
Zahra segera menyuruh putrinya untuk memberi salam kepada kakek dan neneknya setibanya di kediaman keluarga Bahri.
Bahri tampak begitu takjub saat melihat cucunya yang sudah menjelma menjadi seorang gadis lucu yang menggemaskan.
"Cucuku sudah besar rupanya, maafkan kakek jika selama ini kakek tidak pernah memeluk mu apalagi berbincang-bincang denganmu," ucap Bahri berkaca-kaca
Lelaki itu tak mampu menyembunyikan rasa penyesalannya karena mengabaikan cucunya tersebut. Ia bahkan tak pernah menyentuhnya dari mulai ia lahir sampai sekarang. Ia selalu menganggap jika Zalika adalah pembawa sial namun takdir justru berkata lain, gadis kecil yang begitu dibencinya justru menjelma menjadi seorang anak genius yang membanggakan keluarganya. Begitupun dengan sang menantu yang dibuangnya telah berubah menjadi dewi penyelamat bagi keluarganya.
"Iya kakek tidak apa-apa, aku maklum kok, kan kakek sibuk. Aku yakin jika kakek tidak sibuk pasti akan lebih perhatian kepadaku," jawab Zalika membuat Bahri seketika terenyuh dibuatnya.
Bahri kembali memeluknya saat air matanya tiba-tiba turun membasahi pipinya.
"Mulai sekarang kakek janji akan meluangkan waktu untuk bermain denganmu,"
"Baik kakek," jawab Zalika
Gadis kecil itu kemudian menghampiri Merry dan menyalaminya.
Seketika merry langsung terisak saat memeluknya.
"Maafkan nenek sayang, selama ini nenek belum bisa menjadi nenek yang baik untukmu," ucapnya sedih
Zalika langsung melepaskan pelukannya dan mengusap air mata wanita itu.
"Mamah bilang sebaik-baiknya manusia adalah orang yang mau mengakuinya dan meminta maaf kepada orang yang di sakitinya. Nenek sudah melakukan semua itu jadi nenek adalah orang yang baik," jawab Zalika membuat Merry begitu terharu Mendengarnya.
"Ternyata Zahra sudah mendidik mu menjadi mu dengan baik hingga kau tumbuh menjadi anak yang santun dan cerdas. Memang benar buah jatuh tak jauh dari pohonnya, jika kini kau menjadi seorang anak yang genius tentu saja bakat itu menurun dari ibumu,"
"Nenek aku sudah lapar, apa boleh kita langsung makan," ujar Zalika membuat Merry langsung mengajak gadis kecil itu ke ruang makan.
Merry bahkan sengaja duduk di samping Zalika dan menuangkan makanan untuknya.
"Hari ini nenek sengaja meminta kepala koki untuk memasakan makanan kesukaan kamu, jadi makan yang banyak ya sayang,"
__ADS_1
"Iya nek," Zalika langsung menyantap makanannya dengan lahap
Setelah acara makan malam Bahri sengaja mengumpulkan anak-anaknya dan juga menantunya di ruang tamu. Sementara anak-anak tampak bermain bersama di ruang bermain yang sudah di sediakan.
Zahra segera pamit seusai makan malam, namun Bahri melarangnya pulang dan mengajaknya bergabung dengan anak dan menantunya.
"Tapi kan aku bukan bagian menantu keluarga ini lagi," tolak Zahra saat Bahri mengajaknya bergabung
"Tapi kau adalah ibu dari cucuku, jadi tetap saja kau adalah bagian dari keluarga Bahri," jawab Bahri
"Benar, lagipula kami akan membicarakan tentang Bahri Group jadi sudah seharusnya kau ikut bergabung bersama kami," tambah Merry
Zahra tidak dapat menolak keinginan Bahri, iapun kemudian bergabung dengan anak-anak dan membantu keluarga Bahri.
Sementara itu Gading lebih memilih menemani anak-anak bermain daripada menemani Zahra.
