ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN

ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN
Bab 5. Izin (Revisi)


__ADS_3

"Marsel??"


Juno terkesiap menatap sahabatnya itu. Biasanya Marsel memang selalu membantunya saat ia sedang ada masalah. Jadi ia tak kaget saat pria itu menawarkan dirinya untuk membantunya menyelesaikan masalahnya.


"Thanks Sel udah mau gantiin gue," ujar Juno


"Sans aja Jun, yang penting lo fokus dulu sama projek baru lo," jawab Marsel


Pria itu tampak menatap intens kearah Zalika.


"Siapa dia?" tanya Marsel


"Dia insinyur baru yang akan membatu gue mengerjakan projek baru itu,"


Marsel mendekati gadis itu, " Marsel," ucapnya sambil mengulurkan tangannya


"Zalika," jawabnya singkat


"Hati-hati kalau sama Juno, jangan tergoda oleh rayuannya. Dia itu playboy," bisik Marsel


Zalika hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Ok, terimakasih infonya," jawab Zalika kemudian memberikan sebuah permen karet kepadanya.


Marsel tersenyum menatap permen karet di tangannya.


Dasar hadis aneh ,


Marsel kemudian menepuk bahu Juno dan mengikuti Wibi ke ruangannya.


Sementara Zalika kembali menyelesaikan tugasnya. Ia tampak merapikan rambutnya sebelum memasuki ruangan kerja Wibi membuat Juno menyipitkan matanya.


"Tumben dia rapi, apa karena Marsel??"


Karena penasaran Juno mengikuti Zalika. Ia bahkan mengintip gadis itu yang sedang mengembalikan dokumen milik Wibi.


"Cepet banget Za??" ucap Wibi tak percaya saat gadis itu memberikan dokumen itu kepadanya


Zalika bahkan menunjukkan beberapa poin yang harus dihilangkan dalam dokumen itu


"Kalau kau lebih menguasai isi berkas isi, bagaimana kalau kau saja yang menemaniku rapat kerja dengan pimpinan perusahaan Adi Group yang terkenal cerewet itu?"


"Yang benar saja Bi, dia ini anak baru. Apa kamu mau dia jadi sasaran kemarahan monster itu!" seru Marsel


"Tapi ia tahu banget tentang projek itu," jawab Wibi


"Hmm, bilang saja kamu males," sahut Marsel


Wibi hanya mendengus kesal saat Marsel melarangnya membawa Zalika. Ia kemudian menemani Wibi melakukan menemui seorang klien. Sementara Zalika dan Juno menuju ke lokasi jalan layang.


Juno dan Zalika meninjau para pekerja yang mulai melakukan pembangunan pertama jalan layang tersebut.


"Semoga saja projek ini berjalan lancar ya Za,"


Zalika menjawab dengan anggukan kepala.


"Sekarang aku tinggal menyelesaikan urusan dengan Adi Group," keluh Juno


Selesai meninjau lokasi projek Juno sengaja mengajak Zalika untuk membeli sesuatu. Ia membeli sebuah hadiah untuk seseorang.


"Kamu gak keberatan kan ikut aku menjenguk seseorang?"

__ADS_1


"Iya," jawab Zalika


Juno kemudian mengajak Zalika ke sebuah panti asuhan. Ia menemui seorang gadis yang dirawat di sana.


Juno memberikan semua hadiah yang dibelikannya kepada gadis itu.


"Siapa dia!" tanya Zalika


"Dia adikku, Nava. Karena kondisinya yang sedikit berbeda orang tuaku menitipkan ia di sini," ucap Juno sedih


Zalika menatap seorang gadis down sindrom itu dengan tatapan intens. Ia mengusap lembut kepala gadis itu hingga ia tersenyum kepadanya.


Zalika mengajak gadis itu untuk bermain bersama ia bahkan mengajaknya menggambar dan bermain lilin.


Nava begitu senang saat bermain bersama Zalika. Gadis itu seperti bertemu dengan sahabatnya. Ia bahkan tak mau berpisah saat Juno mengajak Zalika untuk pulang.


Sebagai sesama anak berkebutuhan khusus Zalika menenangkan sejenak Nava sebelum ia pulang. Juno tampak terharu melihat kepedulian Zalika kepada adiknya itu.


"Dulu aku bercita-cita untuk menjadi dokter spesialis tumbuh kembang agar bisa merawat anak-anak sepertinya, tapi ibu melarang ku. Katanya ia ingin punya anak insinyur sehingga memintaku untuk menjadi Insinyur saja daripada jadi dokter, toh biaya pendidikan dokter lebih mahal daripada insinyur. Aku tak bisa menolaknya apalagi saat itu keluarga kami sedang kesusahan. Ibu ditinggal ayah setelah melahirkan Nava," kenang Juno dengan mata berkaca-kaca


Zalika mengambil selembar tisu dan memberikan kepadanya.


