ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN

ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN
Bab 4. Juno Dalam Masalah ( Revisi)


__ADS_3

Semua orang langsung menjerit saat melihat Zalika hampir jatuh ke rel kereta. Beruntung seorang pria langsung sigap menariknya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya pria itu saat melihat Zalika yang terlihat ketakutan


Zalika mengangguk pelan, salah seorang calon penumpang memberikan sebotol air mineral dingin kepadanya.


"Minum dulu biar adem,"


"Terimakasih," zalika kemudian duduk di kursi tunggu dengan tatapan menerawang. Gadis itu bahkan belum melihat wajah pria yang menolongnya.


Ia terlihat menggerakkan tangannya sambil mengatur nafasnya berusaha untuk menenangkan dirinya.


Setelah merasa semuanya membaik ia kembali berdiri dan menghirup nafas panjang.


Lelaki itu terus memperhatikannya. Memperhatikan sikap Zalika yang sedikit berbeda dengan gadis-gadis seusianya.


Meskipun sikapnya sedikit berbeda dan terlihat aneh namun ia sangat suka dengan kemandirian Zalika.


Ia kemudian menghampirinya saat Zalika kembali berdiri untuk menunggu kereta.


"Halo?" sapanya sumringah


Zalika langsung melambaikan tangannya membalas sapaannya, "Halo,"


Gaadis itu berpikir sejenak saat melihat pria di depannya seperti tak asing.


Senyum ramah dengan pembawaan tenang, tidak salah lagi pria. Itu adalah Juno, partner kerjanya.


"Pak Juno, selamat pagi, maaf aku terlambat mengenali mu,"


"Tidak apa-apa Za," jawab Juno tersenyum


"Terimakasih sudah menyelamatkan aku tadi,"


"Sama-sama,"


Mendengar suara kereta akan tiba Zalika segera berdiri dibelakang garis batas. Melihat banyaknya penumpang, Juno langsung berdiri di sampingnya.


Pria itu sengaja melindungi Zalika dari penumpang lain yang saling dorong saat kereta tiba.


Juno segera menggandeng tangan gadis itu saat melihat beberapa orang penumpang anarkis yang tak segan mendorong penumpang lain agar bisa masuk ke dalam kereta. Bahkan saat melihat Zalika hampir jatuh karena terdesak banyaknya penumpang Juno langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya.


Bola mata Zalika membulat saat menyadari dirinya berada di pelukan Juno. Hidungnya kembang kempis saat mencium aroma wangi khas pria dari lelaki itu.


Juno sendiri merasa sedikit tak nyaman, apalagi ini adalah kali pertama ia berpelukan dengan seorang wanita. Rasa gerah mulai menyelimuti tubuh Pemuda dua puluh lima tahun itu.


Meskipun berada dalam kereta ber ac, namun tetap saja ia merasakan panas saat Zalika justru seperti anak kecil yang terus memeluknya.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Za menatap wajah Juno


"Belum,"


"Hmm, kenapa lama sekali,"

__ADS_1


Tidak lama kereta pun berhenti di stasiun Sudirman, Juno langsung memberitahu Zalika jika mereka sudah sampai. Zalika langsung melepaskan pelukannya dan berjalan menuju pintu keluar.


Zalika berjalan sangat cepat saat mengetahui ia sedikit terlambat karena ketinggalan kereta pertama. Namun ia terlihat kebingungan saat hendak menyebrang, jalanan tampak ramai dengan sepeda motor membuat ia ragu-ragu.


Juno tersenyum melihat Zalika berdiri termangu sambil menghitung sepeda motor yang berlalu lalang.


"Kita naik JPO saja biar lebih aman," ajak Juno


Pria itu kemudian menunjuk kearah JPO yang tak jauh darinya. Zalika menjawab dengan anggukan kepala.


Gadis dua puluh tiga tahun itu tampak bersemangat saat menaiki tangga JPO bahkan sambil menghitung jumlah tangganya. Semua orang tampak memperhatikan Zalika yang terlihat aneh menurut mereka.


"Hap," Zalika melompati tangga terakhir dengan penuh semangat


Setibanya di depan pintu masuk gedung seperti biasa Zalika tampak berputar-putar bermain di pintu membuat Juno hanya tersenyum-senyum melihatnya.


Ia bahkan menemaninya bermain hingga Zalika menyudahi permainannya karena merasa pusing.


Ia kemudian berjalan sempoyongan menuju ke ruangannya membuat ia beberapa kali hampir jatuh jika Juno tak menggandengnya.


