ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN

ZAHRA BERLIAN YANG TERABAIKAN
Bab 38


__ADS_3

Pernikahan Zahra dan Gading berlangsung meriah.


Meskipun Zalika berada dalam pengasuhan Dirga namun hari itu pengadilan mengizinkan gadis kecil itu mengikuti serentetan ceremony pernikahan ibunya.


Zalika begitu bahagia saat membawakan bucket bunga pengantin dan mengapit kedua mempelai menuju pelaminan. Rasanya ia begitu bahagia saat melihat kebahagiaan ibunya yang selama ini lebih banyak menderita karena memikirkan kebahagiaannya.


"Semoga kali ini ibu bahagia dan bisa memberikan aku adek kecil yang lucu," ujar Zalika membuat Zahra terharu mendengarnya


"Iya sayang, doakan saja mamah bahagia, untuk adek kecil yang kau inginkan Insya Allah mamah akan bekerja keras untuk mewujudkan keinginan mu itu. Semoga Tuhan memberikan kepercayaan kepada mamah untuk memiliki anak lagi," jawab Zahra


"Aamiin,"


Di momen bahagia itu keluarga Bahri datang dan memberikan selamat,


"Selamat Za, kau memang paling pandai dalam menggaet putra seorang konglomerat, tapi sayangnya meskipun kau menikahi dengan anak orang terkaya nomor dua tetap saja kau tidak akan bisa mendapatkan hak asuh Zalika," bisik Bahri


Zahra hanya menanggapi ucapan mantan mertuanya itu dengan senyum manisnya.


"Terimakasih atas doa dan kehadirannya," jawab Zahra dengan begitu dingin


Berbeda dengan kedua orangtuanya, Dirga memilih tidak menghadiri undangan pernikahan Zahra.


Pria itu justru memilih menghabiskan waktunya di bar dengan minum-minuman keras untuk menghibur susana hatinya yang begitu sedih.


Tentu saja Dirga begitu sedih saat tahu jika Zahra menikah dengan Dirga hanya untuk menenangkan hak asuh putrinya.


"Kenapa kau yang harus selalu berkorban, kenapa kau yang harus menderita. Harusnya kau memohon padaku, aku pasti akan mengembalikan Zalika padamu asalkan kau mau menjadi istriku lagi. Kau tahu... hidupku menjadi hancur semenjak kepergian mu. Aku tahu ini mungkin karma aku karena sudah menyia-nyiakan istri sebaik dirimu," celoteh Dirga


Bahri begitu murka saat mengetahui putra bungsunya mabuk-mabukan.


"Dasar berandal kecil, kenapa kau selalu membuat nama keluarga kita rusak, tidak bisakah kau sekali saja membuat keluarga mu bangga padamu!" seru Bahri

__ADS_1


"Bukankah ayah harusnya bangga karena aky bisa melahirkan anak genius seperti Lika, kenapa ayah tak pernah menghargai aku!" sahut Dirga


Bahri yang geram dengan jawaban putranya langsung menampar wajah Dirga.


"Zalika menjadi seperti itu bukan karena dirimu tapi karena Zahra, dialah yang sudah membentuknya menjadi seorang berlian, jadi jaga ucapanmu!" sahut Bahri


Dirga tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban ayahnya itu.


"Sekarang aku tahu kenapa kau mencoba merebut hak asuh Zalika dari Zahra," ucap Dirga menarik kerah baju ayahnya


Sebelum Dirga membuka mulutnya Bahri segera memanggil anak buahnya dan menyuruhnya untuk membawanya masuk ke kamarnya.


"Dasar anak tak tahu diri, bagaimana mungkin ia bersikap seperti itu padaku saat aku berusaha mewujudkan keinginannya,"


Pagi harinya Zahra begitu bersemangat menghadiri sidang pertama gugatan bandingnya.


Bahri terlihat ditemani oleh lima orang pengacaranya memasuki ruangan sidang. Pria paruh baya itu tak membawa putrinya membuat Zahra sedikit sedih karena ia sangat berharap untuk bertemu dengannya di sidang pertamanya ini.


Melihat Zahra yang murung membuat Gading langsung memeluknya.


Zahra mengangguk pelan.


Ia kemudian segera duduk disamping pengacaranya saat sidang di mulai.


Pengacara Keluarga Bahri tetap kekeh mempertahankan hak asuhnya karena menilai Zalika akan lebih terjamin jika dia asuh oleh ayahnya.


Namun Zahra langsung mengajukan keberatan dan memberikan bukti-bukti jika Zalika sangat tidak nyaman tinggal dengan ayahnya.


