ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN

ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN
Bab 11. Ke gap


__ADS_3

Zalika berjalan lesu memasuki kediamannya.


"Kamu sudah pulang nak?" sapa Zahra menyambutnya


Zalika terkesiap saat melihat Zahra yang tampak begitu rapi, "Mamah mau kemana ko rapi banget?" tanya Zalika


"Ibu mau melayat, nenekmu meninggal nak?" jawab Zahra


Zalika tak kaget karena ia sudah tahu lebih dulu. Iapun merebahkan tubuhnya di sofa.


"Kamu juga cepetan ganti baju terus kita berangkat!"


"Zalika gak ikut mah, aku dirumah saja,"


"Kenapa??" Zahra tampak mendekati putrinya


"Aku hanya lelah mah,"


"Hanya sebentar saja kok sayang, masa sih kamu gak mau menjenguk nenek kamu untuk terakhir kalinya,"


"Nenek juga tak pernah menyayangi Lika, ia bahkan pernah membuang kita,"


"Tapi semua itu kan sudah berlalu dan nenek sudah baik kan sama kita,"

__ADS_1


"Tetap saja Lika gak mau mah," Zalika kemudian masuk kedalam kamarnya.


Melihat putrinya yang merajuk membuat Gading menyusulnya. Lelaki itu pelan-pelan memberi pengertian kepada anak tirinya itu.


Berkat kesabarannya akhirnya Zalika pun mau ikut melayat bersamanya.


Setibanya di kediaman sang nenek Zalika tampak menjaga jarak dengan sang ibu. Ia bahkan tak mau menemui Dirga meskipun ia sangat merindukan lelaki itu.


Zalika lebih memilih membaca yasin di depan jenazah sang nenek daripada mengikuti mamahnya yang menemui Dirga dan istrinya.


Selesai membaca Yasin Zalika pergi keluar untuk mencari udara segar. Masih teringat dengan jelas bagaimana dulu ia bahagia sebelum diusir dari rumah itu oleh merry sang nenek.


Ia yang merupakan anak satu-satunya merasa jika Dirga dulu sangat menyayanginya. Namun semuanya berubah saat kehadiran Delia dan ia diusir dari rumah itu.


"Diaman Lika?" tanya Dirga saat Zahra pamit pulang


"Itu dia!" seru Zahra menunjuk kearah Zalika yang duduk sendirian di taman


Dirga perlahan menemui putrinya. Ia duduk disampingnya tanpa Zalika sadari.


"Apa kabar sayang?" sapanya membuat Zalika reflek menoleh kearahnya


"Ayah??"

__ADS_1


Buka hanya Zalika yang terkejut saat melihat Dirga di sampingnya namun begitupun dengan Dirga. Ia tak menyangka jika Zalika adalah wanita yang menemuinya di kantor.


"Jadi kau benar-benar putriku, pantas saja aku seperti mengenalmu," ucapnya kaget


"Maaf Lika tak menyapa ayah karena Lika takut ayah tak mengenaliku," jawab Zalika tampak kecewa


"Maafkan ayah nak, ayah memang bukan ayah yang baik hingga melupakan putrinya sendiri," jawab Dirga


Pria itu kemudian memeluk Zalika dan mengusap lembut rambutnya.


"Maafkan ayah ya sayang,"


"Lika juga minta maaf karena tak menyapa ayah tadi pas di kantor," jawab Zalika


"Kamu tidak salah sayang, aku tahu kamu pasti canggung untuk menyapa ayah duluan. Sudahlah lupakan kejadian tadi pagi itu. Yang jelas ayah senang banget karena bisa bertemu dengan kamu lagi,"


Dirga dan Zalika tampak berbincang dengan hangat. Keduanya bahkan tampak saling memuji satu sama lain membuat Zahra bangga karena keduanya tampak akrab.


"Ayah bangga sekali denganmu nak, kamu hebat karena bisa menjadi insinyur terbaik di negeri ini tanpa bantuan siapapun. Ayah doakan semoga kariermu di HK Construction bisa bersinar terang dan kau juga segera dipertemukan dengan lelaki yang akan menjadi imammu kelak,"


."Aamiin,"


Saat keduanya tengah asyik berbincang tiba-tiba Wibi dan kedua sahabatnya tiba ditempat itu.

__ADS_1


"Za!" serunya begitu terkejut saat melihat Zalika dengan Dirga yang begitu akrab.


"Pak Wibi???"


__ADS_2