"Istirahat dulu baru jalan lagi," ucap Juno dengan sabar


Zalika mengangguk. Gadis bermata coklat itu duduk sejenak di lobby, setelah merasa baikan iapun naik ke atas.


"Pagi pak," sapa Zalika saat melihat Wibi berdiri menyambut kedatangan para karyawannya.


"Pagi," jawab Wibi tampak melihat Juno dan Zalika dengan tatapan sinis


Saat hendak berpisah dengan Juno, Zalika memberikan permen kepadanya.


"Sama-sama, selamat bekerja ya," jawab Juno kemudian mengusap lembut kepala gadis itu membuat Za termangu sejenak melihat perlakuan lembut Juno kepadanya.


Zalika meletakkan tas kerjanya dan duduk di kursinya sambil menikmati permen karet yang dibawanya.


*Brakkk!!


Tiba-tiba Wibi datang dengan membawakan segepok dokumen di mejanya.


"Koreksi dokumen ini kalau ada yang salah, jangan lupa kasih tahu dimana kesalahannya. Jika sudah selesai berikan kepada ku,"


"Siap Pak," jawab Zalika


Wibi segera pergi setelah memberikan dokumen itu. Ia kemudian menemui klien barunya di ruang kerjanya.


Zalika tampak mengecek satu persatu dokumen yang diberikan oleh Wibi. Seorang karyawan wanita menghampirinya.


"Ck, ck, ck, dasar Winnie the pooh, gak bisa liat orang santai dikit udah diberi kerjaan aja, sabar ya Za,"


"Iya,"


Gadis itu kemudian menghampiri Juno yang sedang menggambar desain.


"Pagi Juni, udah sarapan belum?"

__ADS_1


"Pagi Cha, belumlah tadi buru-buru jadi belum sarapan,"


Marisa kemudian meletakkan kotak bekal di meja kerja Juno, "Syukurlah, jadi aku gak sia-sia bek buatin bekel buat kamu, jangan lupa dimakan ya,"


"Thanks ya Cha, jadi ngerepotin,"


"Gak kok Jun, aku justru senang kalau kamu suka bekal yang aku buatin," jawab Cha cha begitu senang


"Suka dong, orang tinggal makan,"


"Cha-cha!"


Gadis itu langsung menoleh saat Wibi memanggilnya.


"Saya Pak," jawabnya segera mengacungkan telunjuknya


"Maaf ya Jun aku tinggal dulu," ucap Cha Cha kemudian menghampiri Wibi


Juno memasukan kotak bekal dari Cha Cha, kemudian membawa dokumennya ke meja Zalika.


"Ini desain yang akan di jadikan sebagai kantor kita sementara di projek jalan layang nanti, gimana?" tanya Juno


Zalika mengambil kertas itu dan melihatnya dengan teliti. Ia bahkan mengukur gambar itu dan menghitungnya dengan perkiraan yang teliti.


"Sudah ok, tinggal untuk konstruksi bangunan saja perlu di ganti material yang lebih ramah lingkungan," ucap Zalika


"Sip, kalau begitu biar aku kasih pak Wibi ya,"


"Ok,"


Juno segera menuju ke ruang kerja Wibi, namun melihat Wibi tengah berdebat dengan klien membuat ia pun mengurungkan niatnya.


"Pokoknya aku gak mau tahu, aku mau kalian mengganti rugi atas kerusakan gedung kami yang membuat nyawa beberapa karyawan kami melayang. Aku tunggu sampai satu Minggu, jika kalian tak membayar uang ganti rugi maka jangan salahkan kami kalau akan membawa masalah ini ke jalur hukum," ancam pria itu saat keluar dari ruangan Wibi


Semu karyawan tampak memandangi Wibi yang terlihat stress menghadapi pria itu.


"Jangan khawatir Pak, kami akan membayar ganti rugi jika memang benar kami melakukan kesalahan dalam pembangunan gedung tersebut. Kami juga harus melakukan penelitian untuk kasus ini jadi tolong beri kami waktu," ucap Wibi


"Kalau begitu kami beri waktu dua minggu," jawab


"Baik,"


Wibi kemudian mengantar pria itu hingga pintu keluar.


Ia kemudian menghampiri Juno di mejanya.


"Gawat Jun, gedung yang belum lama kita bangun ambruk, dan mereka menuntut ganti rugi yang lumayan besar,"


"Loh kok bisa, memang siapa arsiteknya?" tanya Juno


"Kamu lah, makanya aku mau kamu menyelesaikan kasus ini,"


"Tapi kan aku sedang menyelesaikan projek jalan layang,"

__ADS_1


"Kalau Juno gak bisa biar gue aja Bi!" seru seorang pria menghampiri mereka


__ADS_2