ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN

ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN
Terimakasih sudah mau menerima ku apa adanya


__ADS_3

Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir tipis Zalika. Gadis itu hanya diam termangu menatap undangan di depannya.


Saat air matanya mulai menggenang di sudut netranya, Zalika buru-buru memalingkan wajahnya untuk mengusapnya.


Ada sesak dalam diri gadis manis berkebutuhan khusus itu. Bagaimana bisa ia merasakan pahitnya cinta sebelum ia mengenyam manisnya asmara.


Baginya Juno adalah pria yang pertama kali mengajarinya cinta dan Juno pula lah yang pertama kali mengajarkan kepadanya bagaimana sakitnya patah hati.


Pukul empat sore, Zalika sengaja izin untuk pulang lebih dahulu. Maklum hari itu Za sudah tak kuat untuk menahan sakit.


Tampak seorang pria terlihat begitu sibuk. Lelaki itu terlihat begitu ramah meskipun tangannya terlihat memegang beberapa piring dan juga sampah.


Zalika kemudian meminta maaf kepada pria itu sebelum duduk.


"Ngapain minta maaf neng?" ucap pria itu


"Maaf karena Za lupa belum bisa mencicipi makanan enyak,"


"Gak apa-apa sayang, kamu datang ke warung Enyak juga sudah seneng banget, jadi Enyak gak masalah,"

__ADS_1


Lelaki tua itu segera bangun dari duduknya dan memberikan sekuntum mawar merah kepadanya.


"Semoga besok kamu bisa tertawa lagi seperti dulu," ucap pria itu


"Makasih nyak," jawab Zalika jawab Z kemudian memeluknya erat.


Lelaki itu tak lain adalah Zaenal seorang pengusaha makanan yang suka dibantu oleh Zahra. Zalika yang memeng dekat dengannya sering datang ke tempat ini jika ia sedang ada masalah.


Zaenal selalu menghiburnya dan juga memberikan nasihat kepadanya. Za biasanya akan pulang jika ia merasa lebih baik.


Dan Zaenal sendiri yang akan mengantarnya pulang.


"Jangan bersedih jalani saja semuanya dengan penuh kesabaran. Insya Allah kamu akan dapat ganti yang lebih baik darinya,"


Zaenal bahkan menyuruhnya untuk melakukan sholat malam agar Zalika bisa meminta pertolongan dari sang Khaliq. Pukul Sepuluh malam Zaenal mengantar Zalika pulang ke rumahnya.


Disaat bersamaan keluarga Wibi sedang berkunjung ke rumahnya. Zahra langsung mencium tangan Zaenal saat lelaki itu memasuki kediamannya bersama Zalika.


"Alhamdulillah kebetulan orang yang ditunggu sudah datang!"

__ADS_1


Zalika terkejut saat seorang tamu berkata seperti itu. Melihat putrinya kebingungan Zahra kemudian menghampirinya dan memintanya untuk segera memberikan keputusan dengan lamaran Wibi.


"Kamu akan menerima atau menolaknya itu terserah kamu saja Za. Ibu tidak akan maraj atau ikut campur dengan keputusan mu. Hidupmu biarlah kau sendiri yang memutuskan," ucap Zahra


Zalika kemudian melangkah maju di temani sang ayah Gading dan juga Zaenal.


Ia menatap lekat kearah Wibi yang berdiri di sebelah sang ibu. Terlihat jelas jika Wibi memang sedang menunggu jawaban dari Zalika. Meskipun sebenarnya kedua keluarga mereka sudah memastikan mereka akan menikah namun Wibi tetap melakukan lamaran seperti pemuda lain dan meminta persetujuan Zalika.


Lelaki itu memang tidak mau terkesan terlalu memaksakan perjodohan itu dan mengekang Zalika. Baginya Za juga memiliki hak untuk menerima atau menolaknya. Karena dia juga punya hak bahagia.


"Setelah saya memikirkan dengan seksama, maka malam ini saya mantapkan hatiku untuk menerima Wibi untuk menjadi calon suamiku," jawab Zalika yang langsung disambut syukur dan kegembiraan dari kedua keluarga.


Wibi tak mengira jika Zalika akan menerima pinangannya, sehingga lelaki itu tampak meluapkan kebahagiaannya dengan memeluk erat gadis itu.


"Terimakasih Za sudah mau menerima lamaran aku, terimakasih sudah mau menjadi calon istriku dan menerimaku sebagai teman hidupmu,"


"Sama-sama, terimakasih juga sudah mau sabar menghadapi aku dan menerimaku apa adanya," jawab Za tersenyum padanya


END ...

__ADS_1


Terimakasih banyak kepada semua pembaca yang sudah setia membaca hingga akhir


__ADS_2