah uang kepada pak Nurdin sebagai uang muka pembayaran tanah warga, pihak perusahaan memang baru membayar dua puluh persen dari harga jual semua tanah warga. Perusahaan juga sudah membuat kesepakatan dengan Pak Nurdin untuk melunasi sisanya awal bulan September dengan ketentuan harga tanah sesuai dengan kesepakatan yang dibuat dengan warga sebelumnya," terang seorang kepala Humas HK Construction
Mendengar penjelasan dari pihak HK Construction para warga pun terkejut. Apalagi saat tahu jika Pak Nurdin sudah menerima uang ganti rugi tanah mereka.
"Dimana uang kami!" seru salah seorang warga
Tiba-tiba Pak Nurdin terlihat panik dan berusaha melarikan diri. Beruntung Juno langsung menangkapnya.
"Sekarang jelaskan dulu semuanya kepada para warga!" seru Juno
Dengan terbata-bata pak Nurdin akhirnya menceritakan semuanya kepada para warga. Ia mengaku Jika ia sudah menerima uang ganti rugi dari perusahaan untuk membayar uang ganti rugi tanah para warga .
Tapi dia berkilah jika uang yang diterimanya itu telah dibegal saat perjalanan pulang. Itulah yang menyebabkan ia belum memberikan uang ganti rugi tersebut Kepada para warga. Ditambah lagi anaknya yang sedang sakit dan harus dirawat intensif di rumah sakit membuat Nurdin belum bisa membayar uang ganti rugi para warga hingga sekarang. bagaimana ia bisa membayar uang ganti rugi para warga sedangkan untuk membayar biaya anaknya di rumah sakit saja ia harus banting tulang kerja sampai malam.
__ADS_1
Tentu saja para warga merasa sedih saat mengetahui bahwa uang mereka di begal dan mereka tidak bisa menyalahkan Nurdin, apalagi saat mereka tahu jika anak Nurdin dirawat di rumah sakit.
Salah Seorang warga menanyakan berapa kompensasi yang ia terima dari HK construction.
Pak Nurdin mengatakan Jika harga jika HK Construction memberikan ganti rugi uang masing-masing 20% sesuai dengan jumlah uang yang didapat para warga, dengan catatan harga disesuaikan dengan kesepakatan harga yang sudah dibuat oleh para warga dengan perusahaan sebelumnya.
Nurdin juga menjelaskan jika bulan depan untuk pengambilan uang sisa ganti rugi para warga harus menyiapkan sebuah rekening tabungan untuk mempermudah proses pembayaran ganti, karena pihak HK Construction hanya akan mentransfer uang ganti rugi tanpa memberikan uang tunai.
Nurdin menangis kan meminta maaf kepada warga dan berjanji akan membayar uang mereka setelah ia punya uang. Ia juga berharap jika para warga bisa memberinya waktu untuk membayar uang mereka.
Nurdin juga tidak bisa mengembalikan uang mereka 100%. Sebagai seorang petani Ia hanya bisa mengembalikan uang mereka setengahnya saja.
Melihat kesungguhan Pak Nurdin para warga pun merasa iba dan akhirnya setuju dengan permintaan lelaki paruh baya itu.
Namun Zalika menangkap ada yang disembunyikan oleh Pak Nurdin. Sebagai seorang jenius yang sudah mempelajari gestur tubuh seseorang, Zalika merasa jika Pak Nurdin tidak berbicara jujur. Saat melihat gesture pria itu Zalika yakin jika Pak nudin berbohong.
Zalika kemudian membersihkan sesuatu kepada Juno.
Juna awalnya terkejut dengan rencana Zalika namun setelah dipikir-pikir ucapan Zalika ada benarnya juga. Apalagi saat menyimak jika Nurdin menerima pembayaran uang ganti rugi tanah dengan metode transfer bukan uang tunai.
Bagaimana seorang penjahat tahu jika Nurdin memiliki uang tabungan yang banyak?. Yang ada seorang begal itu akan mengincar seseorang yang membawa banyak uang tunai?, bukan mengincar buku tabungan?.
Dari sini Juno sudah mulai curiga, jika Nurdin memang berbohong seperti yang dipikirkan oleh Zalika.
Apalagi saat melit ia menggaruk-garuk kepalanya saat berbicara. Tatapan matanya yang tidak fokus menatap ke arah warga pun menjadi sebuah petunjuk jika Nurdin memang berbohong.
Juno kemudian memanggil seorang warga untuk mengajukan penawaran kepada Nurdin. Ia meminta seorang wanita untuk berpura-pura membutuhkan uang dan hanya meminta kompensasi 25 persen saja jika Nurdin bisa membayarnya sekarang.
Tanpa basa-basi Nurdin langsung menyanggupi permintaan wanita itu. Ia langsung meminta nomor rekening wanita tersebut dan mentransfer sejumlah uang kepadanya.
Zalika kemudian meminta no rekening pria itu dan mulai meretas datanya dengan ponsel pintarnya.
Sebagai seorang hacker Zalika berhasil mengetahui jumlah saldo rekening Nurdin. Ia terkejut saat mengetahui jika Nurdin masih menyimpan uang transfer dari pihak HK Construction di rekening tabungannya.
__ADS_1
Zalika kemudian menunjukkan saldo rekening Nurdin kepada Juno. Juno benar-benar kesal dengan sikap culas Nurdin yang ingin mengambil keuntungan dari para warga dengan menipunya.
Ia kemudian menyeret pria itu untuk berbicara empat mata. Nurdin mengancam akan melaporkan kejadian ini kepada polisi jika Nurdin tetap bersikeras membayar uang ganti rugi sebesar 50 persen. Dengan ketakutan Nurdin pun akhirnya setuju untuk membayarkan uang kompensasi warga seratus persen saat itu juga.