
Hari itu Delia mengajak Zahra ke sebuah rumah kecil di lingkungan padat penduduk.
Keduanya harus meninggalkan mobil mereka di depan gang karena letak rumah yang tidak bisa di lalui oleh kendaraan beroda empat.
Setelah berjalan selama sepuluh menit Delia menghentikan langkahnya tepat di depan rumah dengan cat berwarna biru muda.
*Tok, tok, tok!!
Keduanya seketika tercengang saat melihat seorang gadis belia keluar dari rumah itu.
"Jumi???" ucap Zahra dan Delia bersamaan.
Ternyata pemilik rumah itu adalah mantan pengasuh Zalika.
Jum yang terkejut dengan kedatangan Zahra dan Delia langsung mempersilakan mereka masuk.
Zahra yang tidak sabar ingin mengetahui keberadaan putrinya langsung mencari keberadaan Zalika.
"Dia tidak ada di sini," ucap Jum membuat Zahra terkejut
"Dimana dia sekarang?" tanya Zahra
"Kemarin dia memang memutuskan tinggal di sini sambil menunggu Ibu datang menjemputnya, tapi tadi pagi ia meminta saya mengantar ke tempat terapi di Cipete. Katanya ia mau bercerita sama Pak Mul, dia mau minta saran dari terapisnya itu," jawab Jim
"Apa dia akan pulang lagi ke sini?" tanya Zahra
"Entah, karena dia bilang semuanya tergantung keputusan pak Mul," jawab Jum
Mendengar jawaban Jum membuat Zahra langsung berpamitan dan bergegas menuju ke tempat terapi Zalika.
Setibanya di sana ia langsung memeluk erat putrinya yang baru keluar dari ruang terapi.
"Alhamdulillah akhirnya aku bisa menemukan kamu juga sayang," ucap Zahra begitu terharu saat melihat putrinya lagi
"Maafin Lika mah," ucap Zalika merasa bersalah
Saat Zahra hendak mengajak putrinya pulang tiba-tiba beberapa orang berseragam hitam-hitam langsung menarik Zalika dan membawanya pergi.
"Mau dibawa kemana putriku, lepasin dia lepasin!" seru Zahra mencoba mengambil kembali putrinya
__ADS_1
Ia tak menyerah meskipun pria itu tak bergeming dan terus mengacuhkannya.
Zahra berusaha meminta klarifikasi kenapa pria itu harus membawa pergi putrinya.
Ia bahkan menghadang pria itu agar tidak membawa pergi putrinya.
"Sekarang kau bukan lagi wali Zalika, karena pengadilan sudah memutuskan hak asuh Zalika jatuh ke tangan Dirga," ucap pria itu kemudian meninggalkan Zalika yang masih tak percaya mendengar ucapan pria itu.
Delia segera menghampiri Zahra yang masih terkesiap melihat kepergian putrinya.
"Sebaiknya kamu harus segera bertindak, ini tidak bisa dibiarkan," tukas Delia membantu Zahra berdiri
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Zahra terlihat tak bersemangat.
"Kau yang lebih paham apa yang harus kamu lakukan, ayolah Za semangat!" seru Delia berusaha menyemangatinya
"Apa aku bisa membawanya kembali, apa aku bisa mengalahkan keluarga Bahri?" tanya Zahra berkaca-kaca
"Tentu saja, tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang Zahra. Kau bahkan bisa merubah pandangan miring orang-orang terhadap anak berkebutuhan khusus. Kau bahkan bisa merubah anak berkebutuhan khusus menjadi berlian, ayo buktikan jika kamu adalah seorang wanita kuat yang bisa mengalahkan keluarga Bahri, dan merebut hak asuk putri mu kembali," jawab Delia
"Kau benar, aku tidak bisa menjadi wanita lemah, aku harus menjadi wanita kuat agar aku nisa mendapatkan hak asuh putriku lagi," ucap Zahra mengepalkan tangannya
Wanita itu kemudian menghubungi Gading dan menemui pengacaranya. Ia berniat mengajukan banding atas putusan pengadilan yang menyarahkan hak asuh Zalika kepada Dirga.
