
Zalika melepaskan pelukan Wibi.
"Maaf Jun, aku tidak bisa bantu. Aku sudah menikah dan aku tak bisa berbuat apapun tanpa seizin suamiku sekarang," jawab Zalika benar-benar membuat Juno terkesiap
Ia tak menyangka jika wanita itu berani menolaknya dengan tegas. Apalagi ia tahu jika Zalika menyukainya.
Zalika kemudian membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan Juno.
Sementara itu Wibi segera berlari menuju ke ruangannya. Ia tak mau istrinya melihat ia sedang memperhatikannya dari jauh.
Zalika kembali ke ruangannya. Dadanya masih bergemuruh dengan perasaan bercampur aduk.
"Apa aku salah menolaknya?" ucapnya masih memikirkan keputusannya untuk menolak permintaan Juno
Namun ia mencoba menata hati, dan meyakinkan diri jika apa yang sudah ia perbuat adalah benar.
Sebagai seorang istri ia pun mantap untuk memilih berhenti bekerja agar ia bisa mengabdikan diri untuk suami.
__ADS_1
Wibi begitu terkejut saat Zalika menyampaikan keinginannya untuk berhenti.
Ia tak mengira jika wanita itu akan memilih untuk berhenti bekerja padahal ia memiliki prestasi yang luar biasa.
"Kehebatan seorang wanita yang sudah menikah bukan dilihat dari seberapa pintar dia, ataupun karier yang ia geluti. Kehebatan seorang wanita yang sudah menikah terletak dari keharmonisan keluarganya dan kebahagiaan suami dan anak-anaknya. Karena wanita yang hebat akan selalu membuat suami dan anak-anaknya bahagia," jawab Zalika
*Deg!
Seketika Wibi terkesiap mendengar alasan Zalika. Ia tak menduga jika seorang perempuan berkebutuhan khusus seperti dirinya bisa berpikir sangat dewasa seperti itu.
Ia tak bisa menahan keinginannya. Meskipun ia sangat membutuhkan Zalika untuk membantu pekerjaannya, namun ia juga harus menghormati keputusan Zalika.
Seketika Wibi langsung memeluk wanita itu erat. Ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Zalika.
"Terimakasih Za, kamu sudah mau mengorbankan kariermu demi keluarga kita?" ucap Wibi
"Tidak usah berterima kasih, memang itu yang harus dilakukan oleh wanita yang sudah menikah. Meskipun bukan aku yang jadi istri mu, ia akan melakukan hal yang sama seperti diriku," jawab Zalika
__ADS_1
Kali ini Wibi benar-benar merasa beruntung memiliki istri yang begitu dewasa dalam berpikir. Ia juga bangga terhadap Zalika yang rela mengorbankan cita-citanya dan memilih fokus sebagai ibu rumah tangga.
"Tapi kan sebenarnya kamu masih bisa bekerja sebelum kita punya anak Za, aku tidak mau membuat mu terkekang setelah menikah. Aku hanya ingin kamu bahagia?" ucap Wibi menata rambut Zalika yang sedikit acak-acakan.
Zalika tersenyum mendengar ucapan Wibi.
"Aku sudah bahagia memiliki suami seperti dirimu, yang mau menerima ku apa adanya. Terimakasih banyak Mas sudah mau menerima ku sebagai istrimu, aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu," jawab Zalika
Wibi tak bisa lagi berkata-kata ia hanya bisa meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk istrinya itu.
Ia kemudian mengajak Zalika untuk pulang.
Sementara itu Juno hanya melihat iri keduanya. Ia tak mengira jika perasaan Zalika akan berubah secepat itu kepadanya.
Ia pun beranjak dari duduknya dan melangkah lesu meninggalkan ruangan kerjanya.
Juno tampak mengamati ruangan Zalika sebelum meninggalkan kantor.
__ADS_1
Masih teringat jelas bagaimana pertama kali pertemuannya dengan Zalika.
"Andai saja kau datang sebelum aku memiliki kekasih, mungkin aku bisa menerima cintamu Za,"