Ia mengatakan jika putrinya sangat takut dengan neneknya dan ia juga mengatakan jika Zalika lebih nyaman bersamanya.


Ia bahkan membahas tentang kasus kaburnya Zalika saat ia berada di kediaman keluarga Bahri. Keluarga itu bahkan tak ada niat mencarinya justru mereka lebih fokus mengurus urusan hak asuh Zalika daripada mencari keberadaannya yang menghilang waktu itu.

__ADS_1


Zahra juga mendatangkan Jumi sebagai saksi yang mengetahui bagaimana Zalika takut kembali pulang ke rumahnya karena ia takut jika kakek dan neneknya akan menghukum ibunya.


Ia juga sengaja mendatangkan saksi ahli yaitu seorang psikolog yang menyarankan agar Zalika di asuh olehnya karena riwayat penyakit yang di deritanya. Sebagai anak yang mengidap ADHD Zalika memang tidak bisa sembuh seratus persen karena sewaktu-waktu penyakitnya bisa kambuh jika tidak mendapatkan perawatan yang benar. Salah makan, pola asuh yang tidak benar akan membuat anak itu kembali ke menjadi pribadi yang sensitif dan hiperaktif.


Meskipun para saksi sudah membuktikan jika Zalika lebih nyaman tinggal bersama Zahra tetap saja pihak hakim merasa jika keluarga Bahri yang lebih layak mengasuhnya.


Alasannya karena Zalika mengidap ADHD hingga memerlukan perawatan yang membutuhkan banyak uang. Zahra langsung membantah jika anak ADHD itu membutuhkan biaya yang banyak , ia mengatakan justru yang dibutuhkan oleh anak ADHD adalah perhatian dan kasih sayang. Tentu saja keluarga Bahri tidak dapat memberikan itu karena mereka tidak bisa menemani Zalika setiap hari karena sibuk kerja.


"Meskipun klien kami tidak bisa menemaninya setiap saat, mereka bisa mendatangkan seorang terapis handal yang akan menyembuhkan Zalika," jawab Pengacara kekuarga Bahri


Zahra tersenyum sinis mendengar jawaban sang pengacara.


"Apa kalian tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh seorang pengidap ADHD untuk melakukan terapi?" ucap Zahra balik bertanya


Semua orang langsung terdiam mendengar ucapan wanita itu. Zahra kemudian bertanya kepada Pak Mul selaku terapis Zahra.


"Satu sampai dua jam," jawab Pak Mul


"Kalian dengar kan, seorang terapis hanya akan menemaninya paling lama dua jam saja, tapi seorang Ibu akan menemaninya seharian, bahkan mereka rela untuk berhenti kerja demi kesembuhan putrinya. Kalau sudah seperti ini menurut anda apakah Zalika sembuh dari ADHD karena terapis nya apa karena pengorbanan ibunya?" tanya Zahra membuat semua orang terdiam


"Tidak dipungkiri jika anakku bisa sembuh karena bantuan seorang terapis, tapi jangan lupa jika tidak ada peran dan kerjasama dari orang tua tetapi saja tidak akan bisa menyembuhkannya," imbuh Zahra


"Tapi tetap saja Zalika akan lebih baik tinggal bersama ayahnya yang secara ekonomi lebih mapan," tandas pengacara keluarga Bahri


"Jika ini tentang kekayaan baiklah sekarang kita boleh hitung-hitungan," tantang Zahra


Wanita itu kemudian membagikan salinan kertas yang berisi kekayaan suaminya Gading .


"Yang kalian pegang itu adalah jumlah kekayaan suami saya sendiri belum termasuk kepemilikan saham di Soeharso corporation dan juga warisan dari orang tuanya. Sedangkan lembar kedua adalah jumlah aset mantan suami saya semuanya termasuk saham dan warisan yang nanti di terima dari orang tuanya, silakan bandingkan mana yang lebih banyak?" ucap Zahra


"Jangan mengada-ada, memangnya Gading Soeharso ini siapa sampai memiliki kekayaan yang begitu banyak melebihi orang tuanya," celetuk Bahri

__ADS_1


"Mungkin anda perlu memperluas wawasan bisnis anda Tuan Bahri, asal anda tahu jika Gading Soeharso adalah pemilik dan Founder Bimbel Ruang Belajar yang merupakan perusahaan jasa terbesar di Indonesia," jawab Zahra membuat semua orang di sana tercengang


"Sekarang silakan kalian bandingkan secara ekonomi lebih layak mana aku atau Dirga?" imbuh Zahra


__ADS_2