"Apa kau yakin akan mendatangi rumah itu, bukankah kau sudah berjanji tidak akan menginjakkan kaki di tempat itu lagi?" tanya Dirga
"Sekarang aku ada alasan untuk berkunjung ke istana keluarga Bahri tanpa melanggar janjiku," jawab Zahra menatap lekat kearah Gading
"Kau mau menemani ku masuk ke rumah itu bukan?" tanya Zahra
"Tentu saja," Gading segera turun dan membukakan pintu untuknya
Zahra segera turun dari mobil dan menggandeng lengan Gading saat memasuki halaman rumah keluarga Bahri.
Bahri menyeringai saat melihat kedatangan mantan menantunya itu.
"Sepertinya ada seorang pecundang yang berusaha menjilat ludahnya sendiri," sindir Bahri
"Tidak ada seorangpun pecundang di dunia ini yang berani datang ke sarang musuhnya bukan, hanya aku satu-satunya pecundang yang berani melakukan hal itu. Dan satu lagi... aku tidak pernah menjilat ludahku karena aku datang ke sini atas perintah dari pihak pengadilan untuk menemui putriku," jawab Talita memberikan surat dari pengadilan yang dibawanya kepada Bahri
__ADS_1
"Ku akui kau memang genius Zahra, kau bahkan pandai memanfaatkan situasi untuk menjaga nama baikmu,"
Zalika segera menghambur dalam pelukan Ibunya saat melihat kedatangannya.
Keduanya kemudian memilih berbincang di beranda rumah.
"Sementara kamu tinggal di sini dulu sampai mamah menjemput mu,"
"Baik mah,"
"Ingat ... kau tidak boleh kabur lagi hanya untuk bertemu dengan mamah mu ini. Kamu hanya tinggal mengirim surat kepada mamah jika ingin bertemu, apa kamu mengerti?"
"Hmm," jawab Zalika mengangguk
"Apa mamah akan sering mengunjungi ku disini?" tanya Zalika
Zahra menggelengkan kepalanya, "Mungkin mamah tidak akan pernah datang ke sini lagi, aku harap kamu akan menjadi anak penurut di sini,"
"Aku tidak mau tinggal di sini mah," ucap Zalika merajuk
"Kamu harus tinggal di sini demi mamah, kalau kamu ingin tinggal bersama mamah lagi, karena hanya itu yang bisa kamu lakukan," jawab Zahra kemudian berlalu pergi
Zalika langsung terisak saat melihat Ibunya meninggalkannya. Ia berlari mencoba mengejarnya namun anak buah Bahri langsung menangkapnya dan menahan gadis itu agar tak mengejar Zahra.
Melihat putrinya yang menangis tersedu-sedu melepas kepergiannya membuat hati Zahra remuk. Bagaimanapun ia tak tega meninggalkan ia di tempat itu, namun ia tak bisa menentang putusan pengadilan.
Gading seketika menghentikan mobilnya dan memeluk Zahra yang sedang terisak.
"Kamu harus kuat Za, aku yakin kau bisa melalui semua ini," tutur Gading berusaha menenangkannya.
"Sepertinya ucapan mu benar, sekaya apapun diriku, aku tidak akan pernah menang melawan keluarga Bahri. Meskipun aku seorang wanita mandiri yang mapan dan memiliki beberapa usaha tetap saja dianggap tak mampu menghidupi Lika karena keluarga Bahri yang memiliki segalanya,"
"Lalu apa rencanamu?" tanya Gading
"Nikahi aku, jadikan aku sebagai Nyonya Gading Soeharso, aku yakin dengan begitu kita bisa mendapatkan hak asuh Zalika," jawab Zahra
Gading mengangguk setuju.
Satu Minggu kemudian Gading mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan pernikahannya dengan Zahra.
__ADS_1
Kabar tersebut tentu saja membuat keluarga Bahri mulai ketar-ketir, apalagi setelah mereka mendengar kabar mahkamah agung mengabulkan permintaan banding Zahra .
"Dia benar-benar sudah menabuh genderang perang dengan kita, dia sengaja menikah dengan putra sulung kekuarga Soeharso hanya demi mendapatkan hak asuh anaknya kembali, benar-benar licik!"