"Sabar ya," ucapnya menirukan ibunya yang selalu menghiburnya saat bersedih


"Thanks Za,"


"Kenapa kau tidak merawat Nava sekarang?" tanya Zalika


"Ibu gak mau, ia malu kalau memiliki anak berkebutuhan khusus sepertinya. Itulah kenapa aku selalu menjenguknya diam-diam tanpa sepengetahuan ibu. Sudah hampir 5 tahun aku selalu menemuinya diam-diam, karena jika ibu tahu ia akan memindahkan Nava lagi seperti dulu. Aku tak mau kehilangan adikku lagi," jawab Juno sedih


Zalika menepuk-nepuk punggung Juno saat pria itu menahan kesedihannya.


"Semoga Nava akan menemukan keluarga yang akan menyayanginya," ucap Zalika menerawang


Selesai menjenguk Nava keduanya kembali ke kantor. Wibi menatap kedatangan mereka dengan tatapan sendu.


"Kenapa Lo Bi, sedih banget romannya?" tanya Juno


"Dia abis di marah-marahin sama Bos Cerewet!" sahut Marsel


Wibi mengangguk dengan wajah sedih. Ia kemudian menghampiri Zalika dan menggenggam tangannya.


"Kamu mau kan menolong aku Za?" tanya Wibi penuh harap


"Menolong apa?"


"Menemui Bos Cerewet," jawab Wibi


"Untuk apa?" tanya Za lagi


"Presentasi dokumen yang tadi aku berikan padamu Za, masa buat konser sih. Meskipun aku penanggung jawab projek itu tapi aku tak paham sekali dengan konsep yang diajukan Bos Cerewet. Padahal aku sudah mempelajarinya selama sebulan tapi masih salah saja dimata Bos Cerewet," keluh Wibi


"Ok, nanti aku bantu,"


"Yes, thanks Za, kamu memang malaikat penyelamat ku!" teriak Wibi


Seketika wajah Wibi berubah ceria hingga ia menarik lengan Zalika dan mengajaknya berdansa. Sementara Za hanya diam mengikuti semua arahannya.


Marsel dan Juno saling berpandangan melihat kelakuan konyol bosnya itu.


"Sepertinya dia butuh perhatian," ucap Marsel

__ADS_1


Karena jam kerja sudah berakhir makan ketiga pria lajang itu bersepakat untuk pulang bersama.


"Sudah lama kita hang out bareng, gimana kalau sekarang kita mampir dulu ke tempat langganan kita?" ajak Wibi


"Good idea Bi," sahut Marsel


"Setubuh," jawab Juno


Saat ketiganya keluar dari pintu gerbang Mereka melihat Zalika yang masih berdiri di halte bus.


"Kasian Za, dia pasti akan pulang kemalaman," ucap Juno


"Gimana kalau kita ajak dia, seru juga sepertinya kalau ajak Za," sahut Wibi


"Jangan ngaco lo, dia berbeda dengan kita Bi," sahut Marsel


"Ups, gak boleh gitu Sel, jangan memandang Za itu berbeda, dia itu sebenarnya sama kaya kita hanya Tuhan memberikan kelebihan yang berlimpah kepadanya. Dia bukan berbeda tapi istimewa," jawab Wibi


"Terserah kalian aja lah," sahut Marsel


Wibi segera menghampiri gadis itu.


"Daripada menunggu bus mending gabung aja dengan kita, mau gak?" tanya Wibi


"Kemana?" tanya Za


"Ngopi, kita hang out bentar ke kafe biar kaya anak jaman now," jawab Wibi


"Tapi aku gak suka ngopi," jawab Za


"Yaudah kalau gitu kamu beli jus aja,"


"Oh boleh ya,"


"Boleh dong Za, bukan hanya jus apapun boleh kalau buat kamu," jawab Wibi


"Ok, tapi aku kasih tahu mamah dulu ya, takutnya dia nungguin aku,"


"Ok anak mamah,"


Zalika tampak menghubungi ibunya, karena Zahra perlu memastikan pria yang mengajaknya adalah atasannya iapun meminta bicara dengan Wibi.


Zalika memberikan ponselnya kepada Wibi.


"Ada apa?" tanya Wibi kaget


"Mamah mau bicara sama bapak?"


"Oh gitu," jawab Wibi kemudian mengambil ponsel dari tangan Zahra


"Halo Tante," sapa Wibi dengan ramah.


Marsel dan Juno tertawa kecil melihat ekspresi wajah Wibi saat berbincang dengan Ibu Zalika.


"Makan tuh anak mamah, makanya jangan suka ngajak pergi anak mamah, ribet kan urusannya!" celetuk Marsel


"Baik Tante," ucap Wibi mengakhiri obrolannya


Ia kemudian mengembalikan ponselnya kepada Zalika.


"Gimana Bi, boleh gak?" tanya Marsel penasaran

__ADS_1


Wibi menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan sendu.


"Nungguin ya, pasti boleh dong kalau sama Wibi eaaa!" seru Wibi kemudian menggandeng lengan Zalika


__ADS_2