Bahri kemudian membahas tentang masalah yang dihadapi oleh perusahaannya. Ia meminta kepada putra-putrinya untuk membantu Zahra dalam menjalankan perusahaan tersebut. Ia bahkan bersedia menerima tawaran Zahra untuk menjadi penasihat khususnya.
Awalnya hal itu mendapat pertentangan dari Rene Bahri tapi setelah Bahri menjelaskan alasan dia mendukung Zahra semuanya setuju dan tidak mempermasalahkan keputusan ayahnya yang sudah mengikhlaskan perusahaannya di pimpin oleh Zahra.
***********
Pagi itu Zahra merasa sangat bahagia karena saat melihat semua karyawan Bahri Group kembali bekerja, ia lebih bahagia lagi saat Melia Bahri juga mulai menempati ruangannya.
Lelaki itu memang sudah berjanji akan memanfaatkan sisa masa kerjanya untuk membantu Zahra.
Zalika yang sudah naik ke kelas dua semakin memperlihatkan bakatnya di bidang seni lukis hingga Zahra lebih fokus untuk membimbingnya menjadi seorang pelukis profesional.
Ia bahkan sudah menjadi anak yang mandiri seperti anak-anak seusianya.
"Hal yang paling membuatku bahagia adalah ketika melihat putriku tumbuh dan berkembang seperti anak seumurannya. Aku tidak peduli dengan prestasi akademisnya, dia bodoh ataupun pintar bagiku tidak masalah. Karena semua itu bisa di rubah. semoga kelak putriku menjadi pribadi yang tangguh dan peduli terhadap sesamanya," ucap Zahra
"Benar sayang, aku yakin Lika akan tumbuh menjadi gadis yang cantik, pintar dan pemberani seperti dirimu," jawab Gading
__ADS_1
"Aamiin,"
"Btw, apa kamu tidak berpikir untuk memberikan adik untuk Zalika?" tanya Gading
"Tentu saja aku mau, hanya saja aku masih kepikiran apa nanti kalau aku punya anak lagi akan seperti Zalika??"
"Memangnya kenapa kalau seperti dia, bukankah bagus kalau kita punya anak Genius dan multi talenta seperti dia," jawab Gading
"Iya sih ... tapi apa aku mampu untuk berjuang lagi untuk menjadikan anakku seperti Zalika??"
"Aku yakin kamu mampu, kan ada aku yang akan membantu mu mengasuh anak kita. Jika dulu kau sendirian mampu merubah Zalika menjadi seperti sekarang, kenapa sekarang kau tidak bisa. Ayo semangat!" seru Gading
"Iya semangat!" sahut Zahra kemudian memeluk erat pria di sampingnya
"Terimakasih ya sayang selalu ada untukku saat aku membutuhkan dirimu,"
"Sama-sama sayang, kalau gitu ayo kita mulai untuk program adiknya Lika," ajak Gading menggandeng lengan istrinya
"Dasar nakal,"
THE END
**********
Terimakasih semuanya yang sudah setia membaca Zahra Berlian Yang Terabaikan, semoga kalian suka ya.
Sebenarnya cerita ini terinspirasi oleh kisah ku sendiri ya teman-teman yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Jadi suka dukanya memiliki anak berkebutuhan khusus ya sama seperti yang Zahra alami, sering mendapatkan diskriminasi di sekolah, dan juga di lingkungan sekitar. Tapi Alhamdulillah aku bisa melalui semuanya dan sekarang putraku sudah diterima dengan baik di sekolahnya meskipun masih ada yang suka memandang sebelah mata.
Namun tidak di pungkiri jika anak berkebutuhan khusus seperti ADHD ini memiliki otak yang cerdas dan dengan kelebihan lain yang menonjol pada dirinya.
Jadi Allah itu memang maha adil selain ia memberikan kekurangan ia juga memberikan kelebihan.
Semoga kisah ini bisa menghibur dan membuat kalian yang memiliki anak normal bersyukur karena tidak semua orang bisa memiliki anak yang normal.
__ADS_1
Mohon maaf kalau banyak typo bertebaran dalam penulisan novel ini ya, namanya juga masih belajar.
Terimakasih semuanya sampai jumpa di next novel ya....love your 😘😘