
#Bagi pembaca yang kemarin kecewa karena bab yang diulang-ulang silakan bisa baca ulang ya, karena semua chapter sudah di revisi termasuk dua pengumuman#
"Ayah,"
Zalika tak menyangka jika Dirga ayahnya adalah pria yang akan ditemuinya dengan Wibi.
Ia sempat memalingkan wajahnya agar Dirga tak melihatnya saat air matanya hampir saja tumpah ketika melihat pria itu lagi.
Bagaimanapun juga Zalika sangat merindukan sosok ayah kandungnya selama ini. Namun karena kesibukan Dirga tak sempat lagi menemuinya seperti saat ia masih kecil.
Apalagi setelah Dirga memiliki keluarga, ia bahkan tak sempat menjenguk putri satu-satunya yang dianggap sudah hidup berkecukupan bersama ibu dan ayahnya.
"Selamat Pagi, maaf sudah membuat kalian lama menunggu," sapa Dirga
Lelaki paruh baya itu segera menyalami Wibi dengan penuh semangat. Namun itu terkejut saat melihat sosok wanita di samping Wibi yang menundukkan wajahnya.
"Pagi Nona," sapanya sambil mengulurkan tangannya.
"Pagi Pak," jawab Zalika dengan ramah
Dirga terus menatapnya intens, ia sempat tak mengenalinya apalagi Zalika yang sekarang jauh berbeda dengan saat ia masih kanak-kanak. Zalika remaja lebih cantik dan ramah, ia bahkan terlihat seperti remaja normal lainnya.
"Sepertinya aku kok familiar sama kamu ya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Dirga kembali menatap intens wajah Zalika
"Ada yang bilang wajahku memang familiar Pak," jawab Zalika
"Iya juga sih, kaya sering lihat gitu," Dirga kemudian mengajak dua tamunya untuk duduk
"Hmm, iya Pak," Zalika tampak tersenyum ramah kemudian memalingkan wajahnya untuk membuang rasa rasa kecewanya karena sang ayah gagal mengenalinya.
Ada raut wajah kecewa saat ia menyadari orang yang paling dirindukan ternyata tak mengenalinya. Ada rasa rindu untuk memeluk sang Ayah yang sudah lama tak bisa ia temui.
"Za, Za!"
__ADS_1
Suara Wibi membuat Zalika langsung terhenyak.
"Iya Pak," jawabnya tergagap
"Cepat siapkan presentasinya," bisik Wibi
Zalika segera mengeluarkan laptopnya dan mulai memberikan presentasi kepada Dirga.
Selama presentasi Dirga tampak memperhatikan penjelasan Zalika dengan detail. Ia bahkan mengundang dua asisten pribadinya untuk ikut menelaah presentasi dari Zalika.
Salah seorang asistennya membisikkan sesuatu kepadanya.
Dirga tampak mengangguk dan kemudian meminta Zalika untuk menghentikan presentasinya.
"Maaf aku harus keluar sebentar, kalian bisa istirahat sebentar nanti kita lanjut lagi," ucap Dirga memotong presentasi Zalika
"Siap Pak," jawab Wibi
"Akhirnya bisa istirahat juga, dari tadi tegang banget!" celetuk Wibi
"Aku mau istirahat bentar Pak," ucap Zalika
"Mau kemana?" tanya Wibi
"Rest room,"
"Oh, apa perlu ku antar?" tanyanya lagi
"Gak usah, aku bisa sendiri," jawab Zalika
"Kalau ada apa-apa hubungi aku!"
"Ok," Zalika buru-buru keluar meninggalkan Wibi
__ADS_1
Setibanya di toilet gadis itu mendengar obrolan para karyawan yang mengatakan jika orang tua Dirga meninggal.
"Nenek!"
Zalika buru-buru bergegas keluar dari toilet dan mencari kebenaran berita itu. Ia berlari mencari Dirga hingga ke lobby gedung.
Benar saja, seorang wanita dengan seorang anak remaja sedang berbincang dengannya.
"Ibu meninggal Mas, sekarang jenazahnya masih ada di rumah sakit, jadi cepatlah pulang. Aku dan Rick menunggu di rumah."
"Ok, nanti aku akan segera pulang,"
Zalika segera bersembunyi saat melihat Dirga membalikkan badannya. Lelaki itu buru-buru kembali ke ruangannya. Ia kemudian memberitahukan Wibi untuk menunda pembicaraannya karena orang tuanya meninggal.
Dirga bahkan meminta waktu seminggu lagi untuk mengadakan pertemuan ulang
"Aku minta maaf karena sudah membuat kalian menunggu lama, tapi musibah ini sangat mendadak dan diluar prediksi. Jadi aku mohon pengertiannya, tapi jangan khawatir aku pasti akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin." ujar Dirga
"Ok Pak, saya turut berdukacita atas meninggalnya ibu anda, semoga almarhumah diampuni dosa-dosanya dan anda bisa tabah dalam menghadapi cobaan ini," ucap Wibi
"Thanks Pak Wibi,"
Zalika tiba-tiba memeluk Dirga membuat lelaki itu terkejut.
"Yang sabar ya ayah, semoga nenek Husnul khatimah," ucap Zalika mengusap punggung Dirga
Entah Kenapa Dirga merasakan ada yang berbeda saat gadis itu memeluknya apalagi saat ia memanggilnya ayah. Ia seperti merasakan kehadiran putrinya yang sudah lama ia lupakan.
"Aamiin, terimakasih nak," jawab Dirga
"Maaf kalau aku sudah mengejutkan anda dengan memanggil ayah. Jujur saja Anda mengingatkanku kepada sosok ayah yang sudah lama aku rindukan," ucap Zalika berusaha untuk tidak membuat suasana canggung diantara ia dan Dirga
Ia tahu benar jika Dirga mungkin saja akan terguncang saat ia mengakui jika dirinya adalah Zalika, putrinya yang sudah ia tinggalkan.
__